Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
44 Perdebatan Dengan Dokter


__ADS_3

MASIH FLASHBACK YA!


"Jangan sampai ada satu orang pun yang menjenguk Freya, termasuk kakak dan adiknya, juga sahabat-sahabatnya," perintah Arlan.


Dua hari kemudian, Wildan sadar, dan sehari setelahnya Elya juga sadar. Untung saja setelah sadar kondisi mereka berdua lebih cepat stabil.


"Panggil dokter Gani, dokter Adam, dokter Yusuf, dan dokter Anwar!"


Tidak lama kemudian keempat dokter itu datang.


"Jadi bagaimana?"


"Sampai kapan kamu terus mau melakukan ini pada Freya?" tanya dokter Anwar, pemimpin di rumah sakit itu yang ditunjuk okeh Arlan.


"Sampai kondisi Freya stabil."


"Sulit menstabilkan emosinya. Kalian tahu sendiri apa yang terjadi padanya."


"Tidak perlu banyak protes. Lakukan saja apa yang aku perintahkan. Ingat, masalah ini tidak boleh diketahui oleh publik, termasuk kakak adik Freya dan sahabat-sahabatnya."


Dokter Anwar menghela nafas, meskipun di rumah sakit ini jabatannya tertinggi, namun Arlan lah pemilik rumah sakit ini.


"Arby, kamu juga jangan cerita apa-apa sama sahabat-sahabat kamu, atau siapapun. Jika ada yang bertanya, bilang saja Freya tiba-tiba drop dan koma!"


"Iya, Pi."


"Sudah lima hari berturut-turut Freya selalu diberi obat tidur dengan dosis tinggi!"


"Lalu kenapa? Yang penting sekarang dia bisa tidur dan tidak menyakiti siapapun!"


"Apa kamu tidak berniat melaporkannya ke polisi?" pancing dokter Anwar.


"Kamu pikir kami bodoh? Apa nanti kata orang-orang saat mengetahui skandal keluarga Abraham dan keluara Zanuar? Bukan hanya reputasi kami yang rusak, tapi juga perusahaan bisa mengalami kekacauan."


Dokter Anwar, Gani, Adam dan Yusuf saling memandang. Mereka memang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Arlan dan Elya.


"Sebaiknya kita biarkan saja dulu Freya sadar, untuk bisa melihat responnya," saran dokter Yusuf.


Sementara mereka sibuk rapat di ruang rawat Wildan, di kamar Freya, perempuan itu terbangun dari tidurnya. Dia melepas selang infus begitu saja. Perlahan dia membuka pintu kamarnya, dilihatnya dua orang penjaga sedang berbicara.


"Kita harus waspada, jangan sampai ada yang menjenguk nona Freya dan menimbulkan kecurigaan."


Teman di sebelahnya mengangguk. Freya kembali menuju nakas, dia tidak melihat pisau di sana. Dilihatnya garpu yang ada di dalam laci, lalu diambilnya.


"Nona?"


Belum sempat penjaga itu menyelesaikan ucapannya, Freya langsung menggoreskan garpu itu di lengan salah satu pengawal.


Pengawal yang lain lalu menarik tubuh Freya, mencoba menahan tangannya. Kejadian ini mengingatkan Freya akan perbuatan Arby malam itu. Salah satu pengawal menggendong Freya. Freya lalu menendang alat vital pengawal itu setelah tubuhnya dibaringkan di kasur.


Tangan Freya menggenggam selang infus, lalu melilitkannya ke pengawal itu. Pengawal yang lain lalu memencet tombol untuk memanggil dokter sementara dia juga berusaha menolong temannya tapi tidak menyakiti Freya.


"Nona, sadarlah!"


Perawat datang tidak lams kemudian. Tanpa ikut memberikan pertolongan, dia langsung berlari menuju ruang perawatan Wildan.


Brak


Pintu terbuka dengan kencang.


"Ada apa, apa kamu tidak tahu kami sedang rapat?" tanya dokter Anwar.


"Maaf Dok, nona Freya mengamuk di kamarnya!"


Tanpa meminta penjelasan lebih lanjut, mereka semua ke kamsr Freya, bahkan Elya dan Wikdan yang masih sakit juga ikut.


Mereka melihat Freya yang masih melilitkan selang infus di leher salah satu pengawal sebelum pengawal yang lain terpaksa memukul tengkuk Freya hingga gadis itu pingsan.


Dokter langsung menyuntikkan obat tidur dalam dosis besar, sementara para perawat merapohkan kekacauan yang ada. Darah bekas infus Freya menodai lantai dan kasur.


Dokter Gani memberikan pertolongan kepada pengawal yang dicekik, untung saja masih hidup, sedangkan perawat lain mengobati pengawal yang ditusuk oleh Freya.


"Panggilkan seorang psikolog dan psikiater sekarang juga!" perintah Arlan.


.


.


.


Mereka membahas masalah Freya dengan serius.


"Kita harus melakukan pendekatan kepada Freya," ucap psikolog itu.


"Tidak akan udah. Freya bukan anak yang gamoang didekati. Bahkan dengan keluarganya saja dia tidak dekat."


Psikiater dan psikolog itu sudah mendengar semua hal tentang Freya.


Freya kembali membuka matanya, untung saja kamarnya sedang ramai, jadi jika terjadi sesuatu banyak yang akan menolong. Dia kembali mengamuk, membanting gelas, piring, botol minuman, bahkan bantal.

__ADS_1


"Freya, tenanglah," ucap psikiater, namun Freya tidak dapat tenang.


"Lihat ini!"


Freya melihat sebuah bandul yang bergerak pelan dihadapannya. Dia mulai tenang.


Suara jentikan jari terdengar.


"Tidurlah!"


Mata Freya mulai terpejam, dan tidak lama kemudian suara dengkuran halus terdengar.


"Apa yang terjadi?" tanya Ami.


"Ini hipnotis, aku gunakan untuk membuatnya tidur."


Keesokannya


Freya berteriak histeris, dia kembali melempar apa saja yang ada di dekatnya.


"Freya, tenang ya, apa yang kamu rasakan?"


"A ... aku membunuh. Aku pembunuh. Aaaaa ...."


"Hey, tenanglah. Kamu bukan pembunuh!"


"Tapi aku memukul, menusuk, juga mencekik seseorang."


"Siapa?"


"Tidak tahu."


Freya kembali dihipnoti untuk membuatnya tertidur.


Setiap hari selama satu sepuluh hari ini Freya selalu dihipnotis untuk membuatnya tidur, hal itu dilakukan agar dia tidak selalu disuntik obat penenang oleh dokter.


Rapat kembali dimulai


"Buat Freya melupakan kejadian-kejadian buruk itu,," perintah Arlan.


"Semuanya?"


"Tentu saja. Oya, juga lakukan operasi keperawanan."


"Aku tidak setuju."


"Kenapa?"


"Benar juga."


"Kalau begitu buat dia lupa dengan kejadian penusukan dan kekerasan lainnya. Oya satu lagi, buat dia tidak trauma saat melihat Arby!"


"Ck, apa kau tidak egois bersikap begitu?"


"Jika aku egois, aku sudah memenjarakan Freya."


"Itu karena kamu takut akan nama baik, bukan karena menyayangi Freya."


"Dengar, aku bisa saja meminta Freya dihipnotis agar mencintai Arby dan melupakan semuanya. Menganggap bahwa mereka menikah karena cinta, tapi itu tidak aku lakukan."


Perdebatan antara keluarga Freya dan Arby vs para dokter termasuk psikiater dan psikolog itu terus berlanjut.


"Singkirkan semua yang membahayakan!"


.


.


.


"Lupakan, Freya! Semua itu hanya mimpi, hanya ilusi!"


.


.


.


"Itu tidak nyata, Freya. Itu hanya mimpi! Tanamkan ini dalam hati dan pikiranmu, semua hanya mimpi. Saat kamu terbangun nanti, semua bukanlah nyata!"


.


.


.


"Saat kamu bangun, yang kamu lihat semuanya baik-baik saja. Arby tidak terluka, papamu tidak terluka, mertuamu juga baik-baik saja."


.

__ADS_1


.


.


"Kamu tidak akan takut pada Arby. Dia suamimu, kamu tidak akan trauma padanya."


.


.


.


"Yang kamu ingat, kamu tidur sangat lama. Apa yang kamu lihat dan rasakan sebelumnya hanya mimpi. Ingat, hanya mimpi!"


Hanya mimpi


Hanya mimpi


Hanya mimpi


.


.


.


"Kamu tidur cukup lama, dan sebelumnya belum pernah bangun dan tidak menyakiti siapapun."


Seperti itulah, setiap kali Freya terbangun dan menyakiti orang-orang di sekitarnya, maka dia akan langsung dihipnotis."


.


.


.


"Cukup Freya. Saat kamu bangun nanti, kamubtidak akan lagi menyakiti siapapun. Apa yang sudah terjadi hanya mimpi. Tidak perlu lagi kamu mengingatnya!"


.


.


.


Freya terbangun dan tidak mendapati siapapun. Dia berjalan gontai ke kamar mandi.


Kamubtidak akan melukai siapapun!


Semua hanya mimpi!


Seperti ada bisikan yang sering dia dengar di telinganya.


Freya memegang kepalanya yang berdenyut. Antara fakta ataukah mimpi, terus memberontak dalam alam bawah sadarnya.


Tidak akan menyakiti siapapun lagi?


Kalau begitu aku akan menyakiti diriku sendiri, karena ini juga pasti hanya mimpi, kan?


Freya memecahkan cermin yang ada di dalam kamar mandi. Mereka lupa bahwa cermin jika dipecahkan akan menjadi benda tajam.


Darah dan aroma anyir membekad dalam penglihatan dan penciuman Freya. Tidak lama kemudian, Arby yang masuk ke kamar rawat itu dan tidak melihat Freya langsung menuju kamar mandi yang pintunya sedikit terbuka.


"Freya!"


Pemuda itu langsung menggendong Freya le brankar dan memamanggil dokter.


.


.


.


"Kita kecolongan!"


"Segera hipnotis lagi!"


"Tapi ...."


"Lakukan saja semua perintahku!"


"Kamu akan melupakan apa yang hari ini terjadi Freya. Semua hanya mimpi!"


"Buat dia tidur hingga tangannya sembuh. Wildan dan Elya juga harus terlihat sehat setiap kali Freya melihat mereka."


Sampai akhirnya sahabat-sahabat Freya dan Arby membesuk, dan Freya kembali melukai dirinya, namun hipnotis tidak bisa lagi dilakukan karena kehadiran mereka (para sahabat) yang tentubakan menimbulkan banyak pertanyaan dan rasa curiga. Apalagi sifat Nania dan Aruna seperti itu.


FLASHBACK OFF


Freya bergetar mendengar pembicaraan mereka yang mengingat tentang kejadian di rumah sakit dulu.

__ADS_1


Jadi bukan mimpi? Bukan halusinasiku?


__ADS_2