
"Nala tunggu disini ya. Mama mau ke depan sebentar buat ambil barang. Nanti, kalau barangnya sudah selesai. Mama balik lagi ke sini," ucap Zora pada putri kecilnya yang baru saja menginjak usia 7 tahun.
Nala kecil hanya dapat mengangguk, menuruti ucapan Mamanya. "Tapi Nala mau es klim," katanya sedikit merengek. Mata bulatnya mulai menggenang dengan hidup yang kembang-kempis menahan air mata.
"Nanti setelah semuanya selesai kita beli es krim di kedai biasa. Oke?" Zora mengusap gemas kepala sang putri sambil menghapus buliran air mata yang siap jatuh membasahi pipi.
Nala mulai memperhatikan sekitar. Taman sore itu memang tak banyak pengunjung, hanya ada beberapa dan itu dapat dihitung dengan jari. Melihat putrinya yang mulai tertarik, Zora berjongkok di samping tubuh mungil Nala.
"Nala boleh main, tapi ingat jangan pernah percaya sama orang asing!" Zora memberi peringatan membuat Nala menganggukkan kepala, lucu banget.
Perlahan tapi pasti Nala mulai melangkah mendekati permainan yang ada di sana. Satu persatu permainan mulai dia coba. Zora beranjak pergi dari tempatnya setelah memastikan putrinya tak apa-apa.
Wanita itu memilih untuk segera mengambil barang ke warung depan, tak jauh dari tempat permainan Nala. Beberapa kali ia harus menoleh ke belakang untuk melihat keadaan putrinya.
Wajah yang sedih itu berubah gembira. Nala mulai menaiki tangga untuk berseluncur. Tepat di atas Nala merubah posisinya menjadi duduk, tubuhnya siap untuk berseluncur.
Karena asik bermain kakinya tak sengaja menatap batu kecil yang ada di sana.
Membuat tubuh kecil Nala harus terjatuh, perlahan air mata yang sebelumnya tak jadi turun kini membasahi wajah. Nala menangis meski tak kencang.
Tangisannya itu berhasil membuat seorang anak laki-laki yang tak jauh dari tempat Nala berlari mendekat. Tubuhnya yang sama-sama kecil kini duduk di hadapan Nala.
"Kamu gak apa-apa?" tanyanya sambil mengulurkan tangannya pada Nala.
"S-sakitt..." tangis Nala kembali pecah, sambil menunjuk lututnya membuat anak laki-laki di depannya mengalihkan arah pandangnya pada lutut Nala yang terluka.
"Mama kaki Nala sakit," katanya yang masih menangis.
__ADS_1
Ia yang bingung mencoba untuk menghibur Nala dengan candaan. Bukannya lekas membaik Nala semakin menangis, walaupun bibirnya tak dapat dipungkiri membentuk senyuman.
"Luka nya akan sembuh kalau diobati. Nih, kamu pake." Bocah laki-laki itu memberikan selembar hendsaplast berwarna biru bergambar mobil dari saku celananya pada Nala.
Nala hanya dapat menatap uluran tangan dari anak kecil di depannya itu, membuatnya yang terus ditatap jadi menarik tangannya kembali.
"Atau, kamu mau ini ..." Dia mengeluarkan jepit dari saku celana satunya. Jepit berwarna putih dengan hiasan bunga matahari di atasnya.
"Ini ambil. Tapi kamu gak boleh nangis lagi," katanya menyerahkan jepit bunga itu pada Nala.
"Nanti kalau sampai di rumah, lukanya harus diobati. Ambil ini juga," bocah itu kembali mengeluarkan hendsaplast yang sempat dia masukkan kembali pada Nala.
Dengan sedikit keraguan Nala mulai mengambilnya. Alih-alih membalas perkataan anak laki-laki di hadapannya ia malah tersenyum lebar sambil menggenggam erat jepit dan hendsaplast yang baru saja dia terima.
"M-makasih banyak," ujar Nala setelah cukup lama terdiam.
"Sama-sama," hanya senyuman simpul yang Nala dapat dari anak laki-laki itu.
"MAMA!"
Nala memeluk erat tubuh Zora, tangisnya kembali terdengar memang tak sekeras sebelumnya.
"Shutt... maafin Mama udah tinggalin Nala." Zora terus mengucapkan kata maaf sambil mengecup puncak kepala putrinya. Diusapnya dengan lembut kepala Nala sampai suara tangisan itu tak lagi terdengar.
"Kenapa kakinya berdarah?" tanya Zora meminta penjelasan.
Nala tak membalas pertanyaan Zora, mulutnya seakan tertutup rapat. Dia semakin mengeratkan pelukannya, menyembunyikan wajahnya pada leher sang Ibunda.
"Tadi dia gak sengaja jatuh kesandung batu," jelas bocah laki-laki yang masih setia di tempatnya.
__ADS_1
Zora menoleh wanita itu tersenyum. "Terima kasih sudah membantu anak saya, kamu anak sini?"
Hanya gelengan cepat yang Zora dapatkan. "Enggak, cuma main-main aja."
"Sekali lagi makasih banyak udah membantu," ucap Zora lagi setelah itu membawa Nala pergi meninggalkan taman.
Nala yang berada di gendongan Zora terus memandangi anak laki-laki itu sampai tak terlihat lagi di pandangannya.
Nala memejamkan mata, merasakan cipratan air yang terus membasahi wajahnya.
Dengan kesal ia membuka mata tepat di hadapannya sekarang. Abel berdiri sambil membawa gelas yang dia yakini berisikan air.
"Lo ngapain sih, ganggu banget." Nala berdecak, pusing kembali menjalar di kepala karena tidurnya kembali terganggu.
"Gue kira kesurupan tadi, lo ngapain sih senyum-senyum sendiri. Aneh banget," komen Abel membuat tubuh Nala seketika kaku. Jadi, mimpi itu kembali hadir?
"Apaan sih, gak jelas lo." Nala memilih untuk tak melanjutkan obrolan. Gadis itu perlahan bangkit dari tidurnya lalu pergi meninggalkan sofa dan memasuki kamarnya.
Nala menggantung tasnya ke atas gantungan dekat meja belajar. Sebelum itu ia menggeledah isi tasnya sampai salah satu dari isi tasnya terjatuh, membuat Nala menundukkan kepala untuk melihat.
Dengan sedikit membungkuk Nala mengambilnya. Cukup lama dia terdiam sambil memandangi jepit berwarna putih dengan hiasan bunga matahari di atasnya, tepat sekali dengan mimpinya tadi.
"Untung tadi gak hilang beneran," gumam Nala menyimpan jepit itu ke dalam laci.
Dari banyak jepit yang dia punya, entah mengapa jepit yang satu ini ada hingga sekarang.
Terhitung sudah hampir sepuluh tahun jepit itu dia simpan sejak pertemuan pertama dengan bocah laki-laki dalam mimpinya.
Bukannya langsung membersihkan diri Nala kembali menghempaskan tubuhnya ke atas kasur sembari menatap langit-langit kamar. Matanya terpejam sesaat sebelum kembali membuka mata.
__ADS_1
"Gue harap kita bisa ketemu lagi, walaupun mustahil."