
Pagi suasana sekolah terbilang cukup ramai, mengingat ujian sekolah telah berakhir kemarin, dan sekarang semuanya berkumpul di lapangan untuk persiapan perpisahan yang akan dilaksanakan besok lusa.
Manik cowok berjaket denim dengan celana hitam dan sepatu putih itu menatap sekeliling. Dia baru saja keluar dari ruang rapat setelah tadi kurang lebih dua puluh menit berkumpul bersama teman-temannya yang lain untuk membahas susunan acara perpisahan esok.
Aksara, menatap lapangan sekolah yang ramai. Banyak dari mereka yang mengambil foto, mengabadikan momen yang mungkin tak akan bisa mereka lakukan kembali. Cowok berjaket denim itu melangkah mendekati perempuan berambut pirang sepinggang yang kini menggunakan dress pink bermotif bunga.
"Ser," panggil Aksara membuat Seira yang tengah mengobrol bersama temannya menoleh.
Seira mengerutkan dahi. "Ada apa, Sa?" tanyanya.
"Lo liat Nala gak? Tadi gue tinggal rapat bentar tadi."
Seira menggeleng pelan, "Tadi sih sama gue. Terus diajak Natasya ke kantin, gak tau lagi deh ke mana. Tuh coba lo tanya dia," tunjuk Seira pada Natasya yang baru saja keluar dari kantin seorang diri.
Mendengar itu Aksara mengangguk paham, ia meninggalkan Seira, kakinya melangkah mendekati Natasya yang asik menikmati jajannya. Perempuan itu tampak sibuk dengan benda pipih di telinganya.
"Nat," panggil Aksara membuat Natasya melirik ke samping dan langsung menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Eh Aksa, kenapa?"
"Lihat Nala gak? Tadi kata Seira, Nala sama lo ke kantin?" tanyanya, maniknya sesekali menatap ke dalam kantin. Mencari Nala, kali aja perempuan itu ada di sana. Tapi ternyata, ia tak menemukan keberadaan Nala.
Natasya mengerutkan dahi bingung, menatap Aksara seraya berfikir sebentar.
"Tadi emang ngobrol sama gue sih. Tapi dia bilang mau nunggu lo di lapangan aja. Ya udah gue biarin, habis itu gak tau ke mana," jelasnya sambil menghabiskan camilan di tangan.
"Oke, thanks." Aksara berlalu dari hadapan Natasya, cowok itu melangkah menjauhi lapangan. Tangannya merogoh ponsel yang tersimpan di dalam saku celana, mencari kontak Nala.
...
Di taman belakang sekolah Nala duduk seorang diri. Di sana tak ada orang selain dirinya. Di temani sebungkus coklat, Nala memandang langit yang pagi itu terlihat cerah.
drtt drtt drtt
Nala mengalihkan atensinya ke arah ponselnya yang tergeletak di sebelahnya. Nama Zora tercantum di sana, membuatnya segera mengangkat panggilan.
Dengan susah payah Nala menelan coklat terakhir di mulutnya. Dia berdeham singkat sebelum membalas panggilan dari sang Mama.
"Halo Ma, ada apa?"
"Halo Nal, sekarang lagi di mana?"
"Lagi di sekolah, persiapan buat perpisahan lusa. Kenapa Ma," tanya balik Nala.
"Gini, nanti malam kamu hadir ya ke acara makan malam. Adiknya Bunda Mila baru lahiran dua hari yang lalu. Mama baru di kasih tau sama Mamanya Aksara."
"Harus banget Ma?" Nala mengigit jarinya dengan ragu. Kalau boleh jujur, dia takut bertemu dengan Rianna— nenek Aksara. Pasti wanita itu ada di sana nanti.
"Ya harus dong. Masa gak datang. Kamu udah bagian dari keluarga mereka Nal. Gak enak juga kalau gak datang."
"Iya Ma tau, tapi kan..."
"Kamu takut sama Neneknya Aksara?" tebak Zora tepat sasaran. "Nal, dia begitu karena masih belum terima aja. Percaya deh sama Mama, kalau kamu bisa luluhin hatinya pasti dia bisa terima kamu."
"Sudah Ma, tapi gak bisa." Nala mendesah kasar, sudah beberapa kali dieinya mencoba mengambil alih hati Rianna, tapi yang wanita paru baya itu lakukan adalah cuek, bahkan terkesan tak memperdulikannya.
__ADS_1
"Ya kalau begitu kamu harus berusaha lagi. Neneknya Aksara memang seperti itu. Dia berlaku kayak gini karena dia orang yang disiplin dan tegas," jelas Zora. "Nanti malam dia bakal datang ke sana. Dan ini menjadi kesempatan kamu buat ambil hati dia, oke?"
Nala bergumam malas, "Iya, tapi nanti Mama ke sana juga kan?"
"Iya dong, Mama sama Abel ke sana nanti. Tapi mungkin sedikit telat karena katanya Abel ada urusan sama teman-temannya dulu. Ya udah, Mama tutup panggilannya ya, nanti malam dandan yang rapi. Kita ketemuan di sana!"
Nala memutuskan panggilan setelah membalas pamitan sang Mama. Perempuan itu lagi-lagi menghela napas panjang, sekarang dia bingung harus berbuat apa nanti malam untuk mengambil hati Rianna.
Memikirkan itu membuat kepalanya pusing. Nala menyimpan ponselnya dalam tas, ia kembali menatap langit yang perlahan matahari menyorot tubuhnya.
"Nala," panggil seseorang dari belakang.
Nala mengalihkan atensinya ke sumber suara, dia menoleh dan mendapati Aksara sudah berada di belakangnya. Cowok itu lantas duduk di sebelah lalu mengelap keringat yang perlahan membasahi wajah.
"Aku cari dari tadi ternyata ada disini," ujar Aksara membuat Nala menatap cowok itu sepenuhnya. "Oh iya, tadi Bunda kasih kabar kalau nanti malam bakal ada acara makan malam bareng."
Nala mengangguk pelan. "Udah tau," balasnya membuat Aksara mengerutkan dahi. "Mama barusan nelpon. Dia bilang kayak gitu juga," lanjutnya.
"Aksa," panggil Nala menyandarkan kepalanya pada bahu Aksara. Aksara menoleh, ia mengusap lembut rambut panjang Nala. "Takut," bisiknya.
"Takut sama Nenek?" Nala mengangguk pelan membuat Aksara terkekeh pelan. "Kenapa harus takut? Nenek gak gigit orang," katanya yang langsung mendapatkan cubitan manis di perut.
"Akh..." Aksara meringis pelan.
"Aku serius!" dengus Nala membuat Aksara mengacak gemas rambut Nala, membuat perempuan itu semakin kesal.
"JANGAN DIBERANTAKIN!" lupakan satu hal bahwa Nala membenci jika seseorang dengan sengaja merusak rambutnya.
Aksara tertawa mendengar itu. Ia paling senang mengerjai Nala, sampai perempuan itu benar-benar kesal dan marah padanya.
"Nala..." Aksara memegang kedua pundak Nala, menatapnya dalam. "Dengerin aku, Nenek seperti itu karena dia orang yang disiplin. Sejak dulu Nenek paling gak suka sama orang yang terlambat, apalagi menyepelekan waktu. Karena bagi dia, waktu itu berharga. Gak peduli alasan kamu telat itu kenapa, karena Nenek sudah merelakan waktunya tapi orang yang ingin bertemu dengannya malah terlambat. Nenek benci sama itu," jelas Aksara mencoba meyakinkan Nala agar perempuan di hadapannya ini tak takut kembali.
...
Mobil memasuki pekarangan rumah bernuasa Eropa. Aksara memarkirkan mobilnya di dalam garasi. Setelah memarkirkan mobilnya, Aksara keluar lebih dulu, cowok dengan setelan tuxedo hitam perlahan mengitari mobil, membukakan pintu untuk Nala.
Nala terkesip dengan perlakuan Aksara, perempuan itu tersenyum senang dan membalas uluran tangan Aksara. Keduanya melangkah masuk ke dalam setelah menyapa penjaga di depan.
"Jangan gugup," bisik Aksara mengusap lembut pundak Nala. "Aku tau kamu bisa Nal. Jadi jangan takut, ada aku disini," bisiknya lagi ketika keduanya sudah berada di dalam.
Nala mengangguk, meyakinkan dirinya. "Rame banget," ujarnya menatap sekeliling. Ramai orang, banyak dari mereka adalah orang-orang penting. Nala bahkan tak menyangka jika akan sebanyak ini orangnya.
"KAK!" Abel berlari menghampirinya, sambil membawa secup es krim, gadis dengan dress hitam itu mendekatinya.
"Udah datang? Katanya lo telat," Nala melirik ke belakang. Menatap Zora yang melayangkan senyuman, wanita itu sibuk mengobrol bersama tamu undangan.
"Telat dikit tadi," balas Abel menyantap es krim nya. "Mau gak?" tawarnya menyodorkan sendok es krim pada Nala.
"Ambilin dong," Abel memutar bola mata malas saat Nala menyuruhnya untuk mengambilkan es krim, tau begini tadi dirinya tak usah menawarkan. Meski begitu, Abel menuruti permintaan sang kakak, itung-itung berbakti.
Tak berselang lama, Abel kembali datang dengan dua cup es krim dengan rasa berbeda, satu vanila dan satu coklat.
"Kok ngambil dua. Gue kan mintanya satu," ujar Nala mengambil cup es krim dari tangan Abel, mengambil rasa coklat.
"Buat gue," katanya kembali memasukkan es krim itu ke dalam mulutnya. Lalu, gadis itu pamit pada Nala dan Aksara. Dia masih ingin berkeliling ke sana sambil mencari makanan.
"Mau masuk sekarang?" tanya Aksara begitu Abel sudah pergi dari hadapan keduanya.
__ADS_1
Nala mengigit bibirnya ragu, tak lama menganggukkan kepala. "Boleh, ayo." Aksara menggengam tangan Nala, keduanya melangkah memasuki salah satu ruang. Di dalam sudah banyak orang, sepertinya mereka keluarga inti.
"Aksa, kamu datang juga? Tante kira gak bakal datang," sapa salah satu wanita yang usianya tak beda jauh dari Zora. Wanita itu tersenyum hangat padanya, lalu memeluk Aksara sekilas seblum beralih pada Nala.
"Kamu...., Nala bukan?" tanyanya membuat Nala mengerjap, tau dari mana oran ini?
"I-iya Tante, saya Nala."
"Ya ampun cantik banget sih. Mama kamu kayaknya gak salah pilih orang deh," puji wanita yang baru saja Aksara panggil dengan sebutan Linda.
"M-makasih Tante," Nala tersenyum canggung, meski begitu dirinya senang karena dipuji.
"Kalau mau nengkok Hanis, itu dia. Lagi di gendong sama Papanya," ujar Tante Linda menunjuk sang suami yang berdiri tak jauh dari hadapan mereka sekarang tengah menggendong bayi perempuan di tangan kanannya.
"Namanya cantik," gumam Nala yang masih dapat di dengar Tante Linda dan Aksara.
"Kamu juga cantik, kayak orangnya." Tante Linda memuji balik membuat Nala salah tingkah.
"Tante, selamat ya atas kelahiran Hanis!" ujar Nala hampir melupakan itu. Dia memberikan bingkisan yang sebelumnya sudah dia beli tadi saat hendak kemari.
"Wah makasih banyak ya hadiahnya," Tante Linda menerimanya dengan senang membuat Nala sedikit bisa bernapas lega.
"Ayo liat baby nya," ajak Aksara mengajak Nala untuk mendekati bayi perempuan yang baru lahir beberapa hari itu.
"Bayinya lucu," katanya menatap gemas bayi yang kini tertidur pulas di gendongan sang Ayah.
"Mau coba gendong?" tawar Alan, suami Tante Linda kepada Nala.
"Emang boleh?" Nala menatap Aksara lalu pria paru baya di hadapannya bergantian.
"Boleh dong, ini pelan-pelan ya." Alan menyerahkan putrinya ke Nala, dengan hati-hati perempuan itu menerimanya.
"Ih udah cocok nih jadi Mama!" cetus Tante Linda yang entah sejak kapan wanita itu berada di sebelahnya. Mendengar itu membuat Nala melirik Aksara, cowok itu nampak tenang dengan wajah datarnya.
Entah mengapa mendengar kata Mama membuatnya bergidik ngeri, membayangkannya saja takut, bagaimana nanti melakukannya.
"Masih lama Tante, baru juga kemarin selesai ujian." Nala tertawa canggung.
"Udah lulus kan? Tuh, pasti Aksara udah nunggu. Ayo cepetan, biar nanti Hanis ada temannya," Tante Linda mencoba untuk tak tertawa saat melihat wajah Nala yang berubah memerah.
"Aksa, udah siap belum jadi Papa muda?" kini Tante Linda beralih pada Aksara. Yang ditanya hanya tersenyum sambil melirik Nala.
"Aksa sih siap aja Tan. Tapi gak tau nih, Ibu nya gimana. Udah siap belum?" Aksara berucap santai. Andai saja bukan bayi yang Nala pegang saat ini, sudah Nala pastikan wajah Aksara akan habis di tangannya.
...
...HAI HAI HAI HAII!! APA KABAR KALIAN? 🤩...
...Udah lama aku gak nyapa kali disini nih. Masih tetap stay atau udah move on ke cerita lain? ...
...SEE YOU NEW STORY YA?! 🧚🏻♀️...
...SEHAT-SEHAT KALIAN SEMUAAA 🎀...
__ADS_1
...btw, lanjut atau udahan?...