Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
28 Kapal Bergoyang


__ADS_3

Mereka kini sudah ada di dalam kapal, namun belum berlayar. Yuri senyum-senyum sendiri membayangkan adegan Titanic, di mana tokoh peremluan berdiri di ujung kapal dan berciuman dengan tokoh laki-laki.


"Hihihi ...."


"Ih, Yuri! Jangan ketawa seperti itu, kaya Kunti tahu, gak? Lagian apa sih, yang lucu?"


"Eh, di kapal ini kan banyak turis asingnya. Ayo kita lihat-lihat, kali saja dapat rejeki di sini."


Namun sebelum Yuri melangkahkan kakinya, baju bagian belakangnya sudah ditahan oleh seseorang.


"Enggak boleh ke mana-mana. Kamu harus tetap dalam pandangan mataku!"


Siapa lagi yang bicara seperti itu kalau bukan Deo.


"Jangan genit-genit, lupa apa, ada suami di sebelahmu," bisik Deo di telinga Yuri.


Yuri hanya memasang wajah polosnya. Suara kapal yang akan berlayar terdengar, kapal itu perlahan bergerak. Bagi yang mabuk laut, hal itu sudah membuat pusing. Yuri mulai memakan rujak yang diberikan oleh Deo. Rasa asam dan pedas dari rujak itu sangat menyegarkan tenggorokan. Angin laut berhembus, dengan disertai riak gelombang yang cukup besar.


Pacarku memang dekat, lima langkah ... dari rumah ....

__ADS_1


Daripada sakit hati, lebih baik sakit ... hati iniiii ....


Lagu dangdut sahut-sahutan memekakkan telinga, siapa lagi pelakunya kalau bukan teman-teman Yuri yang biang rusuh.


Penumpang kapal ada yang ingin protes, tapi lebih banyak yang joget. Deo yang melihat Yuri ingin ikut memeriahkan suasana, kembali menahan tubuh gadis itu.


"Yang anteng, nanti lo nyemplung ke laut!"


Yuri cemberut, tapi tetap diam.


"Yang goyangannya paling heboh, nanti Yuri cantik kasih ...."


"Jangan cilok lagi, Yuriiii!" sambung mereka cepat, karena imbalan Yuri enggak pernah lepas dari cilok. Dia yang doyan cilok, orang lain yang jadi korban. Yuri kembali cemberut.


"Serius?"


Yuri mengangguk.


Jadilah penumpang kapal yang sebagian murid-murid sekolah itu pada lomba joget. Lagu dangdut disetel senyaring mungkin.

__ADS_1


Deo menepok jidatnya, ada-ada saja ide yang diberikan oleh Yuri untuk memeriahkan suasana. Chia, Airu, Gara dan Qavi ikut juga, hanya Deo saja yang tetap menunggui Yuri.


Setelah beberapa lama waktu berlalu dengan kalap yang bergoyang itu ....


"Juara tiga ... Mirta, dari kelas dua lima."


"Juara dua ... Danar, dari kelas dua tujuh."


"Juara satu ... Yudi, dari kelas dua satu."


Tentu saja yang memilihnya bukan Yuri, tapi penumpang lain, agar tidak dibilang pilih kasih. Tahu sendiri orang kadang suka berprasangka buruk, seperti kejadian di Surabaya saat itu.


Mereka kini meminum teh hangat yang dibeli di atas kapal, juga pop mie. Matahari senja mulai terlihat, dan perlahan hari mulai berganti malam.


"Sudah, jangan ada yang bercanda lagi, kalian pada duduk yang anteng."


Para murid langsung patuh, karena kan enggak lucu kalau nanti ada yang nyemplung. Walau memang ada pagar pembatas, tapi yang namanya musibah, siapa yang tahu, kan?


Yuri juga tidak banyak ulah, selain karena ngantuk, sebagai wakil OSIS dia tahu kapan saatnya bercanda atau tidak.

__ADS_1


Tidak jauh dari mereka, ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan Deo. Matanya tak pernah lepas dari remaja laki-laki itu.


Ganteng banget, sih. Itu cewek kenapa selalu ada di sebelahnya? Pacarnya? Cih, masih cantikan aku.


__ADS_2