Aksana

Aksana
39. AKSANA


__ADS_3


Siang itu, setelah pulang sekolah. Nala mengajak ketiga temannya ke cafe, ada hal yang perlu dia bicarakan. Sebenarnya bukan Nala, tetapi Natasya dan Seira yang sejak tadi meminta penjelasan atas keceplosan nya tadi pagi.


"Gue lihat-lihat lo sama Aksara makin deket, ada hubungan apa nih?" tanya Natasya tadi pagi.


"Gimana gak deket terus. Orang kita berdua tinggal seatap," ceplos Nala tanpa sadar.


Karena ucapannya tadi, Nala menjadi buronan kedua temannya. Pasalnya, balasan Nala benar-benar di luar nalar mereka. Bayangkan saja, Nala mengakuinya sendiri tanpa harus di paksa.


"Jadi beneran, lo sana Aksara punya hubungan khusus?" Seira membuka suaranya, setelah beberapa saat semuanya diam dengan pikiran masing-masing.


Nala bergumam, lalu membenarkan posisi duduknya. "Kayak yang lo dengar tadi," ujarnya membuat Natasya tersedak, perempuan itu tengah makan dan Nala mengatakan hal yang mengejutkannya.


Agathis spontan menepuk punggung temannya itu, membantu Natasya. "Minum, minum," ia memberikan gelas minuman Natasya yang langsung perempuan itu terima. Natasya meneguk minumannya hingga setengah. Setelah itu bernapas lega karena tak lagi merasakan panas di tenggorokan.


"Pelan-pelan kalau makan," tegur Nala sedikit merasa bersalah, walau bagaimana juga itu salahnya yang menjelaskan disaat temannya itu tengah makan. Alhasil Natasya tersedak hingga terbatuk-batuk.


Natasya memutar bola mata malas saat Nala menegurnya. "Harusnya lo yang pelan-pelan jelasinnya. Gak lihat gue makan? Kalau tadi gue gak selamat gimana? Mau tanggung jawab lo," kesalnya.


Agathis yang mendengar ucapan Natasya, langsung menyenggol lengannya membuat pandangan Natasya neralih pada Agathis. "Jangan bicara sembarangan Nat!" tegurnya.


Sebisa mungkin Nala menahan tawa, begitu juga dengan Seira. Niatnya ingin membela diri malah dia yang kena marah.


Natasya berdecak pelan, "Coba ceritain ke gue sama Sera gimana lo sama Aksara bisa punya hubungan kayak gini," tanyanya penasaran.


Kini Natasya sudah menghadap sepenuhnya pada Nala. Seira pun melakukan hal yang sama, sementara Agathis hanya memandang ketiga temannya dengan geleng-geleng kepala.


"Bener, kan Agathis udah tau nih. Nah kita yang temen lo juga harus tau dong!" timpal Seira membuat Natasya mengangguk setuju atas apa yang dia katakan.


"Enggak, percuma gue cerita. Lo juga gak bakal percaya," katanya lalu menatap ke arah lain.


"Kata siapa? Lo aja belum cerita ke kita gimana kita bisa percaya atau enggak sih Nal. Udah deh dari pada lo bikin anak orang mati penasaran, mending lo cerita sekarang. Ayoo!" paksa Seira. Dia ingin mendengarkan penjelasan Nala, terutama tentang Nala dan Aksara, dia sungguh ingin mendengarnya.


Nala menghela napas panjang sebelum mulai menceritakannya pada Natasya dan Seira. Keduanya setia menunggu Nala, hingga ia membuka suara.


"Singkatnya, gue sama Aksara nikah karena dulu almarhum Bokap dan Aksara punya janji. Dulu waktu bokap masih ada, Aksara pernah bilang kalau nanti pas udah gede dia bakal nikahin gue di depan Bokap. Dan janji itu beneran terjadi sekarang. Gue sama Aksara nikah," penjelasan Nala barusan tentu membuat keduanya tak percaya, bahkan Natasya sampai menggelengkan kepalanya karena ucapan Nala.


"Lo bisa gak percaya sama cerita gue barusan. Sekarang gue gak perlu nutupin apapun dari kalian berdua," lanjut Nala lagi, ia memalingkan wajahnya menatap keluar cafe memandang orang-orang berlalu lalang.


Nala tersentak saat Seira tiba-tiba duduk di sebelahnya dan langsung memeluknya. "Apaan sih Ser, lepasin gak?" ia mencoba melepaskan kedua tangan Seira dari bahunya, namun bukannya di lepas, perempuan itu semakin erat memeluk pundaknya.


"Walaupun gue kesel karena lo gak kasih tau gue dari awal, tapi gue mau bilang makasih karena lo mau percayain gue sama yang lain buat denger masalah lo." Seira langsung melepas tangannya dari pundak Nala saat gadis itu benar-benar terlihat kesal. Seira paling senang ketika berhasil membuat Nala kesal dan marah.


Nala bergumam malas, kemudian mulai mengemasi dompet, power bank dan ponselnya ke dalam tas. Melihat itu, membuat Natasya yang hendak kembali memesan minuman jadi terhenti.


"Heh, mau ke mana lo?"


"Balik, udah ditungguin." Nala membalas, tapi terus sibuk mengecek barang-barangnya di dalam tas. Takut nanti ada yang tertinggal.


"Udah ya, gue balik duluan. Semua makannya udah gue bayar, kalian tinggal beres aja." Ia pun berdiri dari duduknya, membuat ketiganya ikutan beranjak dari tempat duduk.


"Lo diantar siapa?" tanya Agathis.


"Di jemput Aksa," jawab Nala menunjuk seseorang yang tengah menunggu di luar. Agathis, Natasya dan Seira jadi mengikuti tunjukan Nala. Aksara tengah menunggu Nala di luar, dengan kaca mata hitamnya cowok itu duduk di atas motor sembari menatap ke arah mereka.


"Ya udah deh, gue duluan. Hati-hati kalian!" pamit Nala berlalu keluar cafe, meninggalkan ketiga temannya. Nala berjalan menghampiri Aksara, membuat cowok itu dengan segera memberikan Nala helm yang langsung perempuan itu terima.


...


Tiga bulan kemudian


Hari sudah berganti malam, jam menunjukkan pukul 07.26 di malam yang sunyi itu Aksara duduk seorang diri di ruang tamu, di sampingnya sudah ada beberapa tumpukan buku dan di hadapannya sudah ada laptop. Sekali ia membuka buku paket di sampingnya lalu menjawab soal yang ada di layar laptop.


Aksara menoleh ke samping dan mendapati Nala yang baru saja keluar dari kamar. Nala melirik Aksara sekilas, kemudian melangkah ke dapur untuk mengambil air.


Ia membuka lemari dingin, mengambil botol air dingin juga sebungkus snack setelah itu kembali melangkah masuk ke dalam kamar.


"Tunggu!"


Aksara mencegah Nala, membuatnya menghentikan langkah. Nala menoleh sembari mengangkat salah satu alisnya, seakan bertanya ada apa.


Aksara sedikit membereskan tumpukan buku ke atas meja lalu meminta Nala untuk duduk di sofa kosong di sebelahnya.


"Sini!" pintahnya meminta Nala mendekat.


"Ngapain?" tanya Nala masih setia berdiri di tempatnya.


"Belajar, lo belum belajar kan buat USEK besok?" tanya Aksara membuat Nala mengaruk wajah, bingung membalas pertanyaan Aksara.


"Enak aja, gue udah belajar kali. Dari tadi sore," alibinya.


Ia lupa bawa besok adalah ujian sekolah pertama di mulai. Tanpa terasa besok pagi menjadi ujian terakhir baginya sebelum lulus SMA. Besok juga menjadi bulan ke 4 Aksara dan Nala hidup bersama.


"Duduk dulu, gak sopan bicara sambil berdiri." Aksara masih tetap memandang Nala, perempuan itu masih berdiri di tempatnya dan tak berpindah sedikit pun dari sana.


"Pokoknya gue udah belajar dari tadi sore. Udah deh gue mau masuk dulu, film gue belum selesai."


Nala melangkah meninggalkan ruang tamu, menyadari itu dengan cepat Aksara mencegahnya. Cowok itu menarik lengan Nala, membuatnya yang hendak masuk ke dalam kamar tak jadi.


Aksara melepaskan tangannya dari tangan Nala setelah perempuan itu duduk di sofa membuat Nala berdecak sebal.


"Kalau gitu kasih tau gue. Apa aja yang lo pelajari tadi?" tanya Aksara duduk di sebelah Nala, ia menatap Nala membuatnya menghela napas panjang.

__ADS_1


"Soal soal yang kemarin Bu Emi kasih," balasnya setengah ragu. Jangankan belajar, mengerjakan soal yang gurunya kasih untuk latihan saja Nala menyontek jawaban Agathis. Baginya percuma jika mengerjakan jika tak paham.


"Siniin soalnya, gue mau lihat." Aksara mengulurkan tangannya di depan Nala.


"Ada di dalam Sa soalnya."


"Ya udah ambil. Gue tunggu di sini," kata Aksara kembali menatap layar laptop di hadapannya. Namun bukannya bangkit dari tempat duduk Nala malah menyandarkan punggungnya ke sofa lalu menyalakan TV.


"Nal," Aksara menggelengkan kepala melihat tingkah laku perempuan di sampingnya.


"Hm?" Nala bergumam malas.


"Buruan di ambil soalnya. Keburu malam," Aksara masih mencoba sabar atas tingkah laku Nala.


"Buat apaan sih Sa. Udah deh, mending lo belajar aja. Gue gak bakal ganggu lo kok," ujar Nala mengecilkan volume TV agar tak menganggu Aksara belajar.


"Mau gue cek. Tau aja lo belum ngerjain," kata Aksara membuat Nala menatapnya tajam.


"Ambil sekarang, gue tunggu disini." Ia mengulang ucapan sebelumnya, tapi kali ini sedikit menakan setiap kata yang ia ucap. Nala yang mendengar itu mau mau tak mau beranjak dari sofa, ia masuk ke dalam kamar dan mengambil soal latihan.


Aksara tersenyum simpul melihatnya, ia melanjutkan mengerjakan tugasnya sambil menunggu Nala keluar. Beberapa menit kemudian, Nala belum juga keluar daei kamar. Aksara yang hampir selesai mengerjakan tugas jadi menatap pintu kamar yang sedikit terbuka.


"Nala."


Aksara mencoba memanggil Nala, tapi tak ada balasan dari gadis itu.


"Nala, buruan keburu malam."


Cowok itu masih mencoba memanggil Nala, tapi belum juga ada sahutan.


"Nala."


"Nal, buruan keluar atau gue yangβ€”"


Belum sempat Aksara menyelesaikan ucapannya, pintu kamar terbuka lebar. Nala keluar dengan mengomel gadis itu perlahan berjalan mendekati Aksara sambil membawa beberapa lembar kertas soal latihan.


"Bawel lo kayak Nyokap. Sabar kali, kertasnya ilang tadi." Nala mengomel, baginya Aksara sama seperti sang Mama yang tak pernah sabaran. Padahal hanya 5 menit saja.


Lalu Nala menyerahkan lembar latihan soal pada Aksara. "Tuh ambil," kataanya mendengus pelan.


Aksara menerimanya, cowok itu perlahan mulai mengecek lembar soal latihan. "Ini lo yakin, udah bener semua?" tanya Aksara memastikan..


"Dih, gak percaya banget lo sama gue." Nala berdecih pelan saat Aksara menuduhnya. "Gue kerjain sendiri tuh tadi," katanya lagi.


"Tadi sore atau tadi waktu gue suruh ambil?" Aksara mengangkat salah satu alisnya, menatap tanya Nala. Ia yang di tatap seperti itu jadi membuang muka.


"Tadi sore lah, ya kali gue ngerjain tadi." Nala membalas dengan ketus karena Aksara tak kunjung mempercayai ucapannya.


"IYA GUE JAWAB SENDIRI!" teriak Nala kesal.


"Pantesan, jawabannya salah semua." Aksara mengembalikan lembar soal latihan pada Nala, membuatnya kembali mendengus pelan.


Aksara lalu berdiri, cowok itu masuk ke dalam kamar tak lama keluar sambil membawa beberapa lembar kertas di tangannya. Kemudian Aksara menyerahkan kertas tersebut pada Nala.


"Kerjain soalnya, itu sama kayak soal yang Bu Emi kasih. Tapi ada beberapa tambahan yang gue ambil dari buku," katanya kembali duduk di sebelah Nala.


Nala menatap lembar latihan soal yang baru saja Aksara beri padanya. Baru melihat soalnya saja sudah membuat kepalanya pening.


"Gue kasih besok ya, gue udah ngantuk." Nala menguap, berharap Aksara memberikannya keringanan.


"Gak usah alasan. Kerjain soalnya sampai jam delapan," Aksara menghiraukan ucapan Nala setelahnya, ia fokus membaca buku.


"Jam delapan? Yang bener aja dong. Cuma tiga puluh menit?" protes Nala tak terima.


"Gak ada siaran ulang. Waktu terus berjalan, jangan buang-buang waktu. Kerjain buruan!"


Aksara mengangkat bahu tak acuh, ia memilih fokus pada bukunya meski beberapa kali melirik Nala, memastikan apakah Nala benar-benar mengerjakan soalnya.


Karena tak ada pilihan Nala pun menurut, ia mulai membaca soal beruntun di tangannya. "Baca teliti, jawabannya ada di sana kalau lo teliti." Aksara mengingatkan Nala karena sudah dua soal yang perempuan itu jawab tapi asal.


Nala mendongak menatap Aksara yang juga menatapnya, keduanya sempat bertukar pandang sebelum Aksara memutus kontak. "Jangan lihatin gue, lihatin soalnya!"


"Siapa juga yang lihat lo, kepedean banget." Nala memutar bola mata malas, ia pun mulai mengerjakan soalnya kembali. Kali ini ia lebih teliti dari pada sebelumnya, walaupun tak jarang Nala bertanya pada Aksara saat ia tak tau artinya apa.


Tiga puluh menit berlalu, Nala pun selesai mengerjakan tugasnya. Ia menatap Aksara dari samping, pemuda di sebelahnya kini sedang memeriksa jawabannya.


"Salah sepuluh," kata Aksara tiba di halaman terakhir lembar latihan soal.


"Coba di teliti lagi. Nih," ia pun menyerahkan kembali latihan soal itu pada Nala.


Mau tak mau Nala kembali mengerjakan ulang. Setalah berhasil mengerjakan semuanya, ia pun mengarahkannya pada Aksara untuk cowok itu cek kembali apakah ada kesalahan atau tidak.


"Gimana?"


Aksara menatap Nala, lalu mengangguk kecil. "Lumayan, masih salah enam. Lanjutin sampai salahnya tinggal sedikit," kembali mengembalikannya pada Nala.


"Gue masuk bentar, ambil buku lain buat lo." Aksara beranjak dari duduk, lalu masuk ke dalam kamar. Hampir dua jam mereka belajar bersama, Aksara bahkan sabar membantu Nala mengerjakan soal. Ia juga menjelaskan materi apa yang sebelumnya tak Nala pahami.


"Setelah ini langsung tidur, besok bangun lebih awal biar bisa belajar lagi," ujar Aksara membereskan kertas yang berserakan di lantai, ia juga menumpuk bukunya menjadi satu lalu menyimpannya ke dalam lemari.


"Iya, gue masuk duluan ya. Udah ngantuk." Nala menguap, baru kali ini ia belajar hingga selarut ini, biasanya baru sepuluh menit membukabuku ia ketiduran dengan buku menjadi bantal.


...

__ADS_1







Hari pertama ujian sekolah berjalan dengan lancar. Nala tak henti hentinya tersenyum. Hal itu membuat ketuga temannya bingung, tak biasanya Nala senang seperti ini. Karena biasanya jika ujian selesai perempuan itu akan kesal karena tak dapat menjawab soal.


"Seneng banget kelihatannya. Kenapa lo? Awas kesambet lo," Seira menepuk pundak Nala, merangkul pundak perempuan itu. Membuat Nala mengalihkan perhatiannya pada Seira.


"Gue seneng deh, gue bisa ngerjain soal tadi." Nala menatap ketiga temannya bergantian. Ada rasa bangga salam hatinya karena berhasil melewati ujian pertama dengan lancar.


"Wih keren!" puji Agathis senang mendengarnya.


"Tumben lo, biasanya juga kesal karena gakbisa jawab soal. Pasti karena Aksara ya?" Natasya memicingkan matanya curiga membuat Nala tertawa, sudah ketebak.


"Cie yang makin dekat aja nih yee!" Seira menyenggol pelan lengan temamnya itu, menggoda Nala.


"Apaan sih, biasa aja kali." Tak dapat dipungkiri Nala senang mendengar godaan Seira.


"Nala..."


Panggilan seseorang dariluar berhasil membuat Nala dan yang lain menoleh ke arah pintu. Di ambang pintu, Aksara berdiri. Kehadirannya itu tentu berhasil membuat beberapa anak di dalam kelas heboh, jarang-jarang Aksara datang ke kelas lain kecuali saat sedang mengadakan razia.


"Tuh udah di jemput doi," kata Natasya.


"Ya udah gue duluan. Bye guys!" Nala pun berlaludari hadapan ketiganya, buru-buru ia menarik Aksara pergi meninggalkan kelasnya. Ia tak ingin menjadi penbicaraan anak-anak kelas.


"Kenapa ke kelas gue sih," tiba di parkiran Nala mengomeli Aksara, ia menatap kesal cowok di hadapannya itu karena tiba-tiba datang ke kelasnya. Padahal tadi cowok itu sendiri yang memberitahunya untuk menunggu di depan.


"Sekalian tadi. Udah jangan marah, kamu belum makan kan ayo kita makan sate biar kamu gak marah lagi." Aksara berkata panjang, ia lalu memasangkan helm ke kepala Nala. Perilaku Aksara yang mendadak berubah membuat Nala yang akan marah tak jadi, pipinya seketika bersemu merah sekarang.


"Ayo naik!" Aksara mengulurkan tangannya pada Nala agar perempuan itu dengan mudah naik ke atas motor.


"Tunggu dulu!" cegah Nala membuat Aksara mengerutkan dahi bingung.


"Tadi lo bilang apa? Aku kamu?" tanyanya tak percaya, setelah menyadarai ada perbedaan kata dari apa yang Aksara ucapkan tadi.


Aksara tersenyum mendengar balasan Nala. Gadis di hadapannya kini terlihat kebingungan. "Ayo naik, keburu siang!" masih setia mengulurkan tangannya. Nala pun perlahan menggapai tangan Aksara, ia mulai naik ke atas motor.


Setelah memastikan Nala naik dengan aman, Aksara mulai menyalakan motornya dan melaju meninggalkan sekolah.


Tak berapa lama motor berhenti di depan ruko sate, Nala turun dari motor lalu melepas helm. Aksara menaruh helm ke atas jok, ia menggengam tangan Nala dan mengajaknya masuk ke dalam.


"Pak, sate ayam sama kulit nya satu. Pakai lontong, minumnya teh anget tawar," katanya pada bapak penjual sate.


Aksara menghampiri Nala yang sudah duduk lebih dulu. Cowok itu membereskan piring yang belum di ambil ke samping, ia juga mengelap meja dengan tisu untuk membereskan remahan nasi sebelumnya.


"Sa, lo gak papa kan?" tanya Nala, menatap Aksara aneh. Pasalnya, cowok pendiam di hadapannya kini seketika berubah menjadi sedikit banyak bicara.


"Sumpah deh, hari ini lo aneh banget. Gak kayak Aksara yang biasanya gue kenal," cicit Nala pelan terdengar seperti bisikan.


Aksara tertawa mendengar ungkapan Nala. "Salah ya gue kayak gini?" Nala kelabakan saat melihat ekspresi wajah Aksara yang seketika berubah menjadi lesu.


"Sa, Sa, sorry, bukannya gue nyalahin lo tapiβ€”" Nala bingung harus berkata apa, sampai tangan besar Aksara megenggam tangannya.


"Gak usah panik. Gue gak papa," kata Aksara.


"Sorry Sa," Nala menunduk seketika merasa bersalah.


"Jangan minta maaf, lo gak salah." Aksara meminta Nala untuk menatapnya, membuat Nala perlahan mengangkat pandangan.


"Nal, mulai sekarang gue mau lo ubah sebutan panggilan gue ya? Jadi aku kamu, bisa?"


...


...HALO HALO HALO!...


...AKHIRNYA CERITA AKSANA TAMAT JUGAAA ~...


...lega banget bisa menyelesaikan cerita mereka....


...MAKASIH BANYAK YA UNTUK KALIAN YANG MAU DAN MASIH SETIA MENUNGGU MEREKA BERDUA, MAAF JUGA TELAT UPDATE 2 MINGGU KARENA AKU BINGGUNG HARUS NULIS APA....


...SEKALI LAGI AKU UCAPKAN TERIMA KASIH SEBANYAK-BANYAKNYA KE KALIAN YAAA~...


...Berkat kalian aku bisa menyelesaikan cerita Aksana sampai hari ini!...


...Sampai jumpa di cerita Nana lainnya yaa ^^...


...PAYPAY SEMUANYA πŸ™‡πŸ»β€β™€οΈπŸ’—πŸ€©πŸ’’πŸ’«πŸ˜ŽπŸ§šπŸ»β€β™€οΈπŸ’‹πŸ˜‰πŸ’“β€πŸ™‹πŸ»β€β™€οΈπŸ™†πŸΌβ€β™€οΈβ£πŸ’žπŸ’πŸ˜πŸ’›πŸ–€πŸ˜Ό...



...Aksara Devara...



...Anala Debora...

__ADS_1


__ADS_2