Aksana

Aksana
01. AKSANA


__ADS_3


"Selanjutnya."


Seorang sekertaris OSIS memberikan selembar kertas berisikan beberapa nama anak yang melakukan pelanggaran sekolah pada sang wakil ketua.


Kegiatan itu sudah berjalan hampir satu bulan, di mana mereka mendapatkan berita jika anak-anak sekolah melakukan aksi pelanggaran seperti tawuran antar pelajar hingga, dan beberapa pelanggaran lainnya.


Melihat hal tersebut membuat kepala sekolah memutuskan untuk menggeluarkan surat yang ditujukan untuk para anggota OSIS.


Mereka diminta untuk mengisi kertas tersebut jika ada murid yang melakukan pelanggaran di sekolah. Peraturan sekolah yang sudah cukup ketat menjadi semakin ketat dengan hadirnya kertas laporan dari sang kepala sekolah.


Rasya yang merupakan wakil OSIS nampak terdiam, matanya menyipit saat melihat nama yang tercantum di sana terasa tak asing lagi baginya.


"Dia lagi?"


Membuat pandangan anak-anak OSIS jadi tertuju padanya. Semuanya mulai mendekati Rasya, mereka juga ikutan melihat nama yang tercantum di atas kertas putih bertinta hitam.


Tentunya, mereka juga merasa terkejut saat membaca isi dari laporan.


...Nama murid yang melanggar peraturan sekolah :...


...Nama : Anala Debora...


...Kelas : XII Bahasa 6...


...Pelanggaran yang dilakukan :...


...- Terlambat masuk sekolah...


...- Tak menjalani hukuman...


...- Tak mengikuti kegiatan upacara...


...- Tak memakai atribut lengkap...


"Gila nih cewek. Baru juga kemarin di hukum karena melanggar peraturan sekarang bikin masalah lagi." Damar, salah satu anggota OSIS mulai membuka suara.


"Gak bisa dibiarin ini, kita harus lapor." Damar ingin merogoh sakunya, mencari ponselnya untuk menghubungi seseorang. Membuat beberapa pasang mata meliriknya.


"Tunggu dulu!"


Rasya mengangkat jarinya, meminta Damar untuk tak melakukan itu. Perintah yang langsung keluar dari mulut Rasya tentu berhasil membuat Damar menghentikan aktivitasnya, dia kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku.

__ADS_1


"Jangan sekarang," cegah Rasya bangkit dari duduknya.


"Dia lagi sibuk, kita jangan ganggu dia dulu. Lebih baik kita urus masalah ini, kalau memang nantinya gak bisa. Baru kita lapor ke Ketua," sambungnya.


Beberapa dari mereka mulai menganggukkan kepala. Setuju atas ucapan yang Rasya katakan, meskipun beberapa diantara merasa tak bersemangat. Namun mereka tak bisa apa-apa, keputusan Rasya juga ada benarnya.


"Yaudah kalau gitu langsung aja samperin. Kalau semakin kita biarin dia berulah terus kayak gini. Yang ada makin ngelunjak dia!" kata sekertaris OSIS, Evelyn.


Semuanya mengangguk, menyetujui usulan Evelyn. Mungkin tak hanya gadis itu saja yang kesal atas tingkah laku Anala yang selalu saja membuat masalah. Hampir semuanya merasa kesal atas kelakuannya.


Masalahnya, bukan sekali dua kali dia melakukan hal tersebut tapi sudah berkali-kali lipat gadis itu melanggar peraturan yang sama, peraturan yang sudah ditentukan sekolah.


Sejenak Rasya terdiam, sambil melipat kertas itu menjadi beberapa bagian mengecil.


"Kita bagi tugas. Sebagian ikut gue dan sebagian lagi berada disini. Awasi beberapa murid yang melanggar," tegasnya yang tak dapat diganggu gugat.


...


"OMG! Pouch gue ke mana?"


Teriakan heboh itu terdengar di kelas Bahasa 6 membuat semua pasang mata menatapnya malas. Bukan menjadi hal asing lagi bagi mereka untuk mendengar teriakan Nala.


Tak hanya itu, teriakannya yang keras berhasil membuat kelas sebelah bergerombol mengintip dari celah jendela. Penasaran dengan apa yang terjadi di sana.


Melihat Nala yang panik tentu membuatnya bertanya-tanya. Ia perlahan mendekati Nala yang sibuk dengan kegiatannya.


"Masa pouch gue ilang sih. Bukannya tadi ada di tas juga."


Nala merasa panik, sembari menggeledah isi tasnya. Mencari tas kecil berisikan benda berharga miliknya. Semuanya hilang, tak ada yang tersisa di dalam tasnya. Hanya menyisakan beberapa buku tulis dan satu tempat pensil.


"Emang lo taruh mana?" tanya Sera membantu mencarikan benda Nala yang hilang entah ke mana.


"Jelas-jelas sebelum ke lapangan tadi gue taruh sini," tunjuk Nala. "Tapi waktu gue balik dan mau ambil pouch itu malah ilang."


"Kenapa sih, kok ribut sendiri." Natasya dan Agathis masuk. Keduanya baru saja menyelesaikan tugas praktek dari guru olahraga. Nala dan Sera lebih dulu selesai, sementara mereka tadi harus menyelesaikan praktek sebelumnya.


"Pouch Nala ilang," kata Sera.


"Kok bisa?" Agathis mulai mendekat, mencoba membantu Nala mencari benda berharga miliknya. Natasya yang melihat hanya diam duduk bangkunya, sambil mengipasi wajahnya dengan kipas berbulu yang selalu dia bawa.


Merasa jika tak akan ketemu. Nala mulai menatap sekeliling, menatap orang yang berada di dalam kelasnya.


Meminta mereka untuk memberitahu siapa pelaku yang sudah mengambil barangnya. Mereka yang ditatap cepat-cepat menoleh ke arah lain, tak ingin ikut campur dengan masalahnya.

__ADS_1


"Jawab gue sekarang, siapa yang ambil barang gue?" tangan Nala mengepal kuat, meremas tangannya. Menahan emosi yang terus memberontak di dalam hati, bersiap lepas dari tempatnya.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


Empat detik.


Lima detik sudah berlalu.


Sunyi, seketika keadaan kelas menjadi tak berpenghuni. Semuanya tak berani membalas perkataan Nala, mereka memilih diam seolah tak ingin ikut campur dalam urusan yang gadis itu perbuat.


Hal itu tentu membuat Nala geram. Napasnya seketika memburu, matanya sesaat terpejam sampai kembali menatap sekitar.


Dan detik berikutnya, pandangan Nala tertuju pada satu orang pemuda yang duduk di pojok kelas dekat jendela.


Merasa jika dirinya ditatap. Pemuda itu mulai mengangkat pandangan dengan tangan gemetar, tubuhnya semakin terpojok saat tatapan membunuh Nala tertuju padanya.


"EVAN!"


Nala berteriak, membuat si punya nama jadi tak berdaya di tempat. Nala perlahan mendekatinya, mencoba untuk mencari tahu siapa pelaku yang sudah membuka tasnya tadi saat dia tak ada di kelas.


Pasalnya, hanya Evan yang ada di kelas sebelum kelas itu ramai diisi murid lainnya. Dia kembali lebih awal dibandingkan yang lain.


"K-kenapa?" dengan gugup Evan menutup buku komik yang dia baca. Tubuhnya gemetar,


"Jawab pertanyaan gue, siapa yang berani bongkar tas gue?" tanya Nala penuh penekan.


Evan, si anak kutu buku dan terkenal culun ditambah dirinya adalah ketua kelas, sifatnya yang penakut kadang menjadi candaan bagi anak-anak.


"G-gue gak t-tau," katanya gugup.


"Gue tau lo bohong. Lo pasti tau kan siapa pelukannya," desis Nala mencoba sabar.


Melayangkan tatapan membunuh yang membuat siapa saja bergidik ngeri dibuatnya.


Evan menggelengkan kepala cepat-cepat. "G-gue be-beneran g-gak tau, Nal."


"JAWAB PERTANYAAN GUE, SIAPA YANG BERANI BONGKAR TAS GUE. ATAU GUE BAKAL-"


"Bakal apa?"

__ADS_1


...


__ADS_2