
"Freya, mulai hari ini kamu tidur di kamar ini, ya."
Elya membuka pintu kamar yang sudah disiapkan untuk Freya.
"Kenapa baru sekarang pisah kamar? Kenapa enggak dari awal saja? Dasar, sudah tua tapi bodoh!"
"Freya!" seru Arby.
"Diam lo, set*n!"
Bodo amat lah mau dibilang anak durhaka kek, menantu durhaka kek, istri durhaka kek. Yang jelas mereka lah yang membuatnya seperti itu. Jadi biar mereka yang lebih dulu menampung dosanya.
Brak!
Freya membanting pintu tepat di hadapan mereka dan langsung menguncinya.
π
π
π
Keluar dari rumah sakit, bukan berarti kondisinya sudah baik-baik saja. Setiap malam dia bermimpi buruk, tentang kejadian-kejadian di rumah yang rasanya seperti mimpi.
Tiga hari dia istirahat di rumah tanpa keluar kamar sekalipun. Hari keempat, dia memutuskan untuk ke sekolah.
Dia membuka pintu kamarnya di saat yang bersamaan dengan Arby. Pandangan mata mereka bertemu. Freya mendesis jijik pada pria yang statusnya suami abal-abal itu, yang hanya dibalas dengan tatapan datar oleh pria itu.
Arby berjalan di depannya, membuat Freya ingin mendorong Arby dari atas tangga. Tapi tidak, bukan ini cara pembalasan yang tepat. Mati begitu saja akan terlalu enak untuk pria bejat sepertinya.
Di sekolah
Freya melempar begitu saja tasnya ke bangku, membuat perhatian murid-murid yang tadinya sibuk bergosip dan bercanda teralihkan.
Mereka menatap heran pada teman sekelas yang sudah lebih dari dua minggu ini tidak sekolah. Mereka kini yakin kalau Freya memang sakit, walau tidak tahu sakit apa temannya itu, dilihat dari wajahnya yang pucat dan sangat tirus, walau memang masih cantik.
Nania memeluk sahabatnya itu, disusul oleh Aruna. Sedangkan Nuna? Gadis itu menunduk, tak berani menatap ketiganya.
Jam istirahat
Freya menginjak puntung rokok keenam. Matanya menerawang, sesekali dia meneguk bir kalengan yang dia selundupkan ke dalam sekolah.
"Gimana keadaan kamu?"
Mico duduk di sebelah Freya, mengambil sisa minuman Freya dan menghabiskannya, dia juga mengambil sebatang rokok milik Freya.
__ADS_1
"Ya begitulah!"
Kaleng kedua dibuka. Mereka bercerita diselingi tawa geli. Entah memang ada yang lucu dari obrolan mereka atau karena pengaruh alkohol.
Di tempat lain
Arlan memijat keningnya, laporan keuangan di perusahaan cabangnya yang ada di Samarinda sangat kacau. Entah siapa yang korupsi, atau memang ada kesalahan dalam pembuatan laporan. Memang tidak banyak, tapi jika dibiarkan akan menimbulkan kerugian yang sangat besar.
"Malik, besok kita harus ke Samarinda," ucapnya pada sang asisten yang sudah puluhan tahun bekerja dengannya.
"Baik, tuan."
Sementara itu, Wildan juga sedang kalang kabut. Ada yang membocorkan proposal proyek barunya pada lawan bisnis dia, membuat dia haru menanggung kerugian.
Di tempat Freya
Mico dan Freya mengunyah permen untuk menghilangkan aroma rokok dan bir, meskipun masih bisa tercium sisa dari barang-barang itu.
"Aku ke toilet dulu."
"Ya sudah, kalau begitu aku langsung balik ke kelas."
Freya masuk ke toilet, setelah dari toilet, dia menuju rooftop. Bayangan-bayangan di rumah sakit kembali menghantui dirinya. Bukannya dia takut, hanya saja dia masih bingung apakah semua itu nyata atau memang mimpi.
Brugh
Freya mendorong guru BK itu hingga jatuh terguling-guling dan kepalanya membentur tembok.
"Maaf, saya sengaja."
Freya melangkahi guru BK itu dengan santai.
πΏπΏπΏ
Freya pulang dengan keadaan lemah. Dia membuka tasnya yang penuh dengan rokok dan bir.
Sementara itu di kamar sebelah, Arby melempar tasnya. Sudah tidak ada lagi aroma Freya di kamar ini, bahkan satu barangnya pun sudah tidak ada. Kamar itu kembali ke penampilan awalnya, maskulin.
Bagai penjahat yang menghilangkan jejak dan barang bukti, TKP ini sudah dibersihkan. Semua barang bukti dihilangkan.
Kasur diganti dengan yang baru.
Meja belajar, meja rias, sofa ... tidak ada satu pun bsrang lama yang tersisa, semua diganti dengan yang baru.
"Enggak usah lebay deh, mi."
__ADS_1
Itulah yang Arby katakan saat maminya menata ulang kamar itu. Semua dilakukan tepat satu hari setelah Freya masuk rumah sakit.
Kordeng diganti, tembok dicat dengan warna kamar sebelumnya. Ya, semua benar-benar kembali ke keadaan sebelum Freya tinggal di rumah itu.
Sedangkan kamar yang kini ditempati oleh Freya dihias sesuai selera Freya, namun dipastikan berbeda dengan keadaan dimana tragedi itu terjadi.
πΏπΏπΏ
Di saat mimpi itu melanda, Freya akan terbangun dengan nafas tersengal. Dia juga tidak yakin apakah tadi saat di sekolah dia memang mendorong guru BK-nya dari atas tangga, atau sekali lagi, itu hanya sebuah ilusi.
Tidak ada yang bisa dia jadikan bukti, karena dia dengan sangat hati-hati menghindari genangan darah itu agar tidak terinjak oleh sepatunya. Hingga pulang sekolah pun, tidak ada kegemparan yang terjadi.
Dengan perut kosong, Freya menikmati bir dengan sepuntung rokok. Hidupnya seolah tak berarti. Mimpi buruk selalu menghantui saat dirinya menjelajah ke alam mimpi. Bahkan mimpi-mimpi yang tak dia pahami juga hilir mudik di bawah alam sadarnya.
Hancur
Ya, hidupnya telah hancur.
π»
π»
π»
Pagi menjelang
Mata Freya menghitam, dirinya tak dapat tidur hingga saat ini.
"Freya, kamu sudah bangun belum? Enggak ke sekolah?"
Elya mengetok pintu kamar Freya, namun tak ada jawaban. Freya merasa mual, secepat kilat dia ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya yang isinya hanya air dengan aroma muntah dan bir, membuat dirinya semakin mual dan tambah muntah.
Setelah yakin tak lagi ada muntah yang keluar, dia lalu membasuh wajahnya, dan ke kasur. Bersandar di pinggir ranjang dengan kaki yang selonjoron di lantai, di membuka satu kaleng bir lagi, meneguknya dengan tergesa-gesa seperti orang yang kehausan.
Freya tidak peduli lagi dengan tubuhnya akan seperti apa. Bila perlu dia ingin membakar dirinya hidup-hidup, menghilangkan jejak yang pernah disentuh oleh b*jingan itu.
Dia sendiri merasa jijik dengan dirinya, ingin men*incang, memut*lasi ... apa pun, apa pun yang bisa menghilangkan semua bayangan gelap dalam dirinya.
Mata Freya mulai terpejam setelah tiga kaleng bir dia teguk dengan cepat. Mungkin saja jika dia banyak minum, tidurnya akan lebih nyenyak tanpa kedatangan mimpi yang tak diundang.
Di kamar sebelah, Arby kurang lebih merasakan hal yang hampir sama. Tidak dapat tidur karena bermimpi buruk.
Mimpi kalau dirinya ada di lautan lepas yang tak ada seorang pun di sana selain dirinya. Yang terdengar hanya isak tangis yang sangat memilukan, dengan rintihan-rintihan kesakitan.
Dia berusaha mencari si pemilik suara, namun hasilnya nihil. Entah mengapa hatinya merasa ngilu mendengar isakan tersebut, meskipun dia tidak tahu suara siapa itu.
__ADS_1