Aksana

Aksana
23. AKSANA


__ADS_3


Suasana hening dan damai tercipta begitu Nala menginjakkan kakinya di anak tangga. Kedua anggota keluarga terdekat serta rekan kerja mulai berdatangan.


Nala mengatur napasnya kembali sebelum digiring ke bawah, dan duduk di samping Aksara. Seperti biasa, ia terlihat tenang dengan wajah yang datar. Berbeda jauh dengan Nala yang nampak gugup.


Selama 17 tahun ini Nala tak pernah merasakan gugup. Apalagi di depan orang lain. Tapi entah bagaimana, rasa percaya dirinya itu hilang seketika di hari itu.


Karena Ayah Nala sudah meninggal dunia. Zora dan yang lainnya sepakat untuk menjadikan Bima- adik laki satu-satunya yang Zora miliki sebagai wali.


Semua para tamu undangan menunggu ijab kabul yang sebentar lagi terdengar.


Mengucapkan Ijab kabul adalah suatu hal yang sakral, momen paling penting dan mendebarkan dalam acara pernikahan, terutama untuk calon pria.


Dengan menarik napas panjang. Aksara menjabat tangan Bima, dengan pak penghulu di sampingnya yang mulai mengucapkan ijab kabul.


"Ananda Aksara Devara bin Arion Devara, saya nikahkan dan saya kawinkan Engkau dengan Anala Debora binti Ajisaka Naufal almarhumah dengan mas kawin seberat 88 gram, uang 15 juta dan seperangkat alat sholat sibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Anala Debora binti Ajisaka Naufal almarhumah dengan mas kawin tersebut tunai!" Aksara melafalkan ijab kabul dengan sekali tarikan.


Penghulu mengangguk singkat lalu menatap para tamu. "Gimana para saksi sah?"


"SAH!"


"Alhamdulillah!"

__ADS_1


...


Siang harinya setelah acara selesai. Nala dan Aksara sejenak beristirahat sambil bersiap-siap untuk pindah. Kini Aksara membantu memindahkan barang-barang Nala ke dalam bagasi mobil.


Mereka berdua setuju akan tinggal di apartemen Aksara. Apartemen dari kado ulang tahunnya tahun lalu yang Rio berikan untuknya.


Aksara yang belum sepenuhnya kerja dan hanya bersifat membantu tentu belum mampu membeli rumah. Dia memang punya tabungan, tapi untuk membeli rumah mungkin Aksara harus rajin-rajin menabung lagi.


Sebenarnya tadi Mila menawarkan untuk sementara waktu atau lebih tepatnya sampai keduanya lulus tinggal di rumah.


Lagian rumah utama juga hanya ada Rio dan Mila, banyak kamar kosong yang bisa digunakan. Tapi Aksara menolaknya, dengan alasan tak ingin merepotkan bundanya.


Sudah cukup selama ini Aksara merepotkan Mila. Untuk hari ini dan seterusnya mungkin Aksara lah yang akan di repotkan.


Aksara tak mau lagi merepotkan kedua orang tuanya, ia malah berterima kasih pada mereka berdua karena kado yang keduanya kasih tak tanggung-tanggung.


Kini Aksara dan Nala harus siap, waktu mereka untuk bermain- terutama Nala akan berkurang karena ia harus mengurus rumah dan tentu saja, Aksara, suaminya.


Aksara menatap satu koper besar serta dua koper sedang, tak lupa sebuah tas ransel yang Aksara yakini bukan buku pelajaran di dalamnya.


"Tas ransel lo isinya apa?" tanya Aksara mulai mengangkut tas ransel biru muda tersebut ke dalam mobil.


"Buku,"


"Pelajaran?"

__ADS_1


"Enggak, novel. Nanggung belum gue baca, itu masih setengah dari yang belum gue baca. Sisanya masih banyak di dalam," oceh Nala memasukkan tas kecil ke dalam mobil bagian depn, tepatnya samping supir.


Hampir sepuluh menit keduanya sibuk menata barang-barang. Semua barang dalam mobil adalah milik Nala, karena milik Aksara sudah diantar tadi sebdlum acara.


"Semuanya udah selesai kan? Ada yang ketinggalan gak?" tanya Mila sambil memberikan tisue pada Nala dan Aksara, mereka nampak berkeringat karena harus bolak balik mengangkut barang.


"Sudah Tan- eh Bunda," Nala tampak canggung. Karena untuk pertama kalinya ia memanggil orang lain dengan sebuah Bunda.


Mila tersenyum melihat ekspresi canggung menantunya. "Gak papa, pelan-pelan aja."


"Nala..."


Nala mengalihkan pandangannya pada Zora. Malaikat kesayangan Nala itu menatapnya hangat, membuat Nala perlahan mendekatinya dan memeluknya erat.


"Tanggung jawab kamu sekarang bukan buat kamu sendiri. Ada Aksara. Mama harap kamu bisa Nal, karena Mama yakin putri Mama bisa. Bisa lewatin semuanya dengan baik," pesan Zora.


"Iya Ma, maaf." Hanya itu yang bisa Nala ucapkan. Entah mengapa untuk mengatakan hal lain mulutnya terasa kaku.


"Abel ke mana? Kok gak ada?" tanya Nala mencari keberadaan Abel. Pasalnya adiknya itu tak terlihat di luar. Padahal sebelumnya Abel selalu ada di samping Nala.


"Ada di dalam. Nanti biar Mama yang kasih tau. Kalian berdua berangkat aja. Takutnya macet," ujar Zora.


"Ma, Aksa sama Nala pamit dulu. Kalian semua jaga diri, sebisa mungkin kita berdua main ke rumah." Aksara menyalami tangan Mila, Rio dan Zora bergantian disusul Nala di belakangnya.


Cukup lama mereka berlima berpelukan sebelum masuk ke dalam mobil dan meninggalkan pekarangan rumah.

__ADS_1


"Aku harap mereka berdua bisa," gumam Mila mebatap mobil Aksara yang perlahan menghilang dari pandangan.


__ADS_2