Aksana

Aksana
00. AKSANA


__ADS_3


Kringggg....


Bunyi dering alarm berbunyi menggema di sebuah ruangan persegi panjang, berwarna putih biru.


Sudah lima belas kali bunyi alarm terdengar. Bunyinya yang keras sampai terdengar hingga di lantai bawah. Sang Mama yang sudah bersiap dengan sapu lidi di tangannya mulai kehabisan pasokan kesabaran.


Perlahan wanita itu naik ke atas, menyusul putrinya yang sampai saat ini masih belum menampakkan diri untuk turun ke bawah.


Dug... dug... dug...


Dia mulai menggedor pintu sang putri, mencoba membangunkan putrinya yang masih terlelap dalam mimpi.


"ANALA! SUDAH JAM BERAPA INI. KENAPA BELUM BANGUN-BANGUN JUGA?" teriaknya dari arah luar, masih mencoba membangunkan putrinya meski dia tau jika anaknya tak akan bangun.


"Anala, ayo bangun. Nanti kamu kesiangan lagi," dengan nada yang mulai merendah. Zora berusaha sabar atas kelakuan putrinya, Anala.


Bukannya membalas perkataan sang Mama dan bangkit dari tidurnya. Anala semakin menarik selimutnya, menutupi seluruh tubuhnya. Menghiraukan panggilan Zora dan melanjutkan tidur.


"Mama tau kamu udah bangun. Sekarang bangun terus turun. Jangan sampai Mama masuk ke dalam dan seret kamu," ancam Zora. Namun, lagi dan lagi Anala hanya diam.


Kriettt...


Tak berselang lama, bunyi pintu terbuka terdengar. Zora berhasil masuk dengan kunci cadangan yang selalu dia simpan. Zora menggeleng kepala, melihat putrinya yang terlelap dalam selimut tebal.


Tak ada pilihan lain untuk Zora, dia langsung mematikan AC yang menyala, lalu menyalakan lampu kamar, tak hanya itu dia juga membuka jendela, menarik gorden hingga sinar matahari masuk ke dalam.


Awalnya Anala diam, tak membalas. Sampai akhirnya dia membuka kasar selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya.


Keringat mulai bercucuran membasahi wajah cantiknya. Dengan kesal, dia menatap tajam Zora yang masih sibuk menggulung gorden.

__ADS_1


"Mama ngapain sih. Panas tau," sungutnya merasakan panas. Anala mendengus saat sinar matahari menerpa wajahnya.


"Kalau gak gini kamu gak bakal bangun. Udah sana, mandi!" perintah Zora melipat kedua tangannya di depan dada.


"Masih ngantuk Ma," rengek Anala.


"Gak ada, ayo bangun. Udah kesiangan kamu," Zora berjalan mendekati kasur Anala. Menarik gadis itu untuk segara merubah posisinya menjadi duduk.


"Salah siapa semalam begadang. Mama kan udah bilang ke kamu, kalau hari ini harus sekolah. Makanya kalau Mama ngomong dengerin," omel Zora.


"Iya-iya ini bangun," masih dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul Anala bangkit dari posisinya.


Memilih untuk bersiap pergi ke sekolah dibandingkan harus debat bersama Zora, yang dia yakini akan kalah.


"Mama tunggu di bawah," ucap Zora sebelum pergi beranjak meninggalkan kamar putrinya.


Anala berdecak pelan melihat kepergian Zora. Sambil memijit pelipisnya yang terasa pusing. Semalam dia memang begadang untuk marathon film, dan berakhirlah dengannya yang bangun terlambat.


Tak butuh waktu lama untuk Anala bersiap. Gadis itu keluar dengan seragam putih abu-abu yang melekat pas di tubuhnya yang mungil.


"Anala, ayo turun. Keburu telat nanti," teriakan Zora kembali terdengar membuat Anala yang ingin merapikan rambut jadi mengurungkan niatnya.


Anala langsung mengikat asal rambutnya, menyambar jaket rajut berwarna hitam kemudian turun ke bawah. Menyusul Zora yang terus-menerus memanggilnya.


"Iya Ma, sebentar."


Anala mulai menuruni anak tangga, menyusul Zora yang sudah siap di ruang makan. Wanita itu sudah duduk di kursinya, sambil menuangkan susu ke dalam gelas.


"Minum dulu susunya," Zora menyerahkan segelas susu segar yang baru saja dia siapkan. Anala tak dapat menolak, dia menurut dan meminumnya hingga setengah.


"Nala bolos aja deh. Besok aja sekolahnya. Percuma kalau berangkat sekarang, nanti yang ada Nala dihukum karena telat." Nala nampak memohon, meminta membolos sekolah.

__ADS_1


Karena dia yakin, setibanya dia di sekolah nanti. Nala akan dihukum karena terlambat. Masalahnya, ini bukan awal pertamanya telat. Ditambah hari ini adalah hari Senin, yang artinya akan ada kegiatan upacara.


"Males banget kalau nanti bakalan ketemu sama Ketos sialan itu," ujarnya lagi.


"Enggak ada kata bolos. Udah berapa kali kamu bolos sekolah dibulan ini?" tanya Zora, tak mengizinkan putrinya untuk membolos kelas.


"Dari pada anaknya dihukum? Mama mau anaknya jadi item karena berdiri lama di lapangan?"


"Salah kamu sendiri kan. Siapa yang suruh kamu buat begadang semalam?" Zora menatap Anala, membuatnya mendengus.


"Berangkat sekarang. Ada pak Bakti di depan. Dia udah nunggu kamu," kata Zora merapikan piring dan gelas kotor. Menaruhnya ke dalam wastafel lalu kembali menghampiri Anala.


"Ma..."


"Gak ada, ayo berangkat. Katanya gak mau dihukum, mumpung masih ada waktu buat ke sekolah."


Zora mendorong tubuh Anala untuk melangkah keluar, menyusul Pak Bakti—sang supir yang sudah menunggunya di depan.


"Tapi kan Ma..." belum sempat Anala berkata kembali, Zora lebih dulu memotong ucapannya.


"Gak ada kata tapi Nala. Kalau kamu terus disini, kapan sampainya? Udah sana berangkat," setibanya mereka di depan, Zora menyuruh Anala untuk masuk ke dalam mobil.


"Yaudah deh, Anala berangkat."


Dengan dongkol, Anala menurut. Menyalami tangan Zora sebelum masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati ya!" Zora melambaikan tangan.


Sementara Anala yang berada di dalam mobil berdecak. Perasaan sudah tak enak sekarang, dia yakin jika nanti akan mendapatkan masalah di sekolah akibat terlambat.


Perlahan mobil mulai berjalan meninggalkan pekarangan rumah. Zora masih melambaikan tangannya sampai mobil itu tak terlihat baru masuk ke dalam, melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.

__ADS_1


***


Ini novel pengganti cerita sebelumnya. Semoga suka!


__ADS_2