
Yuri membuka dompetnya, dan tanpa sengaja menjatuhkan black card yang tadi pagi diberioan oleh Deo.
"Ri, kamu punya black card?" tanya Chia.
"Punya, dong?"
"Sejak kapan?"
Deo, Gara dan Qavi yang duduk tidak jauh dari situ ikut mendengarkan pembicaraan para gadis.
"Sejak ada seseorang yang ngefans banget sama aku. Dia ngasih ini, udah aku tolak, tapi dia maksa."
Kini giliran Deo yang mulutnya komat-kamit.
Ngefans? Maksa?
Kan dia yang tadi pagi minta dinafkahi dan melakukan tipu daya.
"Hati-hati loh, dikasih sesuatu sama orang yang enggak jelas. Nanti kalau dia minta ganti rugi atau imbalan lain, gimana?"
Benar juga, kan aku sudah menafkahi dia secara lahir, berarti harus memberi nafka batinnya juga, dia enggak boleh nolak.
Ahh, indahnya duniaaa ...
Yuri yang sempat melirik pada Deo, melihat pria itu sedang tersenyum devil.
Mereka sedang melakukan serangan dengan cara telepati.
Apa, lo?
Apa, lo?
Enggak boleh durhaka sama suami!
Enggak boleh dzolim sama istri!
Maju lo kalau berani!
Ayo, siapa takut!
Seperti itulah kira-kira percakapan hati mereka.
Yuri mengunyah baksonya dengan brutal, sedangnkan Deo menusuk ciloknya dengan sadis, membuat para sahabat mereka bingung dengan tingkah laku mereka, bagai suami istri yang sedang melakukan perang dingin.
"Liburan kenaikan kelas nanti, kita liburan ke Korea, yuk? Kali aja kita dapat jodoh di sana," ajak Chia.
"Benar juga, mungkin saja kita dapat jodoh di sana," jawab Airu yang hanya diangguk-angguki oleh Yuri.
Heh, lupa apa, kalau jodoh lo itu sudah ada di depan mata!
"Lo kenapa, sih, De? Dari tadi tuh mulut komat-kamit terus."
"lagi baca mantra kali, dia."
Sedangkan Yuri memaju mundurkan bibirnya sambil berkaca.
"Heh, buasa aja napa tuh bibir, belum pernah disosor, ya?" tanya Deo.
"Kenapa? Bibirku seksi, ya?" tanya Yuri sambil mengedipkan matanya.
"Seksi apaan, doer begitu."
"Dasar norak, pasti belum pernah ciuman kan sama cewek?" tanya Chia.
"Memang kalian sudah pernah ciunan sama cowok?" tanya Gara.
"Ya belum, dong. Kita bertiga kan cewek limited edition."
Seketika Deo menghela nafas lega.
Lega aku, setidaknya aku enggak kalah start duluan. Masa iya, pengalamannya lebih banyak dari pada aku yang masih perjaka tulen dari atas sampai bawah.
.
.
.
Hari Minggu, waktunya bermalas-malasan. Dua anak muda yang statusnya suami istri namun masih perawan dan perjaka itu tidur berpelukan dalam balutan selimut.
Jika yang satu sedang bermimpi dipeluk oleh Lee Min Ho, maka yang satu lagi bermimpi dig*epe-gre*e oleh seorang cewek yang menurutnya mirip dengan Yuri. Membuatnya setengah mendesah akibat mimpi setengah basah itu.
"Yuri, Deo, kenapa belum bangun? Lagi bikin baby ya?" teriak Mina.
Mina mendekatkan telinganya di pintu.
__ADS_1
Ah, enggak kedengaran, enggak seru.
Mina mencebikkan bibirnya, lalu kembali ke ruang makan.
Di dalam kamar, tangan Yuri mulai bergerilya ke dada bidang Deo. Sedangkan Deo semakin mengeratkan pelukannya, dan sebelah tangannya meremas bokong montok Yuri.
"Deooo ... Yuriiii ... masih belum puas bikin bayinya?"
Mina kembali mengetok pintu kamar Deo, membuat dua orang itu membuka mata mereka.
Merasa ada tangan yang sedang meremas bokongnya, Yuri langsung membelalakan matanya.
"Aaaa ...."
Deo langsung membekap mulut Yuri.
"Jangan teriak-teriak, bau naga, tahu."
"Naga, naga, naga lo tuh, yang bangun."
Deo mengikuti arah pandangan mata Yuri ke juniornya, membuat wajah Deo memerah malu (malu-maluin).
"Deooo ... Yu-"
"Iya Mi, iya, sabar!" putus Deo sebelum mommynya itu kembali memanggil dia dan Yuri.
"Yuri jangan sampai kecapean, nanti dede bayinya gagal dibentuk."
"Cape apaan, cuma tidur diang, kok," gumam Dei pelan.
.
.
.
Deo dan Yuri ke ruang makan bersama.
"Aduh, pengantin baru, habis basah-basahan, ya?"
"Iya lah, Mi. Kan habis mandi."
"Mandi bareng, ya?"
Mandi bareng?
Mereka langsung berimajinasi, karena kalau tidak diayangkan, sulit untuk memahaminya, begitulah pikiran dua murid cerdas namun kadang polos tapi kebanyakan mesum, itu.
Deo langsung senyum-senyum sendiri, sedangkan Yuri terkikik pelan.
"Ko gue ngebayangin punyanya cebol, ya?" gumam Yuri namun masih bisa didengar.
Sontak hal itu membuat Mina dan Ray tertawa geli.
"Cebol, Dad, kata menantu kita," Mina mengusap sudut matanya yang berair.
"Cebol, cebol. Punya lo tuh, yang rata."
"Sembarangan lo bilang rata. Lo enggak tahu apa, berapa ukuran bra yang gue beli? Ukurannya, tuh ...."
Belum sempat Yuri menyelesaikan ucaoannya, mulutnya kembali dibekap oleh Deo.
"Jaim dikit napa, jadi menantu. Enggak malu apa, ngomong begitu di depan mertua?"
Yuri langsung melihat di depannya ada kedua mertuanya.
"Hehehe, jangan ilfil, ya, Mom, Dad, sama Yuri."
"Yuriii, mommy happy banget kamu tinggal di sini."
"Kalian yang happy, kami yang kesepian," ucap Ara yang baru tiba bersama Marteen.
"Mami, Papi, pasti kangen ya, sama aku?"
"Min, kita ke mall, yuk!" bukannya menjawab pertanyaan Yuri, Ara malah mengajak Mina ke mall.
"Ayo ayo ayo."
Ini lagi, bukannya Mina yang menjawab, tapi Yuri.
.
.
.
__ADS_1
Di mall
Marteen dan Ray berjalan di belakang Ara dan Mina yang sibuk memilih lingerie. Bukan untuk Yuri, tapi untuk diri mereka sendiri.
Sedangkan Yuri dan Deo sudah kabur lebih dulu, karena sebagai anak, mereka sudah hapal tabiat orang tua mereka yang selalu memilih toko pakaian dalam sebagai tujuan utama setibanya di mall.
"Deo, belikan akh es krim, dong." Yuri berkata dengan lembut.
"Jangan sok imut, deh."
Namun langkahnya tetap menuju stand es krim kesukaan Yuri.
"Beli sepatu baru, yuk."
Di dalam toko tas, Deo dan Yuri melihat pasangan muda yang istrinya lagi hamil.
"Yah, kita beli perlengkalan bayi dulu, yuk."
Sang suami mengangguk sambil mengusap perut buncit istrinya.
Yuri dan Deo jadi baper.
"Ri, lo enggak mau manggil gue Ayah, gitu?"
"Emang lo ayah, gue?"
"Panggil Yang, deh."
"Yang Yang Yang Yang, pala lo peyang?"
"Hubby, deh?"
"Enggak ah, geli."
"Elah, nolak mulu. Dah panggil gue papa, nanti lo gue panggil mama. Sekalian latihan kalau nanti kita punya anak."
"Tapi uang jajan nambah, ya?"
"Dasar istri matre!"
"Gak papa dong, matre ke suami sendiri, dari pada suami orang."
"Dah, pokoknya panggil papa."
Mereka sibuk memilih sepatu.
"Papa, mama mau sepatu tang ini, ya?" teriak Yuri.
"Iya, terserah mama aja, deh," balas Deo berteriak, karena jarak mereka agak jauh.
"Dasar anak muda jaman sekarang, masih sekolah saja sudah panggil papa mama papa mama. Lulus sekolah saja belum, udah kaya suami istri. Mau jadi apa bangsa ini, kalau anak mudanya seperti ini," cibir seorang ibu-ibu dengan cukup keras juga.
Lah, kan kami memang sudah nikah.
Ucap Yuri dan Deo, namun mereka hanya bisa bicara dalam hati.
Mata orang-orang kini beralih pada mereka. Tapi memang dasar enggak tahu malu, mereka malah tambah memperkeruh suasana.
"Wah, papa, lihat nih, ada sepatu bayi. Gemes deh, beli dong, Pap."
"Mama ngidam, ya?"
"Kayanya sih, gitu."
"Ya sudah, mama beli aja toko ini sama isi-isinya, dari pada kita repot bolak balik belanja."
"Ayo Mam, kita makan dulu."
Mereka bergandengan tangan meninggalkan toko itu.
"Lo, sih."
"Loh, ko' gara-gara gue?"
"Kan lo yang nyuruh manggil papa mama papa mama'an. Geli, tahu. Orang-orang kan jadi mikir kita alay."
Deo hanya cengengesan saja.
"Kamu juga tadi malah manas-manasin mereka."
"Boar mereka tambah gemes."
"Ya sudah, kamu manggil aku hubby aja, deh."
Yuri manyun, membuat Deo jadi pengen nyosor.
__ADS_1