Aksana

Aksana
36. AKSANA


__ADS_3


Mobil Aksara berhenti tepat di depan halaman rumah Nala. Nala yang hendak tidur jadi mengurungkan niatnya itu, gadis itu menatap sekitar yang nampak tak asing baginya kemudian melirik Aksara sekilas. Aksara mengemasi barangnya dan keluar dari mobil, membuat Nala mengekor di belakangnya.


"Kalian sudah datang?" masih menggunakan celemek, Zora keluar dari dapur setelah mendengar bunyi mesin berhenti. Wanita paru baya itu melangkah mendekati Nala dan Aksara yang sudah duduk di sofa ruang tengah.


"Iya Ma, Mama apa kabar?" tanya Aksara dengan sopan kemudian menyalami tangan wanita paru baya di hadapannya, hal yang sama dilakukan Nala.


"Mama baik Sa," balas Zora.


"Ma," panggil Nala melirik mamanya sekilas. "Abel di mana? Dia udah pulang belum?" tanya gadis itu menatap ke atas, tepat di sebelah kamarnya pintu kamar bercat putih itu terbuka.


"Ada di kamar. Sudah pulang dari tadi dia," kata Zora membuat Nala beranjak dari tempatnya dan naik ke atas.


"Lo makan aja duluan sama Mama, ntar gue nyusul." Itu kata Nala sebelum menghilang dari pandangan Zora dan Aksara, gadis itu nampak buru-buru menaiki tangga.


"GUE KASIH GOCAP! KALO LO MAU BANTU NGERJAIN TUGAS MAKALAH GUE!"


Tanpa mengetuk pintu dan mengucapkan salam, Nala berteriak pada Abel yang kini tengah asik menonton film.


Namun naas, Abel tak merespons ucapannya. Adiknya itu malah semakin fokus pada layar pipih di tangannya, menghiraukan ucapan Nala.


Nala menghela napas, lalu duduk di samping tubuh Abel. "Bel, bantuin gue kerjain makalah Sejarah dong." Dengan memelas, Nala meminta bantuan Abel, entah pada siapa lagi ia meminta bantuan sekarang.


Abel menoleh, tak menjawab perkataan Nala ia malah menaruh telapak tangannya ke atas dahi Nala yang langsung gadis itu tepis.


"Tumben-tumbenan lo minta tolong gue, ada apakah gerangan?" Usai bertanya demikian, Abel kembali memutar film nya, setelah beberapa saat terhenti karena kehadiran Nala, kakanya.


"Gue serius Bel, bantuin gue dong. Lo kan pinter bikin-bikin begituan. Apalagi nilai IPS lo bagus kan, bantuin gue ya? Ya? Ya?"


"Nggak! Gue sibuk!" tolak Abel.


"Besok terakhir Bel, please..." Kali ini, Nala terdengar memohon.


"Perasaan lo yang lebih tua dari gue kenapa harus gue yang bantuin lo sih? Harusnya lo yang bantuin gue ngerjain tugas. Bukan malah sebaliknya gini!"


Sebal, itu yang Abel rasakan sekarang. Bayangkan saja, disaat dia tengah menikmati waktu istirahat Nala hadir dan langsung memintanya untuk membantu mengerjakan tugas.


"Kalau nggak penting ngapain juga gue minta tolong lo," ketus Nala.


Jika memang bisa mengerjakan sendiri ia akan melakukannya, tapi karena dasarnya Nala yang memang tak suka membaca buku apalagi tugasnya seperti ini sudah membuatnya malas lebih dulu.


"Gue serius Bel. Kalau lo bisa bantu gue, gue bakal traktir apapun yang lo mau. Kemarin lo mau gantungan kunci kan? Setelah selesai lo bisa CO," Nala memberikan penawaran, mencoba meyakinkan Abel.

__ADS_1


Abel menyingkirkan IPad nya ke atas meja, merapikan sprei kasur yang berantakan akibat remahan jajan. "Telat! Udah gue CO kemarin," katanya membuat Nala berdecak.


"Daripada lo mohon-mohon ke gue mending lo minta bantuan Kak Aksa deh, kan dia pinter tuh. Pasti ngerti lah tugasnya gimana. Jangan tanya gue yang baru anak SMP," ucapan Abel kali ini membuat Nala mengumpat, kenapa tak kepikiran.


...


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, dan Nala belum juga selesai mengerjakan tugas makalah. Dia baru mengerjakan bagian pendahuluan, itupun tak sepenuhnya benar karena ia melihat dari internet.


"Baru juga jam tujuh tapi nih mata udah berat banget. Mana kepala gue pusing lagi. Kalau gue tidur ini tugas siapa yang bakal ngerjain coba?" gumam Nala menatap layar laptop di atas pangkuannya.


Berulang kali Nala menguap, dia sudah mengantuk berat, padahal satu jam yang lalu dia meneguk segelas kopi agar tak mengantuk tapi kenapa kini ia malah seperti terbius.


"Terus gunanya gue tadi minum kopi buat apaan kalau ujung-unjungnya bakal ngantuk begini," ia berusaha untuk tetap terjaga meski kedua matanya memberontak untuk menutup.


"Kalau udah ngantuk tidur, jangan dipaksa. Ntar tubuh lo capek," ujar Aksara yang entah sejak kapan cowok itu berada di dalam kamar. Sejak tadi sore ia berada di luar, tepatnya di apartemen Sabrina yang berada di samping apartemen mereka berdua.


Iya, Sabrina jadi pindah. Dan sejak tadi Aksara yang membantu mengangkat barang-barang perempuan itu.


"Gimana mau tidur kalau tugas gue belum selesai," meski pelan Aksara dapat mendengar gumaman Nala.


"Tugas apa?" tanya Aksara, kini duduk di samping Nala. Kemudian mengambil alih laptop Nala ke atas pangkuannya. Melihat itu buru-buru Nala menutup layar laptop dengan kedua tangannya, tak membiarkan Aksara membaca isi dari apa yang dirinya tulis.


"Apaan sih, main ambil aja!" kesal Nala, mencoba mengambil alih kembali laptopnya. "Gak usah dibaca, ketikannya jelek. Sini balikin!"


"Jelek," singkat, padat dan jelas sekali komentar Aksara.


"Tugas sejarah kan?" tanya Aksara lalu beranjak dari tempat tidur, cowok itu melangkah mendekati meja belajarnya.


Kegiatan Aksara tak lepas dari Nala yang terus menatapnya. Ia tampak sibuk mencari sesuatu di dalam lemari. Setelah berhasil menemukannya, Aksara kembali menghampiri Nala sembari membawa beberapa buku tebal di kedua tangannya.


"Lo bisa pake ini buat tugas makalah lo," kata cowok itu menyerahkan buku berukuran tebal pada Nala.


"Segini banyak?" tanya Nala tak percaya.


"Itu masih dikit, belum semuanya. Kalau lo mau nunggu bisa gue cari di gudang," ujar Aksara yang langsung Nala balas gelenggan.


"Enggak, enggak, enggak. S-segini udah cukup kok," tak bisa Nala bayangkan jika Aksata benar-benar mengambil buku dan Nala harus membacanya.


"Buruan dikerjain, biar lo bisa istirahat cepet." Aksara terlihat begitu mengkhawatirkan Nala, ia tak ingin terjadi apa-apa pada perempuan itu.


"Tunggu!" Nala mencegah Aksara pergi, membuatnya menoleh ke belakang dengan kening berkerut.


"Times New Roman, ukuran dua belas buat teks, judul bab ukuran empat belas, setiap bab pakai huruf kapital, bab jangan lupa di bold, spasi satu koma lima." Aksara menjelaskan cara pembuatan makalah. Namun bukan itu yang Nala inginkan.

__ADS_1


"Kalau itu gue udah tau."


"Ya udah dikerjain. Gue mau keluar, mau bantu Sabrina. Semuanya ada di buku, jangan malas baca biar gak binggung," ujar Aksara berlalu pergi meninggalkan kamar. Nala yang ingin menanyakan bagaimana cara membuat pendahuluan jadi kesal karena belum mendapatkan jawaban.


Karena tak ada pilihan lain, Nala pun segara mengirimkan pesan kepada ketiga temannya dan meminta bantuan mereka untuk membantunya mengerjakan tugas.





Nala tersenyum senang saat Agathis membantu mengerjakan tugasnya, meski hanya 2 halaman.


Menyadari bahwa masih banyak yang harus ia ketik, mau tak mau Nala membaca seluruh dokumen yang sebelumnya Agathis beri lalu lanjut mencari di buku.


Belum sempat ia membuka buku Aksara, matanya tertutup rapatβ€” Nala tertidur dengan layar laptop menyala.


...


...BONUS...


...CHAT ANALA DEBORA & AKSARA DEVARA : πŸ§šπŸ»β€β™€οΈ...







...CIEEE NALAA UDAH BUKA-BUKAAN AJA...


...btw, kalian suka ga kalau disetiap part ada bonus chat kayak gini? atau cuma foto visual aja? BANTU KOMEN YUK!!...


...HAPPY NEW YEAR SEMUAA, MAAF TELAT NGUCAPIN. SEMOGA KALIAN SEMUA BAHAGIA DI TAHUN 2023 INI YAA πŸ™‡πŸ»β€β™€οΈβ€...


...maaf kalau telat update, kemarin lumayan sibuk nyiapin acara tahun baru, dan baru bisa up sore inii :(...


...NANA MAU NGUCAPIN BERIBU-RIBU MAKASIH KE KALIAN SEMUA YANG MASIH BACA CERITA NANA! MAAF YAA KALAU BELUM SESUAI EKSPEKTASI KALIAN. MAAF JUGA KALAU AKU SERING INGKAR SAMA APA YANG AKU KETIK TERUTAMA SOAL UPDATE πŸ˜”...

__ADS_1


...Kayaknya alasannya udahpernah aku tulis di sini deh, kalian bisa baca di eps sebelumnyaa. Maafin Nana ya 😭...


...Okay deh, sampai jumpa di eps selanjutnya, ayoo komen di bawa dong... aku mau say hii πŸ˜–...


__ADS_2