Aksana

Aksana
04. AKSANA


__ADS_3


Bruk...


Dengan sekali dobrakan pintu kelas terbuka lebar. Beberapa anak kelas yang bersantai di depan dibuat terkejut olehnya.


Nala melangkah masuk ke dalam kelasnya dan langsung duduk di tempat duduknya. Menghiraukan bisikan-bisikan yang dia pastikan itu menuju padanya.


"Are you okay?"


Nala yang diberikan pertanyaan seperti itu oleh Sera hanya diam. Agathis menggelengkan kepala pada Sera, sekarang bukan waktunya untuk menanyakan keadaan gadis itu. Nala diam di tempat, napasnya terdengar memburu.


"Udahlah Nal jangan lo pikirin lagi. Dari dulu Evelyn kan udah kayak gitu anaknya. Biarin aja," ceplos Natasya membuat Sera dan Agathis menoleh dan melotot padanya.


Natasya yang di tatap seperti itu jadi bingung dengan raut wajah bertanya-tanya. Dia menatap balik keduanya.


"Emang gue salah apa?" hanya dengan gerakan mulut Natasya bertanya.


"Si bodoh!" kesal Agathis mengumpat.


Mendengar itu Natasya memilih diam saja. Memilih untuk mengipasi wajahnya dengan kipas berbulu.


Sera dan Agathis tau jika sekarang bukan waktunya untuk ketiganya bertanya dan membahas Evelyn dan teman-temannya. Mereka juga tau jika Nala tak ingin membahasnya apalagi keadaan sekarang sudah terlihat jelas, betapa kesal dan marahnya dia.


Nala tiba-tiba berdiri ketika keadaan bising di kelasnya terjadi. "Gue mau ke kamar mandi," katanya.


"Mau gue antar gak?"


Nala menggeleng pada Sera. "Lo yakin?" tanya Sera memastikan.


"Yakin, gue sendiri aja. Kalian bertiga di kelas nanti takut ada guru," tolaknya. Nala berlalu meninggalkan bangkunya, kali ini dengan sedikit kalem dia menutup pintu kelas.

__ADS_1


"Hati-hati Nal," kata Agathis khawatir pada Nala yang sudah menghilang. Sera ingin menyusul, dia takut Nala kenapa-napa namun Agathis lebih dulu menahannya, dia menggelengkan kepala meminta Sera untuk tetap duduk.


"Jangan disusul. Dia butuh waktu sendiri."


...


Nala terus melangkah menyusuri lorong kelas yang kala itu sepi. Matanya sejenak menatap layar ponsel yang dia bawa. Tinggal satu jam lagi istirahat akan tiba, pantas saja lorong kelas nampak sepi.


Nala menghela napas panjang sebelum menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku seragam. Kakinya terus melangkah, melewati kamar mandi perempuan yang seharusnya menjadi tujuan awalnya dia keluar kelas.


Mendadak Nala menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah gerbang. Selama dua menit tubuhnya terdiam di sana, sampai memutuskan untuk masuk ke dalam.


Nala menyeret salah satu kursi kayu dan menaruhnya tepat di depan sebuah warung. Sambil mengulurkan tangannya, dia mengambil sebungkus kerupuk kulit yang tergantung di atas.


"Mau pesan apa Neng?" tanya si Ibu penjual.


"Es jeruk aja satu, yang manis ya!" ucap Nala yang langsung dibalas acungan jempol oleh si ibu penjual.


Beberapa notifikasi pesan terlihat di layar ponselnya yang menyala, dari pesan itu terdapat ketiga temannya yang terus menanyakan keberadaan Nala yang belum datang ke kelas.


Sera : Nala, lo dimana? Buruan ke kelas.


Natasya : Lu ngapain dah di kamar mandi selama ini? Bertapa?


Agathis : Nal, buruan balik. Ada Bu Anjar di kelas.


Nala berdecak pelan, sejenak dia menatap layar ponselnya yang masih menyala. Memilih untuk tak melanjutkannya, Nala mematikan ponselnya dalam mode silent.


Setelah cukup lama menunggu, minuman pesanan Nala tiba. Dengan sekali tegukan es jeruk pesanannya habis setengah. Tak lupa mengucapkan makasih pada si ibu penjual.


"Aghh... seger banget." Nala mendesah lega begitu tak lagi merasakan panas di tenggorokan. Kemudian, menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Sesekali manik matanya menatap ke penjuru kantin yang sepi.

__ADS_1


Bagaimana tidak, gadis itu hadir di kantin sebelum jam istirahat tiba. Suasana yang sepi dan sunyi membuat Nala tersenyum lebar. Waktu yang paling dia nantikan pun tiba.


"Sendirian aja. Gak takut dipanggil OSIS lagi lo karena cabut kelas. Gue boleh duduk sini kan?" tanya seseorang dibalik punggung Nala.


Dari ujung matanya, ia dapat melihat jika bayangan tinggi itu mendekatinya. Tak lama bunyi tarikan kursi terdengar dan berhenti tepat di samping tubuhnya.


"Duduk aja, gak ada yang larang juga." Nala menjawab lalu menyeruput es jeruknya yang tersisa setengah.


"Lo gak takut di panggil OSIS lagi?" cowok di sebelahnya kembali melontarkan pertanyaan yang sama.


"Lo sendiri? Ngapain cabut," bukannya membalas pertanyaan yang cowok itu lontarkan untuknya. Nala malah bertanya balik, membuat cowok itu tertawa.


Melihat itu membuat Nala menoleh, menatap aneh cowok di sebelahnya. Apa pertanyaan yang dia lontarkan barusan lucu?


"Lo ngapain ketawa? Emang pertanyaan gue lucu ya?" dengan lugunya Nala bertanya.


Cowok itu menggelengkan kepala cepat-cepat. "Enggak! Enggak! Pertanyaan lo gak ada yang salah," ujarnya.


"Terus ngapain lo ketawa?"


"Gak papa, emangnya salah, gue ketawa?" Cowok di sebelahnya kini mengubah posisi duduknya menjadi menyamping, menatap Nala dari samping.


"Gak jelas lo," ketus Nala. Memilih tak peduli, gadis itu melanjutkan makannya yang tertunda.


"Lo gabut kan? Ayo ikut gue," tiba-tiba saja cowok itu menarik lengannya untuk pergi meninggalkan kantin. Nala yang tak mengerti apa-apa hanya dapat ikut, berulang kali tangannya mencoba untuk lepas tapi tak bisa.


"Apaan sih! Lo ngapain tarik-tarik gue, Dirga?" tanya Nala dengan nada yang cukup keras.


Belum sempat mendapatkan jawaban. Secara mendadak, Dirga menarik tubuhnya. Membuat Nala yang tak siap jadi tertabrak tubuh besar milik cowok itu.


Keduanya bersembunyi tepat di bawah kolong tangga. Tubuh kecilnya di dekap Dirga, membuat degup jantung Nala berdetak kencang. Nala memejamkan matanya, aroma maskulin menyengat indera penciumannya.

__ADS_1


"Sialan! Kenapa jantung gue jadi marathon gini?"


__ADS_2