
Mereka memanjakan diri berlibur di Bali. Deo selalu mengikuti Nuri ke mana saja istri perawannya itu pergi, takut diculik bule.
Teman-teman mereka hanya berpikir bahwa di mana ada Tom, di situ ada Jerry. Yuri juga membeli beberapa barang untuk oleh-oleh, dan yang dia janjikan kepada teman-temannya. Tentu saja menggunakan uang suami perjakanya.
Saat ada maunya, gadis itu menggandeng tangan Deo dengan mesra, begitu urusannya selsai, langsung dihempaskan begitu juga dengan mata berbinar melihat deretan roti sobek berwarna coklat dan mata biru, hidung mancung.
"Lihat saja, nanti aku perawanin baru tahu rasa!"
"Yang ada, kamu duluan yang diperjakain sama Yuri," celetuk Gara, yang tidak sengaja mendengar perkataan Deo.
"Siapa takut, memang itu yang aku harapkan!"
"Dasar sedeng!"
Tibalah mereka di malam terakhir di Bali.
Para murid sudah bersiap dengan jas dan gaun, terlihat cantik dan tampan. Penampilan memang bisa mengubah apa pun.
Yuri keluar dari kamarnya dengan menggunakan gaun putih berbuntut panjang, juga menggunakan tiara kecil di kepalanya.
Begitu juga dengan Deo, yang sudah keluar dengan jas berwarna putih dengan dasi kupu-kupu berwarna hitam, dan celana panjang putih.
"OMG, kalian kompak banget, kaya pengantin tahu, enggak!"
Deg
Yuri dan Deo berpandangan, lalu melihat dekorasi ruangan yang penuh dengan lampu-lampu juga bunga-bunga dan pita.
Tidak hanya itu, makanan yang ada bahkan prasmanan, juga beberapa gubuk kecil tempat jenis makanan yang lain, persis seperti pesta pernikahan.
__ADS_1
Mereka mendekat, lalu bisik-bisik.
"Ini bukan acara pernikahan kita, kan!"
"Bukan kayanya, tapi sepertinya iya."
"Ish, pokoknya jangan sampai ini acara resepsi pernikahan kita."
"Kenapa, kamu takut mereka jadi tahu kalau kita sudah menikah?" Entah kenapa Deo menjadi sedih, apa Yuri belum bisa menerima dia menjadi suami?
Lalu kapan?
Kapan dia bisa belah duren?
Ternyata itu yang membuat si koplak Deo sedih.
"Ish, bukan itu."
"Terus?"
"Mereka kan enggak bawa amplop, bego! Rugi lah kita, masa ngasih makan gratis. Kalau enggak bawa amplop, bawa kado, kek!"
Deo mendengkus, dia kira apa yang membuat Yuri tidak suka.
Padahal kan, mereka sama-sama eror. Pikiran mereka memang di luar batas kewajaran manusia waras.
Entahlah, Yuri itu dibilang baik, ya baik. Dibilang pelit, ya pelit.
Tahu sendiri kan sudah berapa banyak uang yang dia habiskan untuk memberikan bekal saat masih di Jakarta untuk para guru dan teman-temannya. Juga berapa banyak uang yang dia habiskan untuk menjajani mereka, baju juga makanan.
__ADS_1
Sebagian memang uang dari Deo, sebagian lagi uang Yuri, yang tentu saja bukan murni uangnya sendiri. Karena dia sudah merampok keluarganya juga keluarga Deo.
"Kalian bisik-bisik apa, sih?" Yuri dan Deo langsung berbalik badan, dan melihat Gara, Waving, Chia dan Airu sedang mengawasi mereka.
"Lagi merencanakan honeymoon dan program bayi kembar."
"Tuh kan, aku bilang juga apa. Percuma nanya sama pasangan musuh tapi mesra teman tapi galak itu."
"Udah ah, aku mau makan saja," ucap Chia.
"Tunggu, aku juga mau. Masa aku yang punya hajatan tapi dapat makanan sisa."
"Ya Allah, kuatkan hamba-hamba-Mu ini dari kenarsisan dan tidak tahu malu sahabat hamba."
Mereka berenam akhirnya mencari makan. Seperti remaja seusia mereka ... apa saja dicoba, meski perut sudah kenyang.
Kan prinsip hidup mereka jangan mau rugi.
.
.
.
.
Masih disimpan di favorit enggak, sih?
Kasih vote, hadiah dan like, ya. Tqyuuuuđ
__ADS_1