Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
41 Bercerai?


__ADS_3

"Kalian harus lebih rajin belajar lagi. Ingat, sebentar lagi kalian ujian, setelah itu ada yang kuliah, juga bekerja ...."


Yuri mendengarkan penjelasan wali kelas mereka sampai terantuk-antuk. Dia yang awalnya sudah mengantuk, semakin mengantuk lagi.


"Rajin-rajinlah belajar kelompok, karena kerja sama tim itu juga nantinya akan kalian butuhkan saat bekerja nanti ...."


Berkali-kali Yuri menguap, rasanya dia ingin membaringkan tubuhnya di atas kasur, tanpa Deo.


Brak


"Yuri, kamu mau tidur atau mau belajar?"


"Tidur!" Yuri menjawab itu dari dalam lubuk hatinya.


Mencoba menahan sabar, pak guru kembali melanjutkan.


"Bersatu kita teguh, bercerai kita?"


"Duda/janda," jawab Deo dan Deo bersamaan.


"Yuri, Deo, kalian ini bisa serius tidak, sih?"


"Memangnya salah kita apa?" tanya Yuri dengan polos.


"Enggak tahu. Padahal jawaban kita benar, kan?"


"Kalau kita cerai, kamu jadi?"


"Duda."


"Aku jadi?"

__ADS_1


"Janda?"


"Anak kita jadi?"


"Kehilangan induknya."


Ya Allah, berikanlah hambu-Mu ini kesabaran. Satu tahun lagi saja, sebelum semua rambutku berubah jadi putih.


Itulah hebatnya para guru, meskipun kesal dan ingin menjitak, tapi masih bisa mengendalikan diri, walaupun dengan susah payah.


Jika murid lain tertawa, lain dengan Emily yang merasa cemburu. Dia merasa hubungan Deo dan Yuri terlihat berbeda.


Dia cemburu, benar-benar cemburu dengan kedekatan mereka.


"Jadi mulai hari ini, kalian buatlah kelompok untuk belajar bersama. Diskusikan semua mata pelajaran bersama-sama. Mau saya yang pilihkan atau pilih sendiri kelompoknya?"


"Terserah bapak saja."


Apalagi yang menjawab itu semua muridnya, kan dia bingung, takut dikeroyok dan dianggap enggak peka, padahal sudah sekian tahun saling mengenal.


"Yuri, kamu saja yang atur!"


Tugas itu akhirnya dialihkan kepada Yuri. Deo langsung berbisik di telinga Yuri.


"Pokoknya kita harus satu kelompok."


"Iya, tapi uang jajan tambah, ya?"


Deo mengangguk, tambahkan saja seribu, kan yang penting tambah.


Sudah pasti Yuri bersama Chia, Airu, Deo, Gara dan Qavi.

__ADS_1


"Kenapa kita tidak pilih sendiri saja?" protes Emily.


Tuh kan benar, untung saja pak guru sudah menyuruh Yuri yang melakukannya. Tapi kok tumben juga ada yang protes? Biasanya mereka akan terima-terima saja, apalagi kalau Yuri yang melakukannya.


Pak guru langsung melihat siapa yang berani protes.


Ternyata si murid baru.


"Tadi pas ditanya mau pilih sendiri atau dipilihkan, kenapa engga langsung bilang saja mau pilih sendiri?" tanya Yuri.


"Tahu nih, ribet."


Semua mata langsung melihat Emily. Emily yang dilihat seperti itu, merasa dikeroyok.


"Ya sudah, kamu mau sama siapa?" tanya Yuri.


"Aku mau sama Deo."


Hening ....


Yuri langsung melihat Deo dengan cemberut.


"Enggak mau, aku mau sama Yuri, Chia, Airu, Gara, Qavi, atau sama yang lain juga enggak apa, asal jangan sama kamu."


Tidak ada basa-basinya, Deo.


"Memangnya kenapa sama aku?"


"Kamu orangnya ribet!"


Pak guru berdeham.

__ADS_1


"Kalian bisa atur saja nanti kelompoknya mau bagaimana. Ingat, tujuan utama dari kerja kelompok ini, selain belajar tentu saja adalah menjalin kerja sama tim yang baik, jadi jangan bertengkar ya, anak-anak. Harus akur dengan teman sendiri. Ingat, nanti kalau di dunia kerja, belum tentu kita selalu satu tim dengan teman dekat kita sendiri. Jadi, anggap saja ini latihan."


__ADS_2