
Sudah belasan alarm berbunyi menggema di kamar. Tapi pemilik dari alarm tersebut masih tetap terlelap dalam tidurnya. Sementara di luar kamar, tepatnya di meja makan Aksara tengah belajar.
Setelah mandi tadi ia memutuskan untuk keluar kamar sambil mempelejari materi yang nanti pagi akan gurunya jelasnya sekalian juga ia mengerjakan soal-soal olimpiade.
Melihat jam yang hampir menunjukkan pukul 6 pagi. Aksara bergegas dari duduknya dan masuk kembali ke dalam untuk bersiap-siap.
Tapi begitu tangannya membuka pintu, pandangan pertama yang Aksara lihat adalah- Nala masih terlelap padahal jam hampir menunjukkan pukul 6 pagi.
Aksara lebih dulu mematikan alarm Nala yang terus menerus berbunyi, lalu membuka korden dan membiarkan sinar matahari masuk ke dalam.
Aksara membangunkan Nala dengan pelan. "Nala, bangun."
"Nala,"
"Nala, bangun, kita bisa telat nanti."
Aksara menghebuskan napasnya kasar. Nala masih belum bangun juga, padahal tinggal lima belas menit lagi gerbang sekolah akan ditutup. Mengingat hari ini adalah hari Senin, di mana gerbang akan ditutup lebih awal dari biasanya.
"Bangun sekarang, atau lo bakal kena hukuman langsung dari gue." Aksara berbisik dengan nada berat.
Nala yang awalnya terlelap jadi terbangun karenanya. Karena cahaya matahari yang menyilaukan Nala mengerjap cepat lalu menatap Aksara di samping.
Nala ingat sekali ucapan apa yang baru Aksara katakan padanya. Itu adalah sebuah ancaman, yang sialnya berhasil membuat Nala terbangun. Sejujurnya dia sudah bangun, tepat saat Aksara masuk ke dalam. Tapi Nala memilih diam, seolah-olah ia masih tertidur.
"Sampai kapan lo diam ngelamun di sana? Bangun, ayo ke sekolah!" panggil Aksara berlalu keluar kamar. Ia sudah berganti pakaian.
...
"Tungguin gue dulu kenapa sih. Buru-buru banget," Nala berdecak kesal.
Pasalnya kini ia sedang menghabiskan sarapan yang tadi Aksara buat. Bukan karena Nala tak bisa masak, ia bisa memasak tapi kalau diminta di pagi-pagi buta seperti ini lebih baik Nala menikmati saja daripada harus membuat sarapan.
Aksara bergumam pelan. "Gak lihat sekarang jam berapa?" tanyanya setelah menghela napas. Ia memandang lekat Nala, perempuan itu masih santai menikmati roti bakar dengan segelas susu hangat.
Nala melirik ke samping, mencari jam. "Jam 06.15, kenapa?" jawabnya bertanya balik.
Aksara memejamkan matanya. Entah berapa banyak lagi ia kesabarannya yang terkuras karena tingkah Nala. Baru saja satu hari, satu hari keduanya tinggal bersama.
"Habisin makanan lo, gue tunggu di bawah. Secepatnya," putus Aksara menekan kata terakhir dari perkataannya.
Nala berdecak pelan. "Iya, nanti gue turun."
Setelah seluruh makanannya habis, Nala menyimpan piring dan gelas kotor ke dalam wastafel.
__ADS_1
Setelahnya menyusul Aksara, sejak tadi cowok itu menelponnya, tapi Nala hiraukan.
Setibanya di parkiran Nala menyusul Aksara yang lebih dulu berada di dalam, melihat kehadiran Nala sedikit membuat Aksara bernapas lega meski tak dapat dipungkiri jika ada rasa kesal. Karena sudah 5 menit Aksara menunggu kehadiran Nala.
"Sorry lama," ujar Nala memakai sabuk pengaman.
Aksara hanya bergumam pelam.
"Gak ada yang ketinggalan?" tanya Aksara pada Nala. Nala menggeleng membalasnya, lalu mulai mengeluarkan tepak paouchnya dan mulai berdandan.
Aksara melihat itu hanya bisa tersenyum, ia lalu menjalankan mobilnya dan pergi dari sana.
Diperjalanan Nala tak henti-hentinya mengomel, karena Aksara yang menggendarai mobil dengan kecepatan tinggi yang tentu membuat Nala terganggu. Ia sedang berdandan tapi mobil terus melaju kencang.
"Askara bisa pelanin dikit gak? Gue mau make-up please!" mohon Nala.
"Udah telat Nala. Lo bisa make-up di kelas," timpal Aksara masih fokus pada jalanan.
...
Seperti dugaan Aksara sebelumnya. Kini keduanya terpaksa harus berdiri di luar, menunggu upacara selesai baru mereka bisa masuk ke dalam. Aksara menatap gamang pintu gerbang yang tertutup rapat, untuk petama kalinya Aksara terlambat masuk sekolah.
"Percuma juga tadi lo ngebut-ngebutan. Ujung-ujungnya juga bakalan telat," gumam Nala tak berhenti mengomel.
Manik matanya menatap ke dalam, menatap para murid yang tengah berbaris rapi di tengah lapangan. Semuanya nampak dengan khitmad mengikuti upacara, meski tak sedikit dari mereka yang bercanda, tepatnya mereka yang baris di bagian belakang.
"Ikut gue," Nala menarik legan Aksara untuk ikut dengannya. Sampai keduanya berhenti tepat di depan pagar berwarna hitam yang menjulang tinggi.
Aksara yang tau dan mengerti dengan apa yang akan Nala lakukan tentu mencegahnya. Ia menarik Nala menjauhi pagar, tentunya hal itu membuat Nala kesal. Ia hampir saja terjatuh karena tarikan tiba-tiba Aksara.
"Lo mau masuk lewat sana?"
"Mau lewat mana lagi emang? Udah, lepasin gue." Nala menepis kasar tangan Aksara yang mencegahnya.
Ia kembali mencoba memanjat pagar, dan usahanya berhasil. Nala sudah berada di atas, kini ia memandang Aksara yang masih terdiam kaku di tempat.
"Ayo buruan naik, sebelum temen-temen lo datang. Buruan!" ajak Nala meminta Aksara cepat-cepat menyusul.
"Jangan diem doang. Buruan naik Aksa," ujar Nala tapi Aksara masih tak mau beranjak dari tempatnya.
"Turun Nala! Bukan gitu caranya lo menghidari hukuman," pintah Aksara menyuruh Nala turun dan kembali ke depan.
"Ribet banget sih. Yaudah kalau lo gak mau naik, yang penting gue gak mau dihukum lagi." Nala mengancang-ancang turun, ia menoleh sekilas ke arah Aksara sebelum lompat dari atas.
...
__ADS_1
"Dicariin, bukannya ikut upacara malah tidur di UKS!" Natasya geleng-geleng kepala begitu sampai di UKS. Ia melihat Nala, temannya itu kini sedang bersantai di atas kasur.
"Shut! Jangan berisik-berisik! Nanti kedengaran," Nala menempelkan jari telunjuknya di depan mulut. Mengisyaratkan Natasya untuk tak berisik.
"Agathis ke mana?" tanya Nala sambil mengubah posisinya menjadi duduk.
"Lagi balikin topi," jawab Sera.
"Ayo balik, bentar lagi bel." Suara yang tak asing itu berhasil membuat ketiganya menoleh.
Agathis berada di luar, cewek itu melambaikan tangannya pada Nala, Sera dan Natasya untuk segera keluar.
"Ngapain balik sih. Udah sini aja, gue males ke kelas. Lagian juga nanti ada ulangan. Gue belum belajar, daripada gue remed mending gausah masuk," keluh Natasya.
"Bukannya kemarin udah gue kasih ya kisi-kisinya?" tanya Sera heran.
"Iya udah, cuma pas waktu gue buka gue nya ngantuk. Jadi, gue gak belajar." Natsanya cenggegesan, seperti biasa.
"Kalau itu derita lo, " ujar Sera pasrah.
"Udah gak papa. Kita ke kelas, belajar bentar. Mumpung ada waktu," kata Agathis masih berdiri di luar.
"Yang bener aja lo. Masa belajar 10 menit. Ini matematika loh?"
"Daripada gak belajar. Udah balik kelas," Nala beranjak pergi dari duduknya. Berlalu keluar menyusul Agathis.
"Nanti juga sekelas bakal remed," gumam Nala yang terdengar jelas di telinga Agathis.
...
Tinggal 15 menit lagi bel istirahat berbunyi. Nala berjalan seorang diri di lorong kelas. Ia baru saja keluar dari kamar mandi untuk mencuci muka setelah mengerjakan ulangan Matematika.
Saat tubuhnya ingin berbelok ke kanan, samar-samar ia mendengar langkah kaki serta bisikan yang berhasil menarik Nala untuk mendengarnya.
"Tadi lo liat gak sih? Aksara dihukum di lapangan?" tanya seorang siswi berkuncur kuning.
"Iya-iya gue liat! Katanya dia telat datang ke sekolah," balas siswi disampingnya.
"Terus tadi waktu di tanyain telatnya kenapa. Dia malah diem," sahut siswi berkuncir kuning lagi.
Bisikan itu perlahan tak lagi terdengar. Nala yang bersembunyi dibalik tanaman terdiam. Seketika rasa tak enak datang menghantuinya.
Nala tau jika dirinya salah, itu semua karenanya, karenanya yang tak cepat-cepat bersiap dan malah membuang waktu.
...
__ADS_1