
Ini hari pertama Freya kembali ke sekolah, meskipun kondisinya belum sehat benar, namun dia sudah sangat jenuh di rumah Arby dengan sikap sok peduli penghuninya kepadanya, atau lebih tepatnya kepada janin yang ada di dalam perutnya itu.
Sesampainya di sekolah, Freya mencari keberadaan Mico. Entah kenapa dia ingin sekali bertemu dengan pemuda itu.
Jam istrirahat tiba, dia ke kantin bersama Nania dan Aruna.
"Kok Mico enggak kelihatan ya dari tadi?"
"Sudah tiga hari dia memang enggak sekolah kayaknya, aku enggak pernah lihat dia," sahut Nania.
"Dia kan memang sering bolos. Lebih banyak bolosnya dari pada masuknya," Aruna juga ikut menanggapi perkataan Nania.
Freya menghela nafas, dia juga tahu Mico memang murid teladan dalam hal pelanhgaran sekolah, meskipun hanya dia di sekolah ini yang lebih tahu kenakalan apa saja yang Mico lakukan, sama seperti Mico yang menjadi satu-satunya orang yang tahu seperti apa kenakalan seorang Freya. Murid nakal berkedok murid teladan.
Percakapan ketiga murid perempuan itu didengar oleh keempat cowok yang duduk tidak jauh dari mereka.
Nuna sesekali melirik pada Freya dan Arby, lalu menghela nafas.
🌿🌿🌿
Sudah tiga hari berturut-turut Mico tidak ke sekolah. Freya sudah menghubungi ponselnya, juga datang ke tempat biasa Mico latihan band, tapi tetap tidak ada.
"Udahlah, enggak usah sedih gitu. Mana mungkin dia masih mau sama perempuan hamil kaya kamu. Memangnya dia mau jadi ayah dari anak orang lain, apalagi dia masih muda. Dia juga pasti punya cita-cita dan dia juga pasti waraslah untuk nyari cewek yang masih virgin. Kamaren-kemaren tuh dia hanya kasihan saja sama kamu, jadi kamu enggak usah kegeeran."
Freya mengepalkan tangannya mendengar perkataan Arby. Ingin sekali Freya memukul kepala Arby pakai palu, atau menjepit lidahnya pakai tang.
"Aku sumpahin kamu enggak akan pernah bisa bersama cewek yang kamu cintai dengan tulus."
"Freya!"
Freya tersenyum, sangat manis.
Oke, kini dia tahu hal apa yang bisa membuat Arby kesal hingga ke ubun-ubun.
"Kamu tahu, tidak hanya laki-laki, perempuan pun akan mencari pasangan yang baik. Kamu pikir cewek baik-baik akan menyukai cowok bejat seperti kamu? Kata orang, pasangan itu mencerminkan diri kita sendiri. Jika kita baik, maka kita akan mempunyai jodoh yang baik. Kamu pikir Nuna baik? Coba lihat dia, ibunya ja*ang, maka dia melahirkan anak yang sama sifatnya, dan selalu memiliki pasangan yang mudah tergoda, ujung-ujungnya pisah juga. Ya, seperti itulah kalian berdua, sama-sama tak bermoral."
"Freya!"
"Aku kasihan sama orang tua kamu yang memiliki anak seperti dirimu. Mungkin saat mengandung dirimu, mamamu dikutuk, hingga melahirkan se*an seperti dirimu. Bukankah buah jatuh tak jauh dari pohonnya?"
"Cukup Freya!"
Mana mungkin Freya berhenti begitu saja, bukan kah Arby yang lebih dulu menyulut api? Arby sudah mengatakan hal-hal yang sensitif bagi perempuan yang sedang sensitif saat mengandung anak hasil per**saan.
__ADS_1
"Jika anak ini lahir, dia pasti akan ikut jijik pada dirimu. Mana ada anak yang bangga lahir karena hasil per**saan. Jika bisa memilih, setiap orang pasti akan memilih dari keluarga mana mereka berasal."
Freya merasa puas melihat wajah Arby yang terlihat kesal.
.
.
.
.
Arby menatap wajah Freya yang sedang tidur. Saat tadi dia membuka pintu kamar Freya, ternyata kamar itu lupa Freya kunci seperti biasanya. Matanya beralir menatap perut Freya yang masih rata sambil menghela nafas.
Selama ini, Freya selalu saja membuang semua makanan yang diberikan kepadanya, kecuali sahabat-sahabatnya.
FLASHBACK ON
"Sudah aku bilang, aku enggak mau makan."
Freya membanting piring yang ada dihadapannya. Bukannya Freya ingin menyiksa diri atau anak dalam perutnya, tapi dia benar-benar tidak bisa memakan makanan itu, justru muntah-muntah hingga mengeluarkan cairan yang rasanya benar-benar pahit, juga menyebabkan perutnya keram.
Bukan hanya itu, setiap kali melihat mereka (keluarganya juga Arby sekeluarga) dia mendadak mual dan muntah di tempat.
Jadi, yang bisa Arby lakukan adalah melihat keadaan Freya saat perempuan itu tidur. Begitu kuga dengan orang tuanya, selalu memberikan perhatian meskipun tidak secara langsung.
Dengan hati-hati, Arby menutup pintu kamar Freya.
Sekitar jam dua, Freya terbangun dari tidurnya. Dia merasa lapar dan menuju dapur dengan keadaan masih mengantuk.
Freya mencari mie instan dan cabe rawit.
.
.
.
Arby menuju dapur dan melihat Freya yang sedang makan.
"Kamu makan apa?"
Pemuda itu melebarkan matanya saat melihat Freya yang makan mie instan dengan irisan cabe rawit yang sangat banyak. Tanpa pikir panjang Arby langsung merebut mangkok itu dan membuang isinya yang baru dua suap dimakan oleh Freya.
__ADS_1
"Apa-apaan sih? Kenapa kamu selalu membuang apa yang aku suka?"
Masih diingat sangat jelas saat Arby membuang begitu saja kue-kue yang dibuat Freya untuk dijual. Lalu rujak dan minuman yang dibuat oleh Nania dan Aruna. Sekarang, mie yang dimasak oleh Freya tangah malam dalam keadaan mengantuk dan pusing dibuang.
Sungguh, Freya ingin melenyapkan pria yang ada di hadapannya ini.
"Sudah aku bilang berkali-kali, kamu jangan makan dan minum sembarang. Terserah kalau kamu enggak peduli dengan diri kamu sendiri, tapi jangan nyiksa pewaris keluarga Abraham yang ada dalam perut kamu."
"Itu yang bisa aku makan. Kamu pikir aku senang tersiksa seperti ini? Aku juga pengen bisa makan dan minum dengan normal tanpa harus muntah-muntah. Tapi anak sialan yang ada dalam perut ini yang membuatku menderita."
"Jaga ucapanmu, Freya?"
"Apa? Memang benar anak ini anak sialan!"
Emosi keduanya sudah tak terkendali. Pertengkaran itu membangunkan seisi rumah. Elya dan Arlan terburu-buru menuju dapur, begitu juga dengan asisten rumah tangga dan security yang jarak cukup jauh, namun bisa mendengar pertengkaran sepasang suami istri muda itu.
"Ada apa ini? Kenapa kalian bertengkar malam-malam begini?"
"Anak kalian nih, egois."
"Aku bukannya egois, hanya enggak mau kamu ngasih makan dan minum sembarangan untuk anak yang ada dalam perut kamu."
"Dan aku juga sudah bilang, bukan mauku milih-milih makan dan minum. Di sini aku yang tersiksa, bukan kalian, yang main perintah harus makan ini makan itu, jangan ini jangan itu."
"Ya kamu paksain, dong, makan dikit-dikit."
"Gampang kamu ngomong begitu, bukan kamu yang merasakannya."
"Sudah-sudah ... memangnya apa yang Freya makan?"
"Mie instan mi, pakai cabe rawit banyak banget."
"Freya, kamu boleh sekali-sekali makan mie instan, tapi jangan kebanyakan ya, cabenya. Nanti kalau kamu sakit perut gimana? Kalau babynya kenapa-kenapa gimana?"
"Biarin aja, biar mati sekalian!"
.
.
.
.
__ADS_1