
"Aksa naik duluan Bun. Mau lanjutin tugas," kata Aksara beranjak dari tempatnya seraya membawa piring dan gelas kotor menuju ke dapur.
"Sini biar Bunda yang cuci. Kamu bisa duduk ke ruang tengah sebentar? Ada yang mau Bunda dan Ayah katakan ke kamu," suruh Mila mengambil alih piring fan gelas kotor itu dari tangan putranya.
Aksara sedikit mengerutkan dahinya bingung, tapi dia menganggukkan kepala dan menuruti ucapan Mila.
Aksara berlalu menuju ruang tengah sambil menunggu Mila menyelesaikan tugasnya dan pulangnya Rio.
Aksara menoleh keluar, menghentikan aktivitasnya sejenak menonton berita ketika mendengar bunyi mesin mobil terhenti tepat di depan rumah. Itu pasti Ayah, pikirnya.
Aksara melihat Rio yang baru saja tiba dan masuk ke dalam rumah. Ayahnya itu langsung duduk di kursi dan menaruh tas kerja serta beberapa lembaran map ke atas meja. Duduk bersebelahan dengan Aksara.
"Kebetulan kamu ada disini," ucap Rio. Sebentar ia merangkul pundak Aksara.
"Iya Yah," kata Aksara duduk di sebelahnya.
"Ada perlu apa sampai Ayah dan Bunda ajak Aksa duduk disini," heran Aksara.
Walaupun setiap malam mereka bertiga meluangkan waktu untuk duduk di ruang tengah dan mengobrol.
Tapi kali ini Aksara rasa ada yang berbeda. Biasanya dialah yang mengajak Mila dan Rio, tapi kali ini, Mila dan Rio lah yang mengajaknya.
"Ini Yah minumnya." Mila hadir menghampiri suaminya yang baru saja pulang dari kantor.
Wanita itu membawa nampan kayu berisikan tiga cangkir minuman hangat lalu duduk di hadapan mereka berdua.
"Makasih banyak Bunda," ucap Rio mengambil salah satu cangkir berisikan kopi hangat.
"Makasih Bun," ujar Aksara juga hanya meminumnya sebentar lalu menaruhnya kembali ke atas meja.
"Kamu pasti bingung kenapa Bunda dan Ayah minta kamu buat duduk disini sebentar." Mila mulai membuka suara setelah melihat raut wajah keheranan dari putranya.
Mila berpindah posisi, yang awalnya dihadapan Aksara kini beralih ke sebelah cowok itu. Rio pun sama merubah posisinya duduk di sofa single, menatap kedua orang yang dia sayang dengan senyuman.
Aksara hanya mengangguk. Dia masih belum paham dengan apa yang kedua orang tuanya minta.
__ADS_1
"Emangnya Bunda sama Ayah minta Aksa kesini ngapain?" tanya Aksara.
Ia rasa tak perlu mengulur waktu untuk bertanya lebih lanjut, Aksa hanya ingin langsung pada inti pembicaraan malam itu.
"Ada satu pertanyaan yang mau Bunda tanya ke kamu. Tapi, kamu harus jawab dengan jujur," kata Mila semakin membuat Aksara penasaran.
Aksara membalasnya dengan anggukan kecil membuat Mila menatap suaminya sebentar sebelum Rio membalasnya dengan anggukan juga.
"Kamu masih suka sama dia?" pertanyaan Rio jelas sama seperti apa yang pria paru baya itu katakan beberapa hari yang lalu. Pertanyaan yang sama namun kali ini Aksara harus menjawabnya.
"Kalau Aksa masih suka sama dia. Aksa bisa milikin dia sepenuhnya nanti," kata Mila.
"Sebentar, maksud kalian apa?" tanya Aksara yang sama sekali tak paham dengan alur pembiaran kedua orang tuanya.
Rio menghela napas panjang. "Ayah sama Bunda berencana buat jodohin kamu sama salah satu teman kita. Janji yang sebenarnya kamu sendiri juga sudah mengetahuinya," ucap Rio.
Aksara terdiam cukup lama. Bibirnya terasa kelu seketika. Pikirannya terus berputar, mengingat perjanjian yang batu saja ayahnya ucap.
"Kalau Aksa gak ingat, Bunda-"
Mila dan Rio saling melirik namun tak dapat dipungkiri keduanya tersenyum senang.
"Tapi, apa dia mau sama Aksara?"
"Itu bisa dipikirkan nanti. Bunda sama Ayah yang bakal urus itu. Sekarang kamu hanya perlu jawab pertanyaan Ayah, apakah kamu masih suka sama dia?" ulang Mila kembali, menunggu sautan dari mulut putranya.
...
Sementara itu di ruang makan, Nala, Abel dan Zora baru saja menyelesaikan aktivitas makan malam bersama mereka.
Abel berlalu lebih dulu setelah membereskan piringnya, perempuan itu pamit ke kamarnya untuk melanjutkan tugas prakarya nya yang belum dia selesaikan dan harus dikumpulkan besok.
Sedangkan Nala bersama Zora membereskan sisanya, kedua ibu dan anak itu saling bekerja sama.
Meski Nala nakal dan malas di sekolah, Nala tak mau dicap sebagai anak durhaka karena tak mau membantu Mamanya, lihatlah sekarang.
Dengan ogah-ogahan Nala menuruti kemauan Zora, dengan syarat kalau Mamanya itu akan membelikannya album artis favoritnya.
__ADS_1
"Yang bener cuci piringnya. Itu airnya aja netes ke lantai," tegur Zora.
"Udah bener juga. Nih udah wangi," ujar Nala menunjuk piring putih yang baru saja dia bilas dengan air, kemudian menyimpannya ke dalam lemari.
"Dikeringin dulu piringnya jangan langsung taruh. Nanti yang ada mejanya basah," tegur Zora kembali.
"Aduh.. aduh.. sakit Ma!" teriak Nala meringis, merasakan sakit di telinga. Zora menjewernya, membuat gelas yang dia pegang hampir saja jatuh jika Zora tak mengambil alihnya lebih dulu.
"Kamu itu, kalau cuci yang bener, jangan berantakan kayak gini. Mau dapat suami brewokan?" tanya Zora menganti posisi Nala untuk mencuci beberapa piring sisa.
"Biarin yang penting kaya." Nala mengangkat bahunya tak acuh.
Nala mengambil satu bungkus makanan ringan, tak lupa sebotol minuman dingin, ia pun pergi meninggalkan dapur menuju ke ruang tengah untuk menonton film yang malam itu akan tayang.
"Nala," panggil Zora berjalan mendekati putrinya dan duduk disebelah Nala.
Nala menoleh dan mendapati Zora yang sudah duduk di sebelahnya. Sambil mengunyah camilannya Nala bergumam pelan, melanjutkan aktivitasnya menonton film.
"Kamu tau hari ini hari apa?" tanya Zora. Nala terdiam sesaat dengan mulut yang terus mengunyah camilan.
"Hari kamis, kenapa?"
Zora berdecak, "Bukan."
"Terus, kan bener hari ini hari kamis dan besok jumat. Kenapa sih Ma?" Nala menggaruk wajahnya yang sama sekali tak gatal, tak mengerti dengan apa yang Mamanya katakan.
"Iya bener, hari ini hari kamis. Yang Mama tanyakan ke kamu, hari ini hari apa? Apa kamu gak ingat sama sekali?" Zora memicingkan matanya curiga dan begitu Nala menggeleng, Zora kembali berdecak pelan sambil membenarkan posisi duduknya.
"Enggak, emang hari ini hari apa?"
"Sekarang tanggal berapa?"
"Tanggal... " Nala terdiam matanya melirik ke sana kemari mencari sesuatu. Dan terhenti tepat di sebuah kalender yang berada di atas meja dekat sekali dengan TV.
"... 15," kata Nala setelah tadi terdiam beberapa saat.
Zora tersenyum sambil mengusap lembut kepala putri pertamanya. "Apa kamu lupa dengan kejadian ditanggal dan bulan ini?"
__ADS_1