
Tahun ajaran baru kembali dimulai.
"Ini tidak mungkin terjadi."
"Tapi inilah yang terjadi."
"Ini enggak salah daftar?"
Mereka masih tidak percaya apa yang mereka lihat.
Kenapa mereka semua kembali satu kelas? Tidak ada yang berkurang. Yuri yang melihat itu, langsung membuka dompetnya dan membagikan uang lima ribuan.
"Jangan lupa, pemilihan ketua kelas nanti pilih Yuri cantik."
"Gocengan doang, dapat apa, Ri?"
"Dapat cilok. Cilok beli aja dua ribu, teh gelas seribu, bakso pentol dua ribu. Kenyang, deh."
"Nih, kamu aku kasih dua puluh ribu, tapi kamu harus lengserkan Deo."
Mereka hanya bengong.
"Lo kasih Deo dua puluh ribu buat melengserkan dirinya sendiri?"
"Itu bukannya melengserkan diri sendiri, Chia, tapi dipaksa mengalah."
"Yang tidak memilih Yuri, jodohnya tukang cilok."
"Kalau kaya begini caranya, kita tidak usah mengadakan pemilihan ketua kelas, karena sudah jelas siapa yang jadi ketua kelasnya."
"Yes. Deo, kamu kalah!"
Tidak lama kemudian, wali kelas mereka di kelas tiga ini masuk.
__ADS_1
Wali kelasnya pun ternyata sama.
"Pak, kenapa kami disatukan lagi?"
"Kata kepala sekolah, biar murid-murid yang dari kelas lain tidak ada yang terkontaminasi."
"Kenapa Bapak yang jadi wali kelas kami lagi? Takut yang lain terkontaminasi juga?"
"Bukan, tapi karena ... entah itu pujian atau hukuman buat saya. Kata kepala sekolah, saya lebih paham menjinakkan kalian."
"Ooo ... begitu." Hanya itu tanggapan dari murid-muridnya. Sepertinya mereka juga pasrah mendapatkan wali kelas yang sama lagi.
"Ya sudah, sekarang pemilihan ketua kelas."
"Yuri yang jadi ketua kelas, Pak."
"Yuri, kamu ambil daftar absen sana, tadi saya lupa bawa." Tanpa banyak bertanya kenapa tiba-tiba Yuri yang jadi ketua kelas padahal kelas baru saja dimulai lima menit yang lalu, kapan mereka melakukan pemilihan, pak guru langsung menyuruh Yuri mengambil absen.
"Deo, lo ambil absen di ruang guru."
"Kenapa gue?"
"Gara, ambil daftar absen sana!" ucap Deo.
"Kenapa gue?"
"Karena lo wakil gue," jawab Deo enteng.
Akhirnya mereka saling lempar, dan ujung-ujungnya wali kelas mereka harus menyuruh mang Udin, untuk mengambil daftar absen itu.
Pak guru kesayangan mereka hanya bisa menepuk jidat.
Ini baru hari pertama, dan belum ada satu jam, tapi sudah seperti ini. Tolong kuatkan hamba.
__ADS_1
"Ini tahun terakhir kalian di sekolah ini, tolonglah kalian akur." Kalimat itu ditujukan untuk Yuri dan Deo yang selalu saingan.
"Bapak tenang saja, akan saya buat tahu terakhir ini sangat berkesan untuk kita semua. Masa yang paling indah adalah masa remaja. Coba Bapak bayangkan, bagaimana jadinya kalau masa muda kita membosankan? Ya ampun, bisa penuaan dini saya, Pak. Keriput, tumbuh uban, badan kisut."
Mereka mengangguk, entah karena mengantuk atau setuju dengan perkataan Yuri.
"Ini daftar mata pelajaran kalian."
Hari Senin jam pertama
Matematika
Jam kedua
Fisika
Jam ketiga
Kimia
Jam keempat
Biologi
"Tuh kan, bisa benar-benar tua kita, hari pertama pelajarannya begini semua!"
Ini namanya siksaan.
Setelah mereka menikmati liburan, ternyata mereka akan mendapatkan hukuman selama satu tahun.
"Biar ada kesan mendalam untuk kalian selama satu tahu terakhir di sini."
Pak Guru tercinta itu tersenyum puas.
__ADS_1
Dia rasanya belum pernah sesenang ini menjadi wali kelas murid-murid biang heboh itu.