
Dia akan menjadi daddy muda, dan Freya akan menjadi mommy muda di saat usia mereka berdua masih sangat muda.
Marcell, Via dan Ikmal datang dengan membawa banyak buah kelapa yang langsung dari pohonnya.
"Kalian mesra-mesraan, kami ngos-ngosan."
Nania dan Aruna datang kemudian dengan membawa sarapan dan minuman hangat. Freya langsung menyambut sarapan itu dengan antusias.
Arby hanya bisa memakan sedikit, itu pun disuapi oleh Freya, yang membuat Marcell, Vian dan Ikmal mendengkus. Setelah sarapan, mereka kemudian meminum air kelapa murni tersebut.
"Kamu ngidam apa lagi, Ya? Mumpung ada Marcell, Vian dan Ikmal."
Freya menggeleng, dia memang tidak ingin apa-apa lagi, "Aku mau jagung bakar deh, tapi mereka yang bakar sendiri, ya."
"Ish, enak banget ya jadi wanita hamil, mau apa aja harus dituruti," keluh Vian.
"Kata siapa? Kamu belum merasakan mual, muntah, pusing, pegal-pegal, sakit pinggang, ngidam, susah tidur, dan segala hal mengenai wanita hamil lainnya."
Arby berkata bijak, itu karena dia sudah merasakan semua itu meskipun tidak ada janin dalam perutnya.
"Kamu juga harus menjaga emosi kamu, perasaan dan pikiran."
Ikmal tersenyum meledek, sedangkan Vian dan Marcell mengacungkan kedua jempolnya.
"Bagus, itu karma buat kamu."
Kedua teman lucknutnya itu tertawa puas dengan penderitaan Arby, sedangkan yang ditertawakan mendelik tajam.
🍂🍂🍂
Usia kehamilan Freya sudah tujuh bulan. Saat ini dia dan Arby sedang berada di mall untuk membeli kebutuhan bayi. Keduanya memakai masker agar tidak ada yang mengenali mereka. Keduanya terlihat antusias membeli semua yang dibutuhkan, bahkan kamar bayi sudah disediakan. Sambil berjalan bergandengan tangan, sesekali Arby mengusap perut Freya yang menggemaskan. Dia menggunakan dress berwarna baby blue tanpa lengan dengan panjang sedikit di atas lutut, membuatnya terlihat imut dengan pipi chuby nan mulus.
Puas berbelenja, mereka kini ada di salah satu restoran yang memiliki ruangan private, agar nyaman saat makan.
Arby membungkuk, mendekatkan telinganya di perut Freya, merasakan tendangan-tendangan yang membuatnya senang dan tidak sabar untuk segera bertemu dengan malaikat kecilnya.
.
.
.
Sesampainya di rumah, Freya merebahkan dirinya. Arby mengambil minyak zaitun dan memijat kaki Freya yang terlihat sedikit bengkak.
"Enggak usah."
"Dah enggak apa-apa."
Freya menikmati pijatan itu hingga membuatnya tertidur.
__ADS_1
Jam lima sore, Freya terbangun, dia segera mandi dan keluar kamar. Dilihatnya orang-orang yang sedang berkumpul di taman belakang, sayup-sayup dia mendengar hal yang tidak pernah dia duga sebelumnya.
FLASHBACK ON
👉 Ini Flashback-nya panjang ya, enggak tahu bakakan sampai berapa bab, dari awal banget aku ceritain, biar enggak bolak-balik flashback. Jadi sabar ya👌
Damian Zanuar (ayah Wildan)
Thania Winarta (ibu Wildan)
Hendrick Wiguna (ayah Ami)
Patricia Efendy (ibu Ami)
Mereka adalah kakek dan nenek Freya dari kedua belah pihak.
Start
Singapura
Sepasang suami yang sudah tiga tahun menikah namun belum dikarunia seorang anak, duduk di hadapan kedua orang tua mereka.
"Papa dan mama sudah tidak sabar memiliki seorang cucu. Kalian sudah tiga tahun menikah, tapi kenapa Ami belum juga hamil?"
Ami meremas tangannya, selalu seperti ini jika orang tua mereka membicarakan soal cucu.
Wildan menggenggam tangan Ami, mencoba menguatkan istrinya yang merasa tertekan itu. Mereka juga sangat ingin memiliki anak, sama seperti teman-teman mereka yang lain. Tapi jika memang belum dikasih, mereka bisa apa? Toh selama ini mereka juga sudah berusaha dan terus berdoa.
Dengan usaha yang tidak pernah putus, menjaga pola makan dan hidup dengan lebih sehat, enam bulan kemudian, Ami dinyatakan hamil, kedua keluarga merasa sangat senang.
"Akhirnya kita akan punya cucu juga, ya. Kamu harus menjaga kondisi kamu, Ami. Jangan sampai kelelahan," ucap Thania yang merupakan seorang dokter, anak dari pemilik rumah sakit besar yang tersebar di berbagai negara.
"Semoga saja cucu pertama kita laki-laki, agar bisa menjadi penerus perusahaan Zanuar." Damian ikut menimpali, karena dia hanya punya satu anak saja, yaitu Wildan. Damian ingin cucu pertamanya nanti adalah laki-laki yang pastinya akan menjadi penerus keluarga Zanuar.
"Yang jelas dia harus punya bakat seni seperti keluarga kami."
Hendrick dan Patricia pun tak ingin kalah. Perdebatan-perdebatan kecil yang ringan mulai terjadi, soal henis kelamin, juga tentang masalah pewaris.
Waktu berlalu, Ami semakin dimanja oleh kedua mertuanya. Saat USG, mereka merasa kecewa karena hasil dari USG tersebut menunjukkan bahwa jenis kelamin anak tersebut adalah perempuan.
"Belum pasti juga kan, bisa saja laki-laki. Hasil USG belum pasti akurat 100%.
Waktunya Ami melahirkan, dan ternyata anaknya adalah perempuan. Damian lah yang paling kecewa mengetahui jenis kelamin bayi tersebut. Harapannya untuk memiliki cucu laki-laki langsung sirna.
" Wah, wajahnya mirip papa ya! Halo sayang, ini kakek, nanti kamu kakek jadikan artis, ya."
Meskipun sedikit kecewa, namun Hendrick merasa senang karena cucu perempuan dari anak perempuannya ini wajahnya mirip dirinya. Dia juga berharap cucunya ini juga mewarisi darah seni dari keluarga besar mereka.
"Kalian harus segera punya anak lagi, papi harap nanti laki-laki." Damian tidak ingin menyerah begitu saja. Dia sangat ingin memiliki cucu laki-laki, dan dia Haris mendapatkannya.
__ADS_1
Seiring berjalannya waktu, Damian mencoba mengajari Anya tentang bisnis, padahal umurnya baru tiga tahun. Namun Anya lebih tertarik dengan dunia model. Dia terlihat centil dengan suka memoles makeup dan mencoba berbagai model baju untuk seusianya.
Hendrick dan Patricia lah yang paling antusias.
"Kamu belum hamil lagi, Mi?" tanya Damian.
"Belum Pi, doakan saja Ami segera hamil lagi dan memberikan cucu laki-laki untuk papi dan mami."
Tidak lama kemudian Ami kembali dinyatakan hamil. Hal ini disambut bahagia oleh Damian. Dia sangat berharap cucunya kali ini adalah laki-laki, bukan perempuan.
Berharap bahwa anak yang dikandung menantunya itu adalah laki-laki, Damian dan Thania sangat memanjakan Ami. Hasil USG juga menunjukkan bahwa anak yang dikandungnya itu adalah laki-laki.
"Papi akan menghadiahkan W'B untuk anak ini."
W'B adalah salah satu perusahaan milik Damian, yang bergerak di bidang konstruksi terbesar.
Damian dan Thania selalu mengajak anak yang ada dalam kandungan Ami berbicara. Jika Damian membicarakan tentang bisnis, maka Thania masalah kedokteran.
"Ya siapa tahu saja kan, nanti dia jadi dokter."
"Dia harus jadi pengusaha, yang akan mewarisi perusahaan Zanuar."
"Kan ada Anya."
"Anak itu tahunya hanya bersolek saja."
"Bisnis kan bisa kamu dan Wildan yang mengajarkan, tapi kalau dokter ya harus dengan pendidikan resmi, harus kuliah kedokteran."
Harapan Damian dan Thania sangatlah besar akan anak kedua tersebut. Semua yang diinginkan oleh Ami dilakukan oleh mertuanya itu, dengan harapan bahwa anak itu akan mengikuti jejak mereka.
Tiba lah waktunya melahirkan. Saat Wildan keluar dari ruang persalinan, dia mengatakan bahwa anak mereka perempuan lagi, membuat Damian sangat marah dan kecewa.
Dia enggan menemui Ami dan cucu keduanya tersebut. Namun, atas bujukan Thania akhirnya dia menemui mereka juga.
"Freya Canaya Zanuar."
Damian memberikan nama untuk cucunya tersebut yang wajahnya mirip dengan dirinya. Setidaknya, wajah bayi yang mirip dengannya itu, bisa sedikit menghibur dirinya. Sedikit, hanya sedikit.
"Wah, cantik sekali, kalau jadi artis pasti akan sangat terkenal," ucap Patricia yang diangguki oleh Hendrick.
Damian mendengkus.
"Yang ini milikku, kalian sudah ada Anya."
"Anya, coba lihat nih dedek bayinya, cantik, ya?"
Anya mencium pipi Freya yang meninggalkan bekas lipstik untuk anak-anak itu di pipi mulus Freya, membuat yang lain tertawa.
Damian dan Thania menghela nafas saat melihat wajah mungil Freya. Meskipun kecewa, namun keduanya bertekat akan menjadikan Freya sebagai pewaris mereka, jika Ami tidak memiliki anak laki-laki.
__ADS_1