Aksana

Aksana
29. AKSANA


__ADS_3


Desas desus berita tentang keluarnya Dirga menyebar. Meski belum tentu kebenarannya, tapi kini, semua anak mulai membicarakannya.


Bahkan Dirga sampai sekarang belum juga keluar dari ruang rapat. Padahal hampir tiga jam di dalam sana.


Sementara satu persatu guru di dalam mulai meninggalkan ruangan. Dari mereka semua hanya diam, tak mengatakan apapun, dan meminta semua para murid pergi dari sana- tepatnya di depan ruang rapat.


"Itu beneran si Dirga bakal dikeluarin dari sekolah?" tanya Natasya di tengah perjalanan menuju kantin.


"Mana gue tau, jangan nanya gue. Beritanya aja belum jelas," balas Seira.


"Jangan percaya dulu. Mungkin itu masih isu," kata Agathis mengigatkan Natasya.


Mendengar itu Natasya hanya menghela napas. "Tapi kalau beneran?"


"Kita doain yang terbaik. Pasti ada alasan kenapa dia keluar," balas Agathis.


Natasya lagi-lagi menghela napas, memang susah saat sebuah isu itu ramai tapi belum ada kebenaran.


Mau percaya tetapi mungkin beritanya salah, tapi mau tidak percaya kadang beritanya benar.


"Kalau emang dia keluarin, itu kesalahan dia. Kenapa harus ngelakuin kesalahan itu. Daripada kita nebak-nebak gak jelas, mending lo pesan makanan. Sekarang giliran lo," ujar Seira.

__ADS_1


Tanpa sadar mereka tiba di gerbang pintu kantin, suasana ramai mulai terasa. Lebih tepatnya suasana ramai itu tak lagi sama, disetiap sudut kantin masih tetap saja membicarakan isu yang belum benar adanya.


"Kok gue?" Natasnya nampak protes.


Seira berdecak pelan lalu melipat kedua tangannya di depan dada. "Hari ini giliran lo Nat, gak usah ngeles deh. Buruan pesen keburu rame nanti," katanya.


Tanpa protes Natasya menurut, ia meninggalkan Agathis dan Seira.


"Jangan lupa pesenin Nala juga," ujar Seira setengah berteriak pada Natasya, yang perempuan itu balas dengan lambaian tangan menandakan pesanan diterima.


"Yuk, cari tempat kosong!" ajak Agathis menggandeng Seira untuk mencari tempat duduk kosong.


"Lama-lama kuping gue penggang denger mereka ngomongin Dirga," cetus Seira menarik salah satu kursi kosong samping Agathis.


"Biarin aja. Anggap aja mereka ngobrol kayak biasanya. Nanti juga capek-capek sendiri mereka," timpal Agathis merapikan mangkok dan gelas bekas makanan dari pelanggan sebelumnya.


...


Sementara itu di dalam kelas hanya ada Nala seorang. Ia tak ikut keluar bersama ketiga temannya karena ingin istirahat di dalam kelas.


Sebelumnya baik Natasya, Agathis dan Seira sudah mengajak Nala ke UKS agar gadis itu bisa istirahat lebih nyaman. Tapi Nala memilih menolaknya, ia tetap pada pilihannya untuk istirahat di dalam kelas.


"Jadi Dirga beneran dikeluarin dari sekolah?" suara khas yang tak asing di pendengaran Nala membuat gadis itu mengerjap beberapa kali sampai ia benar-benar sadar dari bangunnya.

__ADS_1


"Katanya gitu. Buktinya dia belum keluar-keluar dari ruang rapat. Ini aja udah istirahat kedua," Luna melahap habis siomay terakhir di atas piring sambil terus berbicara tentang Dirga, Dirga dan Dirga.


Nala yang memang sudah bangun sepenuhnya jadi mengernyit. Tak berapa lama ia kembali ingat tentang kejadian apa yang terjadi sebelumnya, dengan cepat ia menoleh ke belakang.


Menatap kursi Dirga. Kursi itu masih kosong, hanya ada tas hitam serta satu buku tulis. Itupun masih dalam kondisi yang sama seperti awal, saat Dirga meninggalkan bangku dan kelas.


Nala beranjak dari tempatnya. Ia menaruh tasnya kembali ke atas kursi lalu melangkah keluar meninggalkan kelas. Di setiap langkahnya menjauhi kelas, obrolan tentang Dirga menjadi topik utama di sana.


Meski tak semua yang membucarakannya, tapi hampir semua murid yang ada di lorong membahasnya.


Sampai langkahnya itu terhenti di depan pintu kamar mandi. Nala masuk ke dalam, ia hanya akan membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar. Setelah itu Nala kembali menuju ke kelasnya, bel masuk akan berbunyi sebentar lagi.


Nala sedikit mengerutkan dahi ketika tak sengaja melihat keramaian di depan kelasnya. Dengan perlahan gadis itu mendekat, ia juga melewati kerumunan untuk bisa masuk ke dalam kelas.


"Permisi, gue mau lewat," ujar Nala membuat orang-orang yang berkerumun jadi menoleh ke arahnya dan membiarkannya masuk.


"Ini kenapa pada kumpul di kelas gue sih?" tanya Nala setengah sinis. Ia memandang kerumunan di hadapannya dengan kesal. Tak lama memang Nala menatap mereka karena kini, tatapannya teralih ke depan.


Dirga, ternyata dia sudah kembali dari ruang rapat. Tapi anehnya, kenapa ia mengemasi barang-barang. Lalu, kenapa juga ada guru-guru di sebelahnya?


Dirga sendiri, setelah mengemasi semua barangnya dan mengobrol singkat dengan Bapak Ibu guru, ia pun berlalu pergi. Tanpa mengucapkan sepatah apapun pada teman-temannya.


Saat tubuh Dirga melewati Nala, keduanya sempat bertukar pandang. Tapi tak lama karena Nala memilih pergi dan menghiraukannya. Gadis itu duduk di kursinya dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.

__ADS_1


"Semuanya kembali ke tempat duduk masing-masing. Dan yang berada di luar, segera masuk ke kelas!" perintah Bu Anjar memperintahkan muridnya untuk kembali, mengantarkan Dirga keluar.


Jadi, rumor keluarnya Dirga memang benar adanya?


__ADS_2