Aksana

Aksana
19. AKSANA


__ADS_3


Nala dan Zora memutuskan masuk ke dalam kembali setelah cukup lama keduanya berada di luar. Dapat Nala lihat sekarang, para pelayan mulai menghidangkan makanan.


"Maaf, harus menunggu lama." Zora mengucapkan maaf sambil duduk di kursinya.


"Kami mengerti, silakan di makan!" ujar Mila.


Nala hanya menatap makanannya. Makanannya itu nampak enak sekali, semuanya terlihat lahap menyantap makanan masing-masing. Namun tak dengan Nala, rasa laparnya tadi kini tak lagi sama.


"Bisa ikut gue sebentar gak?" tanya Nala setengah bergumam, pada Aksara yang sudah menyelesaikan makan malamnya.


Aksara mengangguk kecil. Bunyi geseran kursi terdengar dan Aksara bangkit dari duduknya. Membuat yang lain jadi memandangnya, begitu juga dengan Nala.


Malihat itu Nala pun ikutan berdiri. Sebelum Nala meminta izin untuk keluar, ada yang perlu dia bicarakan pada Aksara dan itu harus dia bicarakan sekarang.


"Maaf semuanya. Nala sama Aksara izin keluar sebentar," ujarnya pada yang lain.


Mila tersenyum sambil mengangguk semangat. "Boleh, boleh. Yang lama juga gak papa," katanya yang Nala balas dengan senyuman canggung.


"I-iya Tante," setelah meminta izin Nala meninggalkan ruangan lebih dulu. Sementara Aksara mengikutinya dari belakang.


Keduanya berhenti di balkon restoran yang langsung menghadap pada gedung-gedung tinggi pencakar langit. Malam itu angin terasa kencang, yang mampu membuat tubuh Nala tergeser ke samping namun Aksara tahan.

__ADS_1


"Bicara di dalem aja. Disini anginnya dingin. Ntar lo sakit," ajak Aksara. Menyuruh Nala untuk kembali masuk ke dalam karena tak ingin membuat Nala sakit, apalagi dengan pakaian yang Nala gunakan malam itu.


Belum sempat Aksara melangkah, Nala membuka suara membuatnya tak jadi kembali dan fokus mendengarkan ucapan Nala lebih lanjut.


"Gue mau lo tolak perjodohan ini!"


Aksara menaikkan sebelah alisnya sembari menyimpan kedua tangannya ke dalam saku. Cukup lama Aksara terdiam dalam posisi itu, sampai akhirnya ia membuka suara.


"Gak mau!" tolaknya dengan tegas. Nala memandangnya sejenak, setelah itu berdecak kasar seraya melipat kedua tangan di depan dada.


"Pokoknya lo harus tolak perjodohan ini," ujarnya penuh penekanan.


Aksara menggeleng cepat.


"Pokoknya lo harus tolak. Gimana pun caranya!"


"Enggak Nala," ucap Aksara dengan nada yang berubah rendah, masih tetap pada pendiriannya.


"Tolak Aksara."


"Gak mau Anala. Gue gak mau kalau bukan lo jodohnya."


Deg

__ADS_1


Detik itu mulut Nala tertutup rapat. Kalimat terakhir yang Aksara ucapkan berhasil membuatnya terdiam. Kata-kata yang sebenarnya tak ingin dia dengar tercetus bebas dari mulutnya.


Tanpa adanya beban ia mengatakannya, mengatakan bahwa Aksara tak ingin menikah jika bukan Nala jodohnya?


Aksara langsung menarik lengannya, membuat Nala yang dari tadi melamun jadi tersadar. Gadis itu mengikuti langkah Aksara. Dia kira mereka akan kembali ke dalam, tapi dugaannya salah. Aksara mengajaknya pergi keluar restoran.


"Lo apa-apaan sih. Lepasin gue gak!"


Nala berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Aksara. Tapi, semakin Nala berusaha untuk lepas semakin terasa erat genggaman Aksara yang Nala rasakan.


Sampai keduanya tiba di parkiran resto. Aksara perlahan melepaskan genggamannya.


"Masuk," suruhnya pada Nala sambil membuka pintu mobil, meminta Nala masuk ke dalam.


"Enggak mau!" tolak Nala, kemudian berbalik badan dan ingin kembali menyusul Zora dan Abel.


Menyadari bahwa Nala akan pergi, cepat-cepat Aksara mencegahnya. Membuat Nala yang akan melangkah pergi jadi terhenti.


"Gue suruh lo masuk ke dalam Nala, bukan pergi. Masuk," pintahnya kembali.


Nala memandang kedua bola mata hitam yang kini memancarkan cahaya akibat silauan lampu. Terdengar jelas di pendengaran Aksara, jika Nala mengumpat kasar namun gadis iru menurut dan masuk.


"Ck, ribet banget sih!" katanya kesal.

__ADS_1


__ADS_2