Aksana

Aksana
25. AKSANA


__ADS_3


Bunyi pintu terbuka terdengar membuat sepasang mata itu menoleh ke sumber suara. Aksara yang sore itu tengah bersantai jadi mengalihkan pandangannya sejenak menatap Nala.


Perempuan itu baru saja keluar dari kamar mandi setelah satu jam lamanya berada di dalam.


Entah apa yang ia lakukan di dalam, tapi yang jelas Nala menghabiskan waktunya di sana. Matahari yang awalnya nampak kini mulai tenggelam, tergantikan oleh gelapnya awan.


Nala melangkah menuju meja rias sambil menggeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.


Setelah itu menyimpan handuk kecil berwarna putih tersebut ke dalam rak pakaian kotor, yang sebelumnya sudah dibagi oleh Nala. Sebelah kanan untuknya dan sebelah kiri untuk Aksara.


"Mau makan apa?" tanya Aksara setelah beberapa saat keadaan hening menyapa keduanya.


Nala melirik Aksara dari arah kaca rias. Sekarang ini Aksara sedang sibuk dengan laptopnya tak lupa tumpukan buku tebal juga ada di sana.


Yang pasti sudah Nala duga jika cowok itu tengah belajar, apalagi Aksara akan menghadapi lomba olimpiade.


"Di bawah ada supermarket kan?" bukannya membalas pertanyaan Aksara, ia malah balik melempar pertanyaan.


Aksara terdiam beberapa menit lalu menganggukkan kepala. "Ada, dekat parkiran. Mau beli makan disana?"


"Mungkin, daripada nunggu ojek. Kelamaan," ucap Nala sembari mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryar. Setelah semuanya selesai, Nala bangkit dari duduknya dengan wadah kebingungan ia menoleh kesana kemari.


Tentunya, kejadian itu tak lepas dari Aksara yang masih menatapnya. "Kenapa?" tanya Aksara menyadarai kepanikan di wajah Nala.


"Eh, liat ponsel gue gak? Kok gak ada ya?" tanya Nala yang baru saja keluar dari kamar mandi. Kini tangannya mulai menggeledah sekitar, mencari ponselnya yang entah ia taruh dimana.

__ADS_1


Aksara hanya mengerutkan dahi lalu melirik ke samping. Tepat di atas bukunya kini barang yang Nala cari berada di sana.


Tadi sebelum Nala masuk ke kamar mandi, perempuan itu sempat bersantai di meja makan setelah usai membereskan barang-barang.


Dengan ceroboh ia meninggalkan ponselnya begitu saja di atas meja. Melihat hal itu tentu membuat Aksara geleng-geleng kepala. Ia memilih membawanya masuk ke dalam kamar.


Dan kini Aksara masih terus memandang gelagat Nala. Sampai ******* kasar ia dengar, Nala nampak frustasi setelah cukup lama mencari ponselnya.


"Lo nyari ini?" tanya Aksara mengangkat ponsel yang Nala cari dari tadi.


"Kok ..." Nala menutup mulut tak percaya. Bagaimana bisa ponselnya ada di sana. Padahal seingatnya tadi- "Ada di situ?" lanjut Nala tercengang.


"Siniin ponselnya," pinta Nala meminta ponselnya. Mendengar itu membuat Aksara menarik tangannya, kembali menaruh ponsel Nala ke atas tumpukan buku, sama seperti semula.


"Kenapa gak kesini aja?"


"Yaudah ayo. Mau makan di mana?" ujar Aksara seraya bangkit dari singgahnya, menghiraukan Nala yang masih kesal di tempatnya karena sejak tadi Aksara belum juga mengembalikan ponselnya.


"Balikin dulu HP gue. Cepetan Aksa, keburu malem."


"Katanya mau HP, kesini!" pintah Aksara mengulurkan ponsel Nala pada pemiliknya. "Lo takut injek pembatas nya?" tanya Aksara setelah menyadari Nala yang masih diam di tempatnya.


"Enggak, siapa juga yang takut!" elak Nala.


Aksara terkekeh pelan, perlahan cowok itu melangkah mendekati Nala sambil mengulurkan tangannya untuk mengembalikan ponsel Nala. "Ponsel lo," kata Aksara lalu menarik lengan Nala untuk meninggalkan kamar.


"Pelan-pelan dong. Kalau lo tarik, nanti gue nginjek pembatas nya," ujar Nala. Ia memilih jalan sendiri, mengekori Aksara dari belakang.

__ADS_1


"Gak bakal, paling cuma hukuman. Ayo jalan!" ajak Aksara.


...


Dan kini keduanya sudah berada di dalam supermarket. Supermarket di sana memang tak begitu besar, makanannya juga tak begitu banyak. Jadi dalam beberapa menit keranjang kuning itu sudah tersisi penuh oleh makanan.


"Udah semua? Ada yang kurang gak?" tanya Aksara memastikan, sebelum membawa kerajang kuning dj tangannya ke kasir.


Nala hanya menganggukan kepala. Setelah memastika bahwa tak ada yang kurang, Aksara dan Nala melangkah mendekati kasir untuk membayar semua.


"Totalnya jadi seratus dua lima kak," ujar mas-mas kasir setelah menghitung semua belanjaan keduanya. Nala dan Aksara spontan saling melirik satu sama lain sebelum keduanya kompak mengeluarkan uang.


"Ini Mas uang..."


"Ini uangnya," ujar Aksara menyerahkan lebih dulu. Mas kasir yang melihat itu hanya tersenyum, ia memilih menerima uang Aksara dan menyerahkan seluruh belanjaan keduanya.


"Makan di sana aja," tunjuk Nala pada dua kursi kosong di luar supermarket. Aksara hanya menurut, keduanya memilih menghabiskan waktu malam dengan makan bersama walaupun diisi dengan kekosongan karena sibuk dengan makanan masing-masing.


"Ngomong-ngomong, olimpiade lo kapan dimulai?" tanya Nala tiba-tiba.


"Minggu depan, hari Rabu. Kenapa?"


"Enggak ada," Nala menggeleng pelan. "Tapi, kalau nanti gue ikut datang ke sana gak papa kan?"


...


Jangan lupa jejaknya yaa! 🙆🏽‍♀️

__ADS_1


__ADS_2