Aksana

Aksana
09. AKSANA


__ADS_3


Aksara dan Rasya berada di dalam perpustakaan. Mereka berdua sedang mencari buku, tepatnya Aksara yang membutuhkannya sementara Rasya hanya menemaninya.


"Gue cuma ketemu ini doang, gimana?" tanya Rasya membawa beberapa buku tebal yang berhasil dia temukan ke atas meja.


"Gak masalah thanks udah bantu gue," ucap Aksara menepuk pundak Rasya.


"Ya udah, gue duluan. Kalau nanti butuh bantuan langsung kabarin gue aja," ujar Rasya beranjak pergi meninggalkan Aksara. Membiarkan cowok itu belajar dengan tenang.


Aksara mengangguk kecil lalu menarik salah satu kursi kosong dan mendudukinya. Cowok itu mulai membuka satu persatu buku tebal di hadapannya lalu membacanya dengan seksama. Sesekali Aksara menulis materi penting di dalamnya.


Lima belas menit berlalu.


Aksara menyelesaikan belajarnya setelah menyadari bahwa di dalam perpustakaan tak hanya ada dirinya seorang. Bel istirahat sudah berbunyi, maka dari itu semua murid bisa keluar kelas dan keluar masuk perpustakaan.


Aksara beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan perpustakaan sambil membawa beberapa buku yang sebelumnya sudah dia pinjam di meja penjaga.


"Udah selesai lo?" tanya Rasya pada Aksara. Dia baru keluar dari kelas dan ingin menyusul Aksara ke perpustakaan untuk dia ajak ke kemarin. Tapi cowok itu sudah keluar lebih dulu.


"Udah, yang lain gimana? Udah pada istirahat?" tanya Aksara menyimpan bukunya ke dalam tas.


"Udah kayaknya. Tadi gue ketemu Tian sama Dewa, mereka ke kantin."


"Yuk ngantin, terus lanjut tugas lainnya." Rasya merangkul pundak Aksara, mengajaknya pergi ke kantin. Kedua cowok tampan dengan jabatan Ketos dan Waketos itu berjalan melewati lorong kelas sambil membalas sapaan dari teman dan adik angkatnya.

__ADS_1


Lebih tepatnya Rasya yang membalas, tak jarang cowok itu juga menggodanya. Aksara hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja, tak lebih.


...


Nala keluar dari salah satu bilik kamar mandi. Dia bernapas lega sambil mengibaskan baju seragamnya yang basah akibat tak sengaja terciprat air. Dia berjalan menuju wastafel untuk mencuci muka.


Nala melepas jepit rambut berwarna putih dengan hiasan bunga matahari di atasnya. Sembari memandang wajahnya dari pantulan kaca di depannya lalu merapikan rambutnya yang sedikit basah ke belakang dengan sisir kecil berwarna hitam yang selalu dia simpan di dalam saku seragam.


Nala melirik dari pantulan kaca di depannya saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Ada yang baru saja masuk dan berdiri tepat di sebelahnya, membuat Nala cepat-cepat membenarkan posisi dan mencuci tangannya kembali setelah itu keluar.


"Enak banget ya jadi lo. Gak pernah jalanin hukuman tapi bisa berkeliaran," ujarnya berhasil membuat langkah Nala terhenti. Tangannya yang menggantung itu kembali dia tarik, Nala tersenyum miring lalu berbalik badan.


"Kenapa? Gak suka ya? Atau iri?"


Evelyn lalu menyandarkan tubuhnya pada wastafel, sambil terus menatap gerak gerik Nala.


"Harusnya lo terima kasih dong ke gue. Karena adanya gue dan anak-anak pembuat masalah lo jadi ada kerjaan? Bukan begitu?" ucap Nala dengan sengaja menekan kata pembuat masalah dalam ucapannya.


"Lo pikir tugas OSIS cuma ngurusin masalah? Enggak kali. Kita—" belum sempat Evelyn menyelesaikan ucapannya, Nala lebih dulu memotong percakapannya membuat Evelyn mengumpat dalam hati.


"Gue gak peduli," Nala tak membiarkan Evelyn untuk berkata apa-apa.


"Intinya, lo sama teman-teman lo itu babu sekolah. Mau aja di suruh-suruh," dengan tak sopan nya Nala berkata demikian.


Evelyn maju selangkah, hampir saja tangannya menyentuh pundak Nala. Namun untungnya, gadis itu lebih cepat sigap dan menahannya.

__ADS_1


"Apa? Lo mau dorong gue? Terus kalau berhasil lo ngadu ke mereka? Cepu banget jadi cewek," komentar pedas itu keluar dari mulut Nala yang semakin membuat Evelyn menggenggam erat tangannya, menahan emosi.


"Bisa jaga mulut lo gak?" tanya Evelyn penuh penekanan. Wajahnya yang putih bersih itu kini berubah memerah. Nala tahu jika kini Evelyn mencoba menahan emosi, tapi dia tak peduli.


Nala terkekeh kecil sebelum menempis kasar tangan Evelyn lalu mengibaskan tangannya ke udara, seakan baru menyentuh benda kotor.


"Kenapa? Gak suka gue bilang gitu. Bukannya benar ya?"


"Jaga mulut lo ya!" nada suara Evelyn seketika berubah menjadi tinggi.


Tubuhnya maju selangkah ke depan. Keduanya kini saling berhadapan, menyisihkan jarak 5 centimeter.


"Kalau mau gue jaga mulut. Harusnya lo juga jaga omongan lo. Jangan salahkan gue kalau sifat gue kayak gini kecuali kalian yang mulai duluan," tekan Nala dengan nada yang tak kalah tinggi.


Beberapa detik mereka saling pandang sebelum membuang muka. Kesal dan marah, tapi mereka tak mungkin berantem di sana karena sekarang kamar mandi sudah diisi oleh anak-anak. Dan parahnya mereka menjadi tontonan publik.


Nala mengatur napasnya. Setelah kembali normal gadis itu pergi begitu saja meninggalkan kamar mandi, mendorong siapa saja yang menghalangi jalannya.


Tak peduli dengan umpatan dan makian dari mereka akibat tertabrak. Hantaman yang keras itu cukup sakit. Namun Nala terus melangkah membelah kerumunan.


"Salah sendiri pancing keributan," ujar Nala setelah jauh dari kantin. Nala mengatur napasnya berulang kali.


Emosinya masih belum stabil, ditambah tadi keduanya hanya beradu mulut, padahal hari itu Nala ingin melakukan yang lebih.


"Berantem apalagi mereka?" tanya seseorang dari balik tembok yang tak jauh dari tempat Nala berhenti.

__ADS_1


__ADS_2