Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
22 Hancurnya Persahabatan


__ADS_3

"By, aku bebaskan kamu berbuat ssesuka kamu, aku pun bebas melakukan apapun yang aku mau, tanpa terkecuali. Kamu adalah kamu, aku adalah aku, tidak bisa menjadi kita."


Freya meninggalkan mereka dengan tatapan kosong dan hati bergemuruh.


"Kini saatnya kita berpisah jalan. Sudah aku bilang, aku akan selalu ada di sisi Freya apapun yang dia lakukan. Jangan lagi bersikap munafik, dan jangan lagi mengintilin aku dan Freya ke mana pun kami pergi. Say goodbye to friendship!"


Nania meninggalkan mereka dan menyusul Freya dengan berlari.


Hening ... dengan segala pikiran dan hati yang porak poranda.


"A ... aku tidak akan memilih siapa pun. Sebaiknya kalian juga instropeksi diri. Nuna, kalau memang persahabatan kita sejati, pasti ada jalan untuk kita kembali bersama. Permisi!"


Aruna meninggalkan mereka, tidak menyusul Freya dan Nania tapi menuju tempat lain.


Marcell, Vian dan Ikmal saling menatap, haruskah mereka juga meninggalkan Arby? Walau bagaimana pin Arby adalah sahabat mereka, bukan Freya. Tapi mereka tahu bahwa Arby lah yang salah.


"Ck, kamu lihat kan Ar, sekarang semuanya jadi boomerang untuk kamu. Kamu harus tegas Ar."


"Mal ...." Vian mencoba menengahi, tidak ingin persahabatan mereka juga ikut rusak seperti Freya cs.


"Gregetan aku sama dia."


Arby meninggalkan mereka, bukan untuk melepaskan persahabat, tapi menenangkan diri. Siapa yang mengira kemarin Freya melihatnya di mall bersama Nuna? Membuat semuanya menjadi kacau.


Sedangkan Nuna, gadis galak itu menjadi kacau, air matanya perlahan mengalir.


🎶 Dulu kita sahabat, teman begitu hangat


Mengalahkan sinar mentari


Dulu kita sahabat, berteman bagai ulat


Berharap jadi kupu - kupu


Kini kita berjalan berjauh - jauhan


Kau jauhi diriku karna sesuatu


Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan


Namun itu karna ku sayang


Persahabatan bagai kepompong


Mengubah ulat menjadi kupu - kupu


Persahabatan bagai kepompong


Hal yang tak mudah berubah jadi indah


Persahabatan bagai kepompong


Maklumi teman hadapi perbedaan


Persahabatan bagai kepompong


Na na na na na


Dulu kita sahabat, teman begitu hangat

__ADS_1


Mengalahkan sinar mentari


Dulu kita sahabat, berteman bagai ulat


Berharap jadi kupu - kupu


Kini kita berjalan berjauh - jauhan


Kau jauhi diriku karna sesuatu


Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan


Namun itu karna ku sayang


Persahabatan bagai kepompong


Mengubah ulat menjadi kupu - kupu


Persahabatan bagai kepompong


Hal yang tak mudah berubah jadi indah


Persahabatan bagai kepompong


Maklumi teman hadapi perbedaan


Persahabatan bagai kepompong


Kepompong 🎶


🍃🍃🍃


Freya tidak pulang ke rumah Arby, dia menginap di kontrakannya. Ponselnya dimatikan agar tidak ada yang mengganggu.


Freya, rambutnya yang biasanya hitam panjang, lurus dan dikuncir kuda, kini berubah menjadi coklat dan bergelombang bahkan dibiarkan tergerai. Bahkan ada tindik kecil di kupingnya.


Freya melewati Arby, Marcell, Vian dan Ikmal, karena memang kelasnya harus melewati kelas cowok-cowok itu.


Mata keempat cowok itu tak berkedip. Penampilan Freya memang terlihat lebih dewasa dan tetap cantik. Namun yang membuat mereka heran adalah, ini tidak seperti Freya yang mereka kenal. Bahkan penampilannya sedikit berantakan. Bajunya tidak dimasukkan, dasinya tidak rapih, almamaternya tidak dipakai.


Terdengar suitan dari cowok-cowok kakak kelasnya.


"Gila, tambah cantik banget si Freya."


"Sudah punya cowok belum, ya?"


"Sudah punya pacar juga, aku tunggu putusnya."


"Jangankan pacar, sudah punya suami juga aku tunggu jandanya."


Suara tawa memenuhi koridor itu.


Arby menghela nafas dengan tangan terkepal.


Di kelas Freya


Empat orang gadis yang biasanya tertawa bersama kini tak saling menegur sapa, kecuali Freya dengan Nania. Mereka masih duduk berdampingan dan mengobrol. Sedangkan Aruna, gadis itu memilih pindah tempat duduk, tidak lagi bersama Nuna.


Kejadian di kantin kemarin tentu sudah tersebar, meskipun tidak secara rinci. Nuna kini terkenal dengan julukan perebut pacar orang. Sedangkan Arby, pria yang banyak dipuja-puja itu kini dianggap sebagai cowok playboy berkedok cowok kalem yang munafik dan merusak persahabatan dua orang.

__ADS_1


"Kamu ke salon kok enggak ngajak-ngajak sih, Ya?" tanya Nania. Dia tidak berkomentar apa-apa soal penampilan Freya yang kini berubah. Sebelum Freya menjawab, bel masuk berbunyi.


.


.


.


"Freya!"


Freya tersentak kaget, matanya mengerjap-ngerjap. Semua murid yang ada di kelas itu menatapnya. Bagaimana bisa seorang Freya, murid yang terkenal cerdas, disiplin dan berprestasi juga cantik malah tidur dinsaat guru sedang menjelaskan.


"Kamu sakit?" tanya pak Agung, guru kimia.


"Iya, pak."


"Ya sudah, kamu ke UKS saja."


Tanpa perintah dua kali, Freya langsung meninggalkan kelas itu. Nania menatap heran punggung Freya. Selama ini sahabatnya itu tidak pernah mau ke luar kelas saat jam pelajaran walau kurang sehat, apalagi sampai ketiduran. Dia tahu Freya sering tidur larut malam, lalu bangun jam tiga.


Jam istirahat berbunyi. Nania menyusul Freya ke ruang UKS, namun gadis itu tidak ada di sana. Kakinya melangkah ke kantin, dia melohat Freya yang duduk sambil menikmati jus mangga.


Hari ini, untuk yang pertama kalinya, empat gadis itu tidak berada di meja yang sama. Empat pria itu menatap mereka dengan pandangan yang berbeda.


Tidak ada lagi gelak tawa.


Tidak ada lagi teriakan heboh.


Tidak ada lagi adu mulut antara tim cewek dengan tim cowok.


Semua hancur dalam satu hari.


Freya yang menampilkan wajah judes dengan sorot mata tajam saat matanya bertemu pandang dengan mata Arby.


Nania yang selalu setia di sisi Freya, ikut menatap sengit pada keempat cowok itu. Belum hilang rasa muaknya pada sang mantan, kini sahabat terbaiknya juga disakiti oleh sahabat dari si mantan. Membuatnya semakin muak.


Aruna yang berkali-kali menghela nafas, duduk di tempat lain sambil matanya melirik sana-sini, antara Freya, Arby dan Nuna.


Nuna, yang terlihat masa bodo dengan bisik-bisik dan berbagai tatapan kasihan juga mencela, namun matanya sesekali melihat ke arah Arby.


Arby, yang menatap tajam pada gadis yang statusnya menjadi istrinya, namun hanya sebuah status.


Marcell, yang menatap Nania juga bisa merasakan aura permusuhan yang semakin kuat dari mantannya itu.


Vian, yang bingung untuk berkata. Mau memberi nasihat, tapi dia orang luar, apalagi dia statusnya belum menikah. Jangankan menikah, pacar saja dia tidak punya, bisa-bisa nanti dia dianggap mencampuri urusan rumah tangga orang dan sok tahu.


Ikmal, yang jujur saja, dia lebih merasa iba pada Freya dari pada Arby yang menjadi sahabatnya.


Mico datang ke kantin, dia melihat pemandangan yang cukup aneh. Bukan hanya penamoilan Freya saja, tapi jarak antara Freya dan sahabat-sahabatnya membuat dia berpikir bahwa telah terjadi sesuatu pada gadis itu.


"Hai cantik, boleh duduk di sini, gak?" tanyanya sambil tersenyum dan mengedipkan mata pada Freya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


❤Tinggalkan jejak, biar aku semangat nulisnya❤


__ADS_2