
Langit perlahan menjadi gelap, tanpa terasa esok tiba harinya. Hari dimana hingga detik ini Nala tak pernah membayangkan bila ia benar-benar akan menikah muda. Apalagi, calon suaminya adalah Aksara Devara —cowok yang paling dia benci akan menjadi suaminya.
Menjadi istri dari Aksara yang menyebalkan tentu tak ada dibenaknya selama ini. Memang benar, jika Nala ingin mempunyai suami tampan dan kaya raya.
Tapi apakah harus dengan Aksara, yang notabenenya ketua OSIS.
"Perasaan kemarin masih pertemuan. Kenapa udah besok aja acaranya," gumam Nala menatap gedung-gedung pencakar langit yang ada di seberang.
Lampu warna-warni menghiasi gelapnya malam. Ditemani oleh secangkir susu hangat, Nala berdiri di balkon kamarnya untuk mencari angin agar bisa cepat tidur.
Sejak terbangun dari tidurnya karena ingin buang air ia tak bisa tidur kembali. Sudah berbagai posisi Ara gunakan untuk mencari tempat yang nyaman tapi belum ketemu juga.
Pada akhirnya Nala memutuskan untuk pergi ke bawah. Untung saja tadi saat Nala tiba di dapur, Zora tak ada di sana. Pasti kalau ketemu dengan mamanya Nala akan kena amukan karena sudah jam begini masih belum tidur juga.
Dan Nala hanya bertemu Abel saja. Adiknya itu masih terbangun, katanya tadi masih mengerjakan tugas. Karena tak ingin besok kepikiran tugas, maka Abel memilih begadang agar pekerjaan sekolahnya selesai.
"Belum tidur lo kak?" suara tak asing itu terdengar di sepasang telinga Nala, membuatnya cepat-cepat berbalik badan dan menemukan Abel yang berdiri di ambang pintu kamarnya sambil membawa pakaian di tangannya.
"Abel, ngapain kesini?" tanyanya bingung. Nala kira adiknya itu udah tidur, tapi ternyata masih bangun.
"Mau ngasih ini. Tadi Mama nyuruh gue buat taruh ini ke kamar lo," ujar Abel mengangkat sekilas pakaian di tangannya.
"Itu apa?" tunjuk Nala penasaran.
"Kebaya, besok pakai ini."
Nala melotot tak percaya mendengar jawaban Abel.
"Kebaya?! Harus banget pakai itu? Apa pakai baju lain gak bisa?" tanya Nala menawar.
Belum apa-apa pikiran buruknya menghampiri. Nala tak bisa membayangkan bagaimana jadinya nanti kalau ia benar-benar memakainya.
Ingatkan satu hal bahwa selama ini Nala benci dengan pakaian bernama kebaya.
Abel mendengus pelan. "Gila, lo mau pergi ke mana pakai baju biasa. Udah tau besok bakal nikah. Yang logis dikit kek pertanyaan lo," kata Abel lama-lama kesal.
"Ya kan bisa bukan kebaya Bel. Bisa pakai dress gitu? Itu ketat banget loh. Lo yang bener aja. Lo tau kan kalau gue benci sama kebaya, udah susah ketat lagi." Nala tampak protes, dia ingin menggunakan pakaian lain untuk acara besok. Apapun akan Nala gunakan kecuali kebaya.
"Sinting! Lo pikir pesta pake dress. Jangan bikin gue emosi ya lama-lama," napas Abel memburu seketika.
"Besok acaranya gak lama. Santai aja kali, capek tinggal duduk juga. Susah amat lu," kata Abel lagi mengantungkannya ke gantungan baju. Lalu Abel duduk di atas kasur Nala tak lama merebahkan diri di atasnya.
__ADS_1
"Bohong. Gak lama tapi satu jam?"
"Stress lo lama-lama, satu jam bentar anjir. Mau berapa lama lo? Tiga jam? Gak usah aneh-aneh deh," Abel mengubah posisi tidurnya menjadi tengkurap. Wajahnya sudah kesal setengah mati mendengar ocehan kakaknya.
"Udah, gak usah tanya-tanya lagi. Gue ngantuk," potong Abel menyadari bahwa Nala akan melayangkan protesnya.
Tak lama Abel menguap, gadis itu perlahan membenarkan posisi tidurnya sambil memejamkan mata.
"No! No! No! Gak ada kata tidur di kasur gue. Balik ke kamar sana, sempit Bel!" Nala mengusir Abel dari kasurnya.
"Gak mau, gue ngantuk!"
"Balik Abel. Sempit kalau berdua."
"Pas kali, kasur lo lebar. Iya kalau kasur gue, sempit!"
"Gak ada, balik sekarang! Punya kamar sendiri juga." Nala masih berusaha mengusir Abel dari kasurnya.
"Udah sih kak, itung-itung ini waktu terakhir kita tidur berdua. Besok juga lo bakal sama Kak Aksa kan?"
...
Hari berganti pagi, sinar matahari mulai menampakan diri, membuat Nala yang tertidur mulai terbangun dan mengubah posisi, dengan langkah gontai ia berjalan ke kamar mandi.
"KAK, BURUAN BANGUN! UDAH JAM BERAPA INI? LO LUPA SEKARANG HARI APA?" teriakan Abel mulai terdengar.
Lima belas menit berlalu, Nala keluar dengan kaos santainya. Perempuan itu perlahan turun ke bawah untuk sarapan sambil membantu Zora dan Abel untuk menyiapkan acara nanti siang.
"Pagi," sapa Nala sembari membuka kaleng slai coklat untuk sarapan.
"Buruan sarapan, Mama udah ngomel-ngomel di depan!" tegur Abel. Sejak pagi ia, zora dan beberapa pegawai WO bolak-balik menyiapkan semuanya.
Nala bergumam pelan kemudian melanjutkan sarapan hingga selesai tentunya sambil menonton film.
Setelah semua sarapannya habis, Nala menaruh piring dan gelas ke dalam wastafel. Lalu menyusul Abel dan Zora yang sedang menata ruang tengah.
"Nala sama Abel aja yang lanjutin semua. Mama istiarahat aja," Nala mengambil alih sapu dari tangan Zora, menyuruhnya untuk beristirahat sejenak.
"Barang-barang di depan jangan lupa bawa masuk. Mama ke atas mau siapin baju kamu," ujar Zora melenggang pergi.
...
"Masuk aja, pintunya gak dikunci!" ujar Aksara begitu pintu kamarnya terketuk dari luar. Tak lama bunyi geseran pintu terdengar, Mila masuk dengan nampan berisikan makanan.
__ADS_1
"Padahal Aksa mau turun buat makan. Makasih Bunda," ujar Aksara mengambil alih nampan kayu dari tangan Mila dan menaruhnya ke atas nakas.
"Gimana? Semua baju udah siap? Terus jas yang Bunda siapin kemarin udah siap juga kan?" tanya Mila memastikan.
Aksara mengangguk sambil menunjuk lemari, di depan lemari sudah tergantung stelan jas yang akan Aksara gunakan nanti. "Sudah siap Bun. Tinggal siapin baju yang lain aja mungkin," kata Aksara menatap koper miliknya.
Harusnya pagi itu semua baju yang ada dalam koper sudah dipindahkan ke apartemen. Tapi karena kemarin ia harus mengurus beberapa masalah, dan kecapekan Aksara jadi tak sempat membereskan baju-bajunya.
Padahal Pak Joni sudah siap sedia di bawah untuk mengantarkannya.
"Biar Bunda bantu. Kasihan Pak Joni udah nunggu di bawah," Mila mengambil salah satu kaos yang belum Aksara lipat. Namun baru saja tangannya meraih kaos tersebut, Aksara lebih dulu mecegahnya.
"Jangan! Jangan! Biar aku aja yang selesaiin. Bunda istirahat aja, dari kemarin kerja terus."
"Bunda turun dulu kalau gitu. Sarapannya jangan lupa di makan!" ucap Mila mengalah sembari mengusap lembut rambut putra semata wayangnya.
...
Suasana hening dan damai tercipta begitu Nala menginjakkan kakinya di anak tangga. Kedua anggota keluarga terdekat serta rekan kerja mulai berdatangan.
Nala mengatur napasnya kembali sebelum digiring ke bawah, dan duduk di samping Aksara. Seperti biasa, ia terlihat tenang dengan wajah yang datar. Berbeda jauh dengan Nala yang nampak gugup.
Selama 17 tahun ini Nala tak pernah merasakan gugup. Apalagi di depan orang lain. Tapi entah bagaimana, rasa percaya dirinya itu hilang seketika di hari itu.
Karena Ayah Nala sudah meninggal dunia. Zora dan yang lainnya sepakat untuk menjadikan Bima- adik laki satu-satunya yang Zora miliki sebagai wali.
Semua para tamu undangan menunggu ijab kabul yang sebentar lagi terdengar.
Mengucapkan Ijab kabul adalah suatu hal yang sakral, momen paling penting dan mendebarkan dalam acara pernikahan, terutama untuk calon pria.
Dengan menarik napas panjang. Aksara menjabat tangan Bima, dengan pak penghulu di sampingnya yang mulai mengucapkan ijab kabul.
"Ananda Aksara Devara bin Arion Devara, saya nikahkan dan saya kawinkan Engkau dengan Anala Debora binti Ajisaka Naufal almarhumah dengan mas kawin seberat 88 gram, uang 15 juta dan seperangkat alat sholat sibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Anala Debora binti Ajisaka Naufal almarhumah dengan mas kawin tersebut tunai!" Aksara melafalkan ijab kabul dengan sekali tarikan.
Penghulu mengangguk singkat lalu menatap para tamu. "Gimana para saksi sah?"
"SAH!"
"Alhamdulillah!"
...
__ADS_1
...CIE YANG NIKAH! 💍...
...Ada pesan buat Aksara dan Nala gak? Kalau ada, kasih tau yaa!...