
Skandal mengenai sekolah milik Arlan yang memberitakan bahwa banyak muridnya yang menjadi sugar babby, pengguna narkoba, dan lainnya tersebar di media online.
Bahkan dikabarkan bahwa anak dari pemilik sekolah tersebut melecehkan seorang gadis hingga hamil namun tidak mau bertanggung jawab.
Dikabarkan, bahwa gadis tersebut mengalami depresi hingga gangguan mental. Belum diketahui siapa yang menyebarkan berita tersebut, namun orang-orang yang ada di vila menyembunyikan berita tersebut dari Freya.
Hujatan datang dari berbagai kalangan. Nama baik sekolah yang selama ini mendapat predikat sebagai salah satu sekolah unggulan setelah sekolah milik keluarga William dan Willson kini tercoreng. Tenaga pengajar dianggap memiliki kebobrokan karena tidak mampu mendidik murid-muridnya dengan baik.
Sekolah itu kini dibawah pengawasan pemerintah. Berita tersebut pun tidak dapat dihilangkan dari media online. Harga saham perusahaan mengalami penurunan drastis. Nama baik Arlan yang selama ini dijaga dengan baik, menjadi buah bibir. Bahkan Elya menjadi cibiran para kaum sosialita.
Kini semuanya berkumpul di vila, bersikap biasa saja di hadapan Freya agar proses penyembuhan remaja itu dapat berjalan dengan lancar hingga akhir.
Sabar dan ikhlas.
Itulah dua kata yang selalu dikatakan oleh tante Irma sebagai psikolog Freya dan pak ustadz yang setiap hari selalu memberikan tausiahnya.
Kata-kata yang selalu disampaikan mereka dengan lembut bagai sebuah mantra agar Freya bisa sabar dan ikhlas menerima apa yanh sudah digariskan untuknya.
"Aku iri pada orang lain. Orang tuaku kaya, tapi mereka tidak pernah mengajakku ke pantai. Aku ingin mereka membelikan aku gulali kapas, permen lolipop, dan boneka. Aku ingin sesekali ulang tahunku dirayakan, meskipin bukan dengan pesta mewah. Aku sering mendengar teman-temanku bercerita bahwa orang tuanya mengajak ke taman bermain untuk merayakan ulang tahunnya. Ada juga yang makan di restoran atau sekedar piknik di pantai. Saat kakek dan nenek datang, mereka hanya mengajak Anya dan Vanya bersama mereka. Kakek dan nenek akan mengajak Vanya saat ada konser musik, termasuk di luar negeri. Lalu mereka akan mengajak Anya saat ada pagelaran busana yang diadakan oleh perancang-perancang international."
Mata Freya nampak menerawang, mengingat apa yang terjadi dalam masa anak-anaknya.
"Mereka mendatangkan pelatih khusus untuk mengembangkan bakat Vanya bermain berbagai alat musik, begitu juga dengan Anya dalam hal modeling. Hanya aku yang tidak dipedulikan. Semua hal aku lakukan seorang diri."
Air mata Freya menetes. Sebenarnya dia tidak ingin menangis, tapi air mata itu mengalir begitu saja tanpa bisa diajak kompromi.
"Saat nilai-nilaiku sempurna, mereka akan biasa-biasa saja."
__ADS_1
"Saat Anya dqn Vanya terluka, mereka akan khawatir, karena kata mereka tangan itu sangat penting untuk seorang pemain musik dan kaki sangat penting untuk seorang model, tentu saja selain berwajah cantik."
Freya merasakan kepalanya bedenyut sakit, namin dia berusaha sekuat tenaga untuk menahannya.
Dia iri dengan kakak dan adiknya, juga pada teman-temannya. Dia ingin ke taman bermain bersama keluarganya, atau jalan-jalan ke mall sekedar belanja keluarga dan membeli perlengkapan sekolah bersama.
Masa-masa saat dia kecil hingga remaja memang tidak membahagiakan kecuali bersama sahabat-sahabatnya. Jika ditanya hal apa yang paling membahagiakan dalam hidupnya, dia akan bingung menjawabnya.
Awalnya Freya berpikir bahwa hal terbaik dalam hidupnya adalah mendapat nilai sempurna, bahkan terbaik se-Indonesia saat dia kelas satu SD. Namun itu tak berlangsung lama, karena orang tuanya terlihat biasa-biasa saja, bahkan saat dia mendapatkannya setiap tahun, mereka tetap biasa saja.
Seperti anak-anak pada umumnya, dia ingin dipuji saat mendapat prestasi dan hadiah kecil sebagai penghargaan karena dirinya sudah membanggakan keluarga besarnya. Atau sekedar pelukan dan kecupan ringan di kening pun tak mengapa, yang penting kedua orang tuanya peduli padanya.
Lambat laun Freya merasa biasa-biasa saja dengan nilai-nilainya itu. Tak ada yang istimewa baginya.
Mereka mendengarkan kisah Freya. Sekali lagi, meskipun mereka dapat menyimpulkan faktor penyebab perilaku Freya yang seperti ini, mereka tetap harus mendengarkan secara langsung keluh kesahnya. Lalu harus membangkitkan motivasi Freya untuk sembuh. Lalu apa yang bisa menjadi motivasi Freya untuk sembuh dan tidak melakukan kesalahan yang sama?
Sudah tiga bulan Freya menjalani penyembuhan. Prosesnya berjalan baik, bahkan sangat lancar. Dokter selalu mengingatkan hal-hal yang bisa memotivasinya untuk sembuh.
Hal yang bisa membuat Freya semangat adalah menunggu usianya 18 tahun. Saat itu dia sudah masuk dalam kategori dewasa secara hukum, jadi dia bisa menentukan keputusan sendiri. Dia tetap ingin melanjutkan pendidikannya di luar negeri.
Dia ingin menunjukkan, bahwa meskipun dia sempat terpuruk dan dipandang negatif oleh orang-orang, tapi dia masih bisa bangkit, melanjutkan hidupnya, mewujudkan impiannya dengan usahanya sendiri.
Seperti yang sering psikolog dan pak ustadznya katakan, sabar dan ikhlas. Maka dia akan berusaha ikhlas dengan apa yang telah di gariskan untuknya hingga saat ini, meskipun baginya itu kata-kata itu masih sebuah teori, karena dia adalah remaja labil yang masih mencari jati dirinya.
Orang-orang menganggap bahwa seorang pemakai adalah penjahat, manusia bodoh yang lari dari masalah, manusia yang tak dapat berpikir panjang dan sebagainya.
Namun sekali lagi, Freya tidak hanya bergaul dengan lingkungan baik saja, tapi dia juga bergaul dengan lingkungan kelam, tempat orang-orang mencari hiburan atas segala permasalahan hidupnya.
__ADS_1
Tentu saja bukan hanya Mico satu-satunya orang yang dia kenal dengan jiwa pemberontaknya. Masih banyak yang lain. Ada yang menjadi sugar baby hanya untuk gaya hidup yang mewah, ada juga yang menjadi liar karena patah hati dan dikhianati.
Dari mana Freya tahu dan kenal dengan orang-orang itu?
Tentu saja salah satu penyebabnya adalah saat dia kabur ke Jogja dulu. Saat itu, Freya merasa melihat dunia yang sebenarnya dalam ruang lingkup yang kecil. Bukan hanya dunia anak sekolah yang enam hari dalam satu minggu dia geluti, bukan juga lingkungan keluarga dengan segala peraturan kepala keluarga.
Freya mulai memahami segala permasalahan dalam hidup orang-orang.
Ekonomi
Kesehatan
Keluarga
Pekerjaan
Pendidikan
Romansa
Tiap-tiap masalah itu bisa merembet ke mana-mana.
🌸🌸🌸
Arby menatap Freya di kejauhan. Wajah istri kecilnya itu sudah terlihat lebih segar dari beberapa bulan lalu. Sebentar lagi Arby akan lulus SMA, dan dia akan kuliah di kampus yang ada di sebelah SMA milik papinya.
Selama beberapa bulan ini, Marcell dan Vian juga sangat gencar mendekati Nania dan Aruna.
__ADS_1
Di balkon vila yang menghadap taman bunga ini, Arby, Marcell, Vian dan Ikmal sedang membicarakan tentang masa depan mereka saat lulus sekolah nanti.