
Yuri sudah mulai membaik, tapi dia sekarang lebih banyak diam. Deo selalu berusaha menghiburnya, begitu juga dengan sahabat-sahabat mereka yang berusaha menghiburnya.
"Aku enggak mau masuk sekolah lagi."
"Kenapa?"
"Aku malu. Pasti teman-teman sekarang sudah tahu kalau aku hamil, terus pendarahan. Mereka pasti mikir kalau aku ini hamil di luar nikah."
"Enggak lah. Mereka itu mikirnya kamu lagi haid, terus bocor. Kan kamu juga memang sudah biasa sering keram perut, satu kelas juga tahu semua tentang sakit bulanan kamu itu." Chia dan Airu terus membujuk Yuri, agar sahabat mereka itu mau kembali sekolah dan kembali ceria.
"Tapi ...."
Belum sempat Yuri bicara, pintu terbuka lebar.
"Woy, ketua OSIS!"
Seluruh teman satu kelasnya langsung masuk, tidak peduli apakah ruangan itu cukup atau tidak.
Rizki langsung mengambil jeruk dari atas nakas, dan memakannya.
"Woy, data g ke sini, bukannya bawa buah-buahan, malah makan yang ada."
"Tamu kan harus disuguhi makanan dan minuman."
"Rizki sekarang pintar ya, bisa saja jawabannya."
__ADS_1
"Kan belajar dari suhu kita."
"Yuri, kapan masuk sekolah? Sepi banget enggak ada kamu."
"Iya, aku kangen pengen makan cilok."
Senyum di wajah Yuri langsung mengembang. Ternyata teman-temannya tidak membullynya, atau memang mereka tidak tahu.
Deo bernafas lega. Bagaimana kalau nanti istrinya itu jadi trauma? Dia berjanji pada dirinya sendiri, kalau akan lebih menjaga Yuri. Tidak akan lagi membiarkan Yuri terluka, apalagi sampai kehilangan calon anak mereka untuk yang kedua kalinya.
Keluarga mereka juga pasti tentunya sedih, tapi tidak mau menunjukkan kesedihan itu pada Deo dan Yuri. Mereka lah yang harus memberikan semangat pada Yuri dan Deo.
Deo menyuapi Yuri buah-buahan yang dia potong sendiri. Sikap Deo itu membuat yang lain, kecuali sahabat-sahabat mereka heran. Kalau dipikir-pikir, sejak Yuri sakit, Deo memang tidak pernah masuk sekolah juga.
"Bagaimana gue bisa sekolah, kalau separuh jiwa gue sedang sakit."
"Maksudnya Deo, dia gila?"
Deo mendelik kesal pada Rizki, sedangkan temannya yang lain terlihat cemas.
"Maksudnya, jantung hati gue sedang sakit."
"Ya ampun, kamu punya penyakit jantung dan penyakit hati."
"Ya Tuhan, kenapa gue punya teman pada bodoh semua. Terserah kalian saja, lah!"
__ADS_1
Makanan dan minuman yang teman-teman mereka bawa, habis oleh mereka sendiri, malah sekarang minta makan.
"Nasi Padang, dong."
"Ayam geprek."
"Nasi liwet."
"Kalian menjenguk orang sakit, tapi lebih menyusahkan dari pada yang sakit!"
Mereka hanya cengar-cengir saja. Tapi Deo tetap memesan makanan untuk satu kelas.
Tidak ada yang menyadari kalau Emily tidak ada di sana, karena dia memang tidak pernah dianggap dalam kelas itu.
"Kita keluarkan saja Emily dari kelas kita."
Dan mereka baru sadar, kalau hanya gadis itu saja yang tidak ada.
"Coba lihat, dia juga tidak datang. Sudah enggak pernah ikut patungan, setiap ada yang sakit enggak pernah mau ikut membesuk, punya salah enggak mau minta maaf. Pantas saja dia tidak punya teman."
"Iya tuh, enggak kompak banget orangnya. Mau enaknya saja. Enggak punya solidaritas sama sekali."
"Pindahkan saja dia ke kelas lain, enggak cocok masuk kelas kita."
Mereka melakukan demo di dalam kamar rawat Yuri, memangnya Yuri guru atau kepala sekolah?
__ADS_1