
"Gimana Ag, ada balasan gak?" tanya Sera setengah berbisik.
Agathis menggeleng lalu menyerahkan ponselnya pada Sera. Tak ada balasan sama sekali dari Nala. Sudah beberapa panggilan yang dia lakukan untuk mengabari Nala, namun hingga kini sama sekali tak ada jawaban.
"Aduh.. Gimana dong, mana Bu Anjar mau masuk kelas lagi." Sera mengigit jarinya takut.
Cewek itu juga sudah menghubungi Nala, tapi sama seperti Agathis—Nala tak membalasnya. Waktu di telpon juga hanya suara operator yang terdengar.
Sera menggeleng, cewek itu berdiri dari duduknya. Membuat Natasya dan Agathis menoleh, keduanya terdiam sebentar sebelum mencegah kepergian Sera yang ingin meninggalkan kelas.
"Lo mau ke mana?" tanya Natasya.
"Gue mau keluar. Kita gak bisa diem kayak gini, gimana kalau nanti Nala kenapa-kenapa di luar?" dapat tertangkap jelas di kedua bola matanya jika saat ini Sera mengkhawatirkan keadaan Nala.
Pasalnya, sudah hampir lima belas menit Nala belum kembali dari kamar mandi. Pesan yang mereka kirim juga tak dapat tanggapan, panggilan yang mereka tuju hanya terdengar suara operator.
"Jangan, bentar lagi Bu Anjar datang. Kalau lo ikutan pergi nanti malah ketahuan," Agathis menggeleng tegas lalu menarik lengan Sera untuk duduk kembali.
"Bener kata Aga, kalau lo keluar nanti kita juga yang bingung. Paling kalau enggak balik ke kelas, Nala juga cabut. Udah biarin aja," timpal Natasya setuju akan ucapan Agathis barusan.
"Tapi kan—"
Belum sempat Sera menyelesaikan ucapannya, pintu kelas Bahasa 6 terbuka. Bu Anjar datang, membuat anak-anak yang bersantai di depan jadi kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.
"Selamat pagi anak-anak!" sapa Bu Anjar sambil membenarkan kaca mata kotaknya yang melorot.
"PAGI BUUUU!"
"Baiklah, sebelum Ibu mulai pembelajaran pagi ini. Alangkah baiknya kalian mengumpulkan tugas yang sudah Ibu berikan Minggu lalu, kumpulkan di depan. Sesuai absen!" perintahnya dengan tegas.
Satu persatu anak kelas mulai melangkah ke depan sambil membawa buku tulis berisikan tugas mereka. Setelah semuanya mengumpulkan, mereka kembali ke tempat duduk masing-masing.
Agathis mengusap pundak Sera, menenangkan cewek itu untuk tak panik. Mendapatkan elusan lembut membuat Sera menoleh ke belakang. Tatapan sendu terlihat sambil tersenyum lebar Sera menganggukkan kepala.
"Nala bakal baik-baik aja. Kalaupun nanti dia kenapa-kenapa, pasti dia bisa jaga diri dia sendiri. Kayak gak tau temen lo aja," ujar Natasya berbisik.
Dari mereka bertiga yang paling dekat dengan Nala adalah Sera. Sejak bangku SMP, Sera dan Nala berteman sampai duduk di bangku SMA akhir. Dan tahun depan keempat gadis itu akan menjadi mahasiswi.
"Nala bakal aman kok. Dia kan jago bela diri," bisik Agathis juga.
"Apakah semuanya sudah mengumpulkan?" tanya Bu Anjar pada murid-muridnya.
"SUDAH BUUUU!"
__ADS_1
"Ya udah, kalau gitu ibu bakal absen satu persatu. Ada yang gak masuk hari ini?" tanya Bu Anjar kembali, menatap satu persatu muridnya.
Tatapannya terhenti tepat di salah satu bangku kosong samping Agathis. Menyadari bahwa dirinya di lihat, Agathis mendongak—menatap Bu Anjar yang juga menatapnya.
"Sebelah kamu siapa?" tanyanya pada Agathis. Guru itu turun dari tempatnya, melangkah maju mendekati meja samping Agathis yang kosong. Hanya menyisakan tas dan tempat pensil.
"Nala lagi di belakang Bu!" balas Natasya.
"Di belakang?" pandangan Bu Anjar beralih sesaat pada Natasya. "Sejak kapan? Kenapa belum kembali?" tanyanya.
"Saya kurang tau Bu. Tapi tadi dia izin ke belakang. Kayaknya lagi sakit perut, makanya lama. Dari tadi pagi sudah gak enak perutnya," ucap Natasya.
Sementara Sera dan Agathis diam menyimak penjelasan Natasya. Meski dalam hati keduanya takut jika guru di hadapan mereka sekarang tak percaya.
"Selain Nala, ada yang nggak ada di kelas?" tanya Bu Anjar pada yang lain. Tapi tatapannya seketika berhenti tepat di bangku Evan— si anak ketua kelas.
Evan yang merasakan di tatap jadi berdiri dari duduknya. Semua pandangan anak-anak kelas terfokuskan ke arahnya. Evan mengepal kuat kedua tangannya, menguatkan diri.
"A-ada Bu! D-dirga, t-tidak ada di-kelas," ujarnya terbata-bata.
"Dirga?"
Bu Anjar mengangguk kecil, sembari melangkah ke salah satu kursi kosong dekat jendela. Tempatnya berada di ujung kelas. Di sana terdapat salah satu murid laki-laki yang tengah terlelap di atas meja.
Brukk...
"NATHAN, BANGUN KAMU!" teriak Bu Anjar murka.
Nathan merasa tidurnya terusik jadi mengerjap pelan. Sambil mengumpat dia mengubah posisinya menjadi tegak.
Nyawanya yang belum sepenuhnya utuh membuat tubuhnya hampir saja terjatuh dari kursi, jika tak berpegangan pada meja.
"Apaan sih, ganggu banget lo—" Nathan tak jadi menyelesaikan ucapannya. Dengan cepat menutup mulutnya rapat-rapat. Kini Bu Anjar memandangnya tajam.
"Bu Anjar, selamat pagi Bu!" Nathan menggaruk wajahnya yang sama sekali tak gatal sambil tersenyum canggung, dia melambaikan tangan.
"Teman kamu ke mana?" tanyanya lalu melirik kursi kosong samping Nathan yang hanya menyisakan tas.
"Dirga.... " Nathan terdiam cukup lama. Otaknya bekerja untuk memberi alasan yang tepat atas kepergian Dirga yang sampai saat ini belum kembali ke kelas.
"Keluar sekarang juga. Saya kasih waktu kamu sepuluh menit untuk cari teman kamu. Sampai lebih dari waktu yang saya kasih, berdiri di depan kelas hingga pergantian jam tiba. Se-ka-rang!" tegas Bu Anjar menunjuk keluar kelas.
Nathan mengangguk, setelah itu berlari kencang meninggalkan kelas. Menyisakan tawa beberapa murid yang melihatnya hampir saja terjatuh di depan karena terburu-buru.
"Ya sudah kalau gitu, kita langsung lanjut ke pembelajaran selanjutnya. Dan buat kamu, minta Nala untuk segera datang ke kelas, secepatnya!" ujar Bu Anjar pada Natasya sebelum kembali duduk di kursinya.
__ADS_1
...
"Bisa lepasin tangan lo sekarang gak?" Nala masih berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Dirga. Sangat jelas terlihat di wajahnya jika Nala tak nyaman dengan posisi yang seperti ini.
"Jangan berisik Nal. Nanti kedengaran yang lain," Dirga menempelkan tangannya di depan bibir, meminta Nala untuk tak berisik.
"Apaan sih! Dari tadi suruh diem mulu. Lepasin gue, sialan!" umpat Nala, dengan kesal dia mencubit kasar lengan Dirga membuatnya mengaduh pelan.
"Aduh..." ringis Dirga mengusap lengannya yang terkena korban.
"Sakit bodoh!" umpat Dirga tak kalas kasar.
Nala mengangkat bahunya tak acuh. Dengan keras ia mendorong badan Dirga menjauhi tubuhnya. Dirga kembali meringis saat punggung dan kepalanya terbentur.
"Bodo amat, siapa suruh buat peluk—"
"Siapa itu?"
Ucapan Nala menggantung. Tubuh kecilnya seketika memegang, merasakan seretan langkah kaki yang semakin mendekati mereka berdua.
"Sialan, jangan bilang kalau ... " batin Nala memejamkan mata.
"Nggak ada siapa-siapa," ujar cowok bertubuh jenjang mengintip ke bawah kolong tangga. "Perasaan tadi gue dengar suara disini deh," lanjutnya merasa bingung.
"Salah dengar kali, mending lanjut cek yang lain."
Salah satu temannya menariknya pergi meninggalkan tangga. Ketiga anak OSIS itu bertugas mengecek kawasan sekitar, memastikan tak ada yang keluar kelas di jam pelajaran.
Tepat di balik tembok, tak jauh dari tangga tadi Nala dan Dirga bersembunyi. Keduanya bernapas lega karena tak ketahuan. Nala mengatur napas yang terus memburu. Mereka berhasil kabur dari hukuman.
"Kenapa gak bilang sih kalau ada anak OSIS?" Nala menggerutu kesal.
Seharusnya dari awal Dirga memberitahu jika di sana terdapat beberapa anak OSIS yang berjaga. Jika sejak awal Dirga bicara, tak mungkin Nala berbuat kasar seperti tadi.
Nala jadi merasa bersalah.
Dirga memutar bola mata malas. Berulang kali dirinya meminta Nala untuk diam, tapi apa yang dia dapat?
Dia jadi kesal sendiri, untung saja sepatu hitam itu masih terpasang di kakinya. Jika tidak, mungkin sudah melayang tepat di kepala Nala.
Tidak, Dirga tak mungkin tega untuk melakukannya.
"Menurut lo tadi gue ngapain, huh?" Durga mengumpat kesal. Nala hanya memandangnya sekilas kemudian bangkit dari posisi duduknya. Membuat Dirga jadi ikutan bangkit.
"Lo mau ke mana?"
__ADS_1
"Kelas, disini panas." Nala mengelap butiran keringat yang membasahi wajahnya dengan dasi.
"Yakin lo ke kelas. Di jam pembelajaran Bu Anjar kayak gini?" tanya Dirga lalu melirik jam dinding yang berada di lorong.