
Sudah lewat dari tengah malam. Mereka belum menemukan petunjuk di mana Yuri. Tidak ada juga yang menghubungi untuk meminta uang tebusan atau apa pun.
Chia dan Airu juga tidak bisa tidur. Mereka sudah berkumpul di rumah Yuri, meski di rumah itu keluarga Yuri tidak ada karena belum kembali dari melakukan pencarian.
Di sana, Yuri sudah benar-benar merasa kesakitan. Perutnya sangat sakit, belum lagi dia kedinginan. Badannya juga terasa temuk dan dia sangat ketakutan. Yuri muntah-muntah di tempat, semakin mengotori bajunya yang sudah kotor.
Pagi menjelang
"Kalian sekolah saja, siapa tahu nanti Yuri datang ke sekolah."
"Tapi Pi ...."
"Nanti kalau ada kabar, papi segera hubungi kamu, Deo."
Deo akhirnya ke sekolah juga, bersama yang lain. Dengan lesu mereka masuk ke kelas. Teman-teman sekelas mereka tidak ada yang bicara. Mereka juga ikut sedih dengan apa yang terjadi. Mereka tahu, Yuri bukan gadis yang akan menghilang begitu saja. Gadis itu menyukai kehebohan, tapi tidak pernah membuat masalah sebesar ini apalagi sampai membuat orang lain cemas.
Guru-guru juga tidak memberi mereka tugas, karena sibuk membantu mencari Yuri.
Jam istirahat
Jika biasanya Yuri heboh dengan mengatakan mau makan cilok, sekarang terasa sepi. Tidak ada yang beranjak ke kantin.
Salah satu teman mereka keluar kelas, mau ke toilet, dan ditemani oleh yang lain.
__ADS_1
Mereka ke toilet bersama.
"Aw!" Kepala anak perempuan itu terantuk bola basket. Karena kesal, dia lalu melempar bola itu dengan kencang.
"Woy, main lempar saja!"
"Suruh siapa main bola sembarang!"
Bola itu menggelinding cukup jauh. Murid laki-laki itu berjalan ke arah belakang. Katanya, halaman belakang sekolah itu seram, jadi jarang ada yang ke sana.
Dan benar saja, terdengar suara cicilan, yang dia pikir itu suara kuntilanak. Anak itu langsung berlari. Kembali menabrak teman sekelas Yuri.
"Apaan sih?"
"Ada hantu tuh, di belakang."
"Dibilangin, enggak percaya. Sana lihat sendiri."
Para gadis itu lalu ke belakang, cukup jauh juga, karena area sekolah ini sangat luas. Mereka mendengar suara itu dari salah satu ruangan.
"Itu mah suara tikus."
Lalu mereka samar-samar mendengar suara rintihan. Bulu kuduk mereka langsung berdiri. Salah satu anak yang berani, dan berharap suatu saat nanti bisa ikut uji nyali yang sesungguhnya, mendekati ruangan itu. Ruangan itu dikunci, lalu dia menempelkan telinganya.
__ADS_1
"Hati-hati, Ira."
Dia mengetok-ngetok pintu itu. Tidak ada sahutan, maka mereka meninggalkan tempat itu.
Sesampainya di kelas, mereka langsung cerita kalau di area belakang ada hantunya. Tentu saja yang lain ada yang percaya, ada yang tidak.
"Ayo ke sana."
Sebagian dari mereka ikut, sebagian lagi enggak. Deo pikir, kalau ada Yuri, dia pasti heboh dan langsung ikut, sok berani.
Deo tadinya mau diam saja di kelas, tapi ditarik oleh Gara dan Qavi yang ditarik juga oleh Airu dan Chia, yang ditarik juga oleh yang lain. Jadilah mereka seperti kereta api bergandeng.
Yang paling dulu tiba di sana, langsung mendobrak pintu. Dan mereka kaget melihat apa yang ada di dalamnya.
"Panggil kepala sekolah!"
"Panggil polisi!"
"Panggil Deo!"
"Apaan sih, apaan sih?"
Mereka diam, Deo yang lari terburu-buru, langsung melihat itu.
__ADS_1
Deg
Jantungnya seperti ingin copot.