
Dentuman musik terdengar begitu Nala membuka pintu resto.
Manik matanya menyipit, memandang aktivitas manusia yang berlalu lalang di hadapannya.
Resto bintang lima itu terlihat ramai, mengingat malam ini adalah malam Minggu.
"Ayo sayang, masuk!" Ternyata Zora dan Abel sudah masuk lebih dulu.
Entah sejak kapan keduanya berada di dalam. Nala mengangguk pelan lalu menutup pintu resto dan berjalan menghampiri keduanya.
"Kalian berdua tunggu disini sebentar ya. Mama mau ke sana," ujar Zora menunjuk seorang pelayan wanita yang dengan ramah menyapanya.
Mereka mengobrol sejenak, meninggalkan Nala dan Abel dalam diam.
Kedua kakak adik itu sibuk dengan pikiran masing-masing, sampai Nala kembali melayangkan pertanyaannya membuat Abel memutar bola mata jengah.
"Bel, emang beneran lo gak bisa jelasin dikit aja ke gue, kenapa kita ada disini?" tanya Nala memohon pada adiknya agar bisa memberitahu mengapa mereka ada disini.
Abel berdecak pelan kala pertanyaan itu kembali terlontar dari mulut kakaknya. Tak terhitung berapa banyak Nala mempertanyakan hal demikian.
Padahal, tinggal mengikuti dan diam saja apa susahnya? Pikir Abel.
"Enggak bisa, nanti juga lo tau sendiri kok. Bentar lagi, jadi sabar aja," kata Abel tersenyum.
__ADS_1
Nala mendengus pelan, itu bukan jawaban yang dia inginkan.
Tak lama Zora kembali menyusul kedua putrinya. Tak lupa dengan tersenyum lebar. Melihat kehadiran Zora membuat Nala dan Abel jadi fokus pada wanita itu.
Sampai Zora berdiri di hadapan keduanya dan mengajak mereka masuk ke dalam.
Nala dan Abel mengikuti langkah Zora menuju ke salah satu ruangan VIP yang berada di ujung restoran.
Nala mengerutkan alisnya begitu iris matanya tak sengaja menatap nama yang tertempel di depan pintu —Arion Devara.
Tak asing lagi di ingatannya. Nala seperti mengenali pemilik nama tersebut apalagi ketika membaca nama Devara di belakangnya.
Dan ketika mereka melangkah masuk, Nala dikagetkan dengan kehadiran seseorang yang duduk di pojok ruangan.
"LO?!" Nala menatap tak percaya sosok pemuda di hadapannya.
"Kok lo ada disini?" tanya Nala menunjuk pemuda di hadapannya. Dia yang ditanya hanya tersenyum simpul, tak ada kata yang keluar dari mulutnya kecuali senyum simpul.
Zora menyenggol lengannya, memberi peringatan pada putrinya untuk tak berbicara keras. "Jangan keras-keras Nala!"
Abel yang juga berada di belakangnya hanya mendengus. Dia tau jika kakaknya berisik, tapi apakah tak bisa sehari saja kakaknya berubah kalem di acara penting seperti ini?
"Duduk, duduk!" pinta pria paru baya yang Nala yakini namanya Arion, pemesanan ruangan serta Ayah dari sosok pemuda di hadapannya.
Entah alasan apa yang membuat Zora mengajaknya pergi kesini. Ditambah lagi Nala harus berhadapan langsung dengan lelaki menyebalkan yang selama ini dia hindari. Kenapa pula Zora terlihat akrab dengan sepasang suami istri itu.
__ADS_1
"Gimana kabar kamu?" tanya wanita paru baya yang mungkin usianya tak berbeda jauh dengan Zora.
Wanita itu tersenyum, sekaligus menatap Nala dengan lembut membuat Nala sedikit tersentak akan senyuman itu.
"Baik, selalu baik. Gimana, lancar kan semua?" pertanyaan yang semakin membuat Nala bingung.
Lancar?
Lancar apanya?
Mila mengangguk semangat setelah itu menyuruh putranya untuk menyalami Zora. Dengan sopan Aksara menyalami tangan Zora, membuat wanita itu tersenyum hangat.
Lalu, Zora menatap putrinya sambil mengangguk kecil. Nala yang ditatap hanya menaikkan alisnya, tak memahami apa yang Zora minta.
"Salim sana," bisik Zora pelan meminta Nala dan Abel untuk menyalami Mila dan Rio, bersama wanita paru baya yang umurnya lebih tua dari semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
Nala menghela napas panjang, walaupun tak urung dia juga menuruti ucapan Zora untuk menyalamai mereka.
Sampai tangannya terhenti tepat di depan Rianna -Nenek Aksara. Wanita itu memandang tangan Nala sejenak lalu pemiliknya, tatapan yang tak ramah itu jelas terlihat di Nala namun gadis itu memilih tersenyum dan masih setia mengulurkan tangannya.
"Nek..." Aksara mengusap punggung tangan Rianna yang tak lagi mulus. Rianna menoleh menatap cucunya. Aksara tersenyum hangat sambil menganggukkan kepala.
Cukup lama Nala terdiam di tempat, masih dalam posisi yang sama, mengulurkan tangan.
Nala sedikit lega saat melihat Rianna mulai mengapai tangannya. Membuatnya dengan sopan menyalami punggung tangan Rianna, meski ada sedikit rasa kesal di dalam hati Nala.
__ADS_1
"Jadi, berkumpulkan kita hari ini. Kita-" Milla bersuara sambil menatap Rianna dan suaminya.
"Dengan Zora dan persetujuan Bunda serta Aksara," mengalihkan arah pandangnya sambil tersenyum hangat pada putranya. Aksara yang mendapatkan senyuman tersebut jadi ikut tersenyum, meski wajahnya nampak kaku.