Aksana

Aksana
08. AKSANA


__ADS_3


Nala mengerjapkan matanya yang terasa berat saat merasakan cipratan air yang terus membasahi wajahnya. Membuat Nala suka tak suka harus membuka mata.


"Apa sih dek, gue ngantuk." Nala berdecak pelan. Meski belum sadar sepenuhnya dia dapat melihat bayangan Abel yang ada di sebelahnya.


Perempuan berambut coklat itu berdiri sambil membawa segelas air yang Nala yakini air itu adiknya gunakan untuk membangunkannya.


"Ipi sih dik, gii ngintik." Abel menyinyir lalu menaruh gelas berisikan air ke atas nakas samping tempat tidur. Sambil berkacak pinggang ia menarik lengan Nala untuk sesegera mungkin bangun.


"Bangun lo, Mama udah nungguin tuh di bawah." Abel sebisa mungkin untuk menahan emosinya. Memang mempunyai kakak seperti Nala harus mempunyai kesabaran yang lebih. Entah dari sifat dan kelakuannya yang suka membuat orang-orang mengelus dada, termasuk dirinya.


"Ngantuk Bel. Lima menit lagi deh," ucap Nala masih dengan memejamkan mata. Lalu menarik selimutnya untuk menutupi seluruh tubuhnya. Ia juga menghadap ke samping, membelakangi tubuh Abel.


"Lima menit mulu," lama-lama Abel jadi kesal sendiri. Sudah hampir 5 kali dia bolak-balik ke atas ke bawah hanya untuk membangunkan Nala yang belum bangun juga.


Sudah menggunakan berbagai cara agar Nala bangun tapi tetap saja, kakaknya itu kebo. Mungkin jika nanti ada gempa bumi, Nala semakin terlelap dalam tidurnya.


"Bangun sekarang atau gue teriak," ancam Abel. Berhasil membuat Nala membalikkan badannya seperti semula, terlentang meski masih tertutup selimut.


"Kak ayo lah, gue laper tau. Lo susah banget di bangunin nya!" Abel mengacak rambut kesal, wajahnya sudah pasrah dengan kelakuan kakaknya.


Nala menghela napas. Menyibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Berulang kali ia mengerjapkan mata sampai benar-benar fokus menatap Abel yang sekarang sedang memberengut kesal padanya. Terbukti dengan wajahnya yang menoleh ke arah lain.


"Jam berapa sih?" tanya Nala melirik jam dinding yang terpasang di kamar.


"Masih jam enam Bel, gue masuk jam setengah tujuh. Lima menit lagi deh," katanya kembali melanjutkan tidur.


"MAMA, KAK NALA GAK MAU BA—"


Tanpa Nala duga Abel berteriak, namun sebelum perempuan itu menyelesaikan ucapannya. Nala lebih dulu membekap mulutnya, ia melotot sambil menempelkan jarinya ke bibir mengisyaratkan Abel untuk tak berteriak kembali.


"Emmhh..."


"Ih, tangan lo bau!" Abel menempis tangan Nala dari mulutnya. Nala meringis saat tangannya dipukul, cewek itu juga mendengus kesal lantaran ucapan Abel barusan.


"Enak aja, tangan gue wangi. Lo aja yang bau," ujar Nala yang kini sudah duduk di atas kasur.

__ADS_1


"Nyenyenye," Abel kembali menyinyir sebelum sebuah bantal menghantam wajahnya, membuatnya mengaduh keras.


"ADUH... sakit bodoh," umpat Abel mengusap wajahnya yang baru saja terkena korban. Antara kesal dan sakit, keduanya menjadi satu. Kesal karena tak bisa menghindar dan sakit karena lemparan itu cukup keras mengenai wajahnya.


Nala mengedikkan bahunya tak acuh. Ia lantas bangkit dari posisinya. "Lo ngapain masih disini? Udah sono pergi," usir Nala sambil mengibaskan tangannya pada Abel.


"Gue bisa keluar sendiri kali," dengus Abel lalu pergi meninggalkan kamar kakaknya.


"EH INI GELASNYA BAWA TURUN!" teriak Nala saat Abel keluar tanpa membawa gelas kaca yang tadi perempuan itu bawa.


"Lo aja yang bawa. Nanti juga turun," balas Abel kini sudah berada di bawah. Sekilas dia menoleh ke belakang sambil menjulurkan lidahnya, mengejek.


"Siapa yang bawa siapa juga yang suruh balikin." Nala mulai menggerutu sambil menyambar handuk putih yang tergantung di belakang pintu. Ia mulai mulai memasuki kamar mandi untuk bersiap pergi ke sekolah.


...


Aksara baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Cowok itu mulai menggenakan seragam sekolahnya yang sudah terlipat rapi di atas kasur, di sebelahnya juga sudah ada atribut lengkap. Tak lupa almater OSIS juga ada di sampingnya.


"Aksa, ayo turun!" panggilan dari Mila mulai terdengar.


"Sebentar lagi selesai," ucap Aksara dan Mila mengangguk. Wanita itu kembali menutup pintu kamar.


Setelah itu Aksara melanjutkan kegiatannya mengancing seragam lalu menyambar tas yang berada di meja belajar dan menyimpan almater OSIS nya ke dalam tas. Cowok itu turun ke bawah, menyusul yang lain.


"Aku berangkat langsung aja Bun. Udah telat," ucap Aksara menyalami tangan Mila setelah berada di bawah.


"Ya udah, tunggu disini sebentar." Mila meninggalkan Aksara, ia menuju dapur untuk mengambil tas Tote bag yang sudah dia siapkan sebelumnya.


"Buat sarapan sekalian makan siang. Jangan lupa dihabiskan," suruh Mila menyerahkan tas Tote bag itu pada Aksara.


"Makasih Bunda, Aksa berangkat dulu. Assalamu'alaikum!" pamit Aksara tak lupa memeluk dan mengecup pipi Mila. Rutinitas yang selalu Aksara lakukan sebelum berangkat sekolah.


"Waalaikumsalam! Hati-hati!" kata Mila mengantarkan Aksara hingga depan rumah.


...


Mobil Aksara mulai memasuki kawasan sekolah. Setelah memarkir mobilnya dia keluar. Kehadirannya tentu membuat pasangan mata anak-anak sekolah yang saat itu berada di lapangan jadi meliriknya.

__ADS_1


Tak jarang pujian manis mereka layangkan untuk Aksara. Namun, yang cowok itu lakukan hanya senyum simpul dan selebihnya hanya dia anggap sebagai angin lewat.


"Aksara makin ganteng aja woy, gila!"


"Nyokap nya ngidam apaan dah sampe dia ganteng gitu."


"Duh, calon suami. Ganteng banget sih!"


Dan masih banyak lagi pujian dari mereka. Aksara terus melangkah menuju kelasnya. Dia cukup terkejut saat tiba-tiba pundaknya di rangkul oleh seseorang. Saat ujung matanya melirik Aksara hanya menggeleng pelan.


"Mereka kayak mau antri bansos cuma gara-gara liat lo jalan. Panjang bener. Sepanjang harapan Mak gue," gurau Rasya.


Aksara menimpalinya dengan senyuman. Memilih tak menggubrisnya, dia terus berjalan agar segera sampai ke kelas.


"Woy! Woy! Ada pacar lo tuh," ucap Rasya membuat langkah Aksara terhenti dan mengikuti arah pandang Rasya.


Tepat di lorong kelas Nala baru tiba. Cewek itu berjalan sambil membalas sapaan temannya. Menyadari bahwa dirinya terus dilihat Nala menoleh. Matanya melotot tapi kakinya tak berhenti di tempat, dia terus berjalan.


"Dasi lo mana?" tanya Aksara mengamati seragam sekolah yang Nala gunakan pagi itu.


Tak ada sabuk dan dasi, kaos kaki juga pendek serta sepatu sekolah yang masih berwarna putih. Padahal sekolah sudah memberi peringatan kepada muridnya untuk menggunakan sepatu hitam kecuali olahraga.


"Ada di tas," tunjuk Nala. "Tadi buru-buru," ujarnya lagi.


"Ini masih kawasan sekolah dan lo harus menuruti peraturan yang ada di sekolah ini," kata Aksara mengingatkan.


"Pake sekarang," perintah Aksara membuat Nala mengerutkan dahi.


"Pake apa?"


"Dasi sama sabuk. Sekarang," tekan Aksara dingin.


"Iya-iya," dengan ogah-ogahan Nala menurut dan mulai mengambil dasi serta sabuk sekolah yang memang selalu dia bawa, tapi tak pernah dia gunakan.


Sampai beberapa menit berlalu, Nala kembali meransel tasnya yang dia taruh di lantai lorong. "Udah kan? Gue bisa ke kelas?" tanyanya setelah memakai atribut lengkap.


Aksara hanya menganggukkan kepala. Nala pun berlalu pergi meninggalkan keduanya sampai tiba di depan kelas. Ia pun masuk ke dalam dan mendapati Natasya dan Agathis yang sudah duduk di tempatnya. Tinggal Sera.

__ADS_1


__ADS_2