
Setiap hari Emily selalu memperhatikan Deo. Sayangnya pria tersebut tidak pernah memperhatikannya.
"Deo, ini buat kamu. Aku dapat kiriman coklat dari Swiss." Mily memberikan paper bag yang isinya berbagai jenis coklat pada Deo.
Deo mengambil coklat itu dengan senang. Melihat wajah Deo yang tersenyum, dan semakin menunjukkan ketampanannya, membuat Emily sangat senang. Tapi senyuman di wajah Mily langsung hilang, ketika Deo memasukkan paper bag itu ke dalam tas Yuri. Sedangkan Yuri sendiri saat ini tidak ada di dalam kelas, hanya ada tasnya saja.
"Itukan buat kamu, kenapa kamu masukin ke dalam tas Yuri?"
"Kan ini sudah kamu kasih ke aku, terserah aku dong mau aku apakan."
Deo benar-benar tidak ada basa-basinya. Bahkan dia tidak merasa bersalah sedikit pun.
"Tapi kamu tidak perlu memberikan semuanya untuk Yuri."
"Kan aku sudah bilang, terserah aku, dong!"
Deo langsung keluar kelas, meninggalkan Emily yang menatapnya. Sikap Deo yang seperti itu semakin membuat Emily penasaran dan tertantang.
Dia sudah tertarik dengan Deo saat pertama kali melihat pemuda itu. Tidak lama kemudian satu persatu murid kelas mereka datang. Deo kembali masuk ke kelas sambil mengacak-acak rambut Yuri, membuat Yuri kesal lalu mengacak-acak juga rambut Deo.
"Dilarang KDRT!" celetuk Chia.
"Perhatian semuanya. Manteman, besok Putria ulang tahun, kalian datang semuanya, ya. Harus datang, jangan sampai tidak datang, " ucap Putria memberi tahu mereka.
__ADS_1
"Enggak janji ya, Put. Kan aku harus membantu orang tua aku dulu."
"Hm, iya deh. Tapi kalau bisa kalian semua datang, ya. Ini kan tahun terakhir kita ada di sekolah ini. Nanti kalau kita sudah lulus, belum tentu ketemu lagi. Mungkin ada yang lanjut kuliah di luar negeri atau luar kota. Ada juga yang langsung nyari kerja."
"Iya, mungkin ada juga yang langsung nikah," celetuk Chia.
"Huuu ... dasar Chia, nikah saja yang dipikirkan."
"Yeee, bisa saja, kan. Awas saja ya kalau benar, pas lulusan ada yang langsung nikah. Aku ketawain dia!"
Deg
Jantung Yuri berdetak kencang. Bagaimana kalau teman-temannya tahu dia bahkan sudah menikah sebelum lulus SMA.
Deo yang melihat Yuri menunduk, langsung menggenggam tangan gadis itu.
Brak!
"Eh iya iya, ayo Deo kita nikah!" celetuk Yuri karena kaget saat mendengar suara itu.
Hening
Hening
__ADS_1
Hening
"Wkwkwk, Deo dilamar sama Yuri."
"Woy, siapa sih yang bikin kaget! Nanti kalau Yuri jantungan gimana?"
Brak
Kembali terdengar suara gebrakan.
"Saya yang bikin kaget. Kalian ini, bel sudah bunyi sejak tadi tetap saja ribut."
Mereka langsung melihat ke depan. Sejak tadi tidak ada yang memperhatikan.
Kapan bel berbunyi?
Kapan guru killer itu masuk?
"Yang masih mau ngobrol, keluar sana!"
Mereka mulai mengambil buku, begitu juga dengan Yuri. Dia langsung tersenyum cerah saat melihat ada banyak coklat di dalam tasnya. Rasanya sudah tidak sabar untuk mencicipinya. Dia langsung membuka satu bungkus coklat. Deo yang melihat itu langsung tersenyum. Dia bahkan melindungi Yuri yang makan diam-diam.
Melihat itu, Emily menjadi iri. Kenapa bukan dia yang ada di posisi Yuri.
__ADS_1
Kenapa bukan aku yang seperti itu dengan Deo? Kenapa Deo kelihatannya sangat perhatian kepada Yuri? Apa Deo menyukai Yuri?
Memikirkan dan membayangkan Deo yang menyukai dan selalu bersikap lembut pada Yuri, membuat Emily menjadi tidak suka.