Aksana

Aksana
02. AKSANA


__ADS_3


Semua tatapan murid yang ada di kelas termasuk Nala beralih sejenak ke arah pintu kelas. Tak jauh dari tempatnya berdiri terdapat beberapa anak yang sudah dia pastikan siapa mereka.


Nala semakin kasar mengepal tangan, darah dalam tubuhnya mulai mendidih saat melihat mereka.


Nala tersenyum sinis, tubuhnya mulai melangkah mendekati gerombolan murid yang berdiri di depan pintu.


"Emang bener, cabe murahan kayak lo gak pantes buat sekolah disini. Mending lo keluar daripada terus membuat masalah," kata menusuk yang Evelyn ucap berhasil membuat langkah Kaki Nala terhenti.


Nala sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus Evelyn. Matanya menyipit mengunci tatapan perempuan di depannya.


"Lo kalau gak mampu bilang aja. Gak usah nyuri barang orang sembarang. Dasar kampungan," desis Nala tak kalah kasar.


Semua tahu jika Nala dan Evelyn musuhan, keduanya sering berantem dan adu mulut akibat masalah sepele.


Ucapan tak sopan yang keluar dari mulut Nala berhasil membuat penonton bersemangat melihat aksinya. Berhadapan dengan Nala sama saja seperti mengibarkan bendera perang.


Evelyn yang mendengar tentu dibuat marah, beberapa anggota OSIS juga merasa geram dengan mulut pedas yang Nala katakan.


Ingin maju melawan Nala namun pundaknya di tahan oleh Rasya. Cowok itu menggelengkan kepala, meminta Evelyn untuk diam dan tak melawan. Rasya mulai berjalan tepat di hadapan Nala, menghalangi tubuh Evelyn agar keduanya tak berkelahi.


"Lo bisa ikut kita sebentar?" tanya Rasya, mencoba tak gegabah. Dia tahu cara menghadapi anak seperti Nala yang keras kepala dan susah diatur.


"Mending lo balik deh, percuma juga kesini. Buang-buang waktu. Daripada kalian buang waktu berharga kalian itu buat suruh gue ke ruang kesiswaan. Mending kalian pergi," bukannya membalas pertanyaan Rasya. Nala malah mengusir mereka pergi, melipat kedua tangannya di depan dada.


Rasya berbalik badan, menatap Evelyn dengan tatapan sayu. Memintanya untuk tak melawan lagi perkataan Nala. Evelyn menuruti keinginan Rasya, meski hatinya masih terasa panas.

__ADS_1


"Lo bisa ikut sebentar. Lo udah melanggar peraturan yang sudah ditetapkan sekolah. Kita bisa bahas di ruang kesiswaan," Rasya dengan memohon membujuk Nala ikut dengan mereka.


"Ogah! Lo siapa suruh-suruh gue," tolak Nala mentah-mentah.


Evelyn mencoba menahan tubuhnya yang siap maju ke depan. Tangannya semakin gatal mendengar tolakan Nala.


"Lo gak bisa nolak Nal. Masalah lo udah banyak. Ayolah, kita sama-sama kerja sama. Semakin lo ulur waktu semakin lama juga masalah yang lo dapat. Sekolah udah kasih keringanan buat lo," nada yang Rasya gunakan terdengar lembut, matanya yang sipit terlihat memohon padanya membuat Evelyn mendengus kesal di tempat.


"Ikut kalian? Ogah banget, ya kali gue mau. Asal kalian tau, gue disini bayar ya. Pakai duit gue, bukan duit kalian. Jadi terserah gue dong mau buat masalah apa enggak. Gak usah ikut campur deh, urus aja urusan kalian yang belum selesai itu." ketus Nala membuat anggota OSIS diam tak berekspresi.


"Intinya lo harus ikut kita. Sadar diri dong, masalah lo itu udah banyak. Kalau bukan karena perintah guru kita juga ogah kali mohon-mohon ke lo," gumam Evelyn di beberapa kalimat terakhir, namun masih terdengar jelas ditelinga tajam Nala.


"Yaudah, ngapain susah-susah jemput gue kalau gitu. Pokoknya gue gak mau ikut kalian," tegas Nala masih dengan pendiriannya.


"Ngelunjak lo lama-lama," cetus salah satu anggota OSIS lainnya.


Nala memilih untuk tak melanjutkan. Menyadari bahwa Nala akan pergi, Rasya lebih dulu mencegahnya membuat Nala berbalik bada. Dan begitu ingin melayangkan protes, satu tamparan keras mendarat tepat di pipi kirinya.


"Apa-apaan sih—"


Plak


Evelyn berhasil keluar dari jangkauan Rasya, dengan gerakan cepat dia berhasil menampar pipi Nala. Anak-anak kelas terdiam, begitu juga dengan anggota OSIS lainnya yang terpaku dengan kelakuan Evelyn yang cukup berani.


Nala terdiam sesaat, merasakan panas dibagian pipi. Sera dan Agathis yang berdiri tak jauh dari tempat kejadian dibuat terkejut, keduanya saling pandang cukup lama.


Sementara Natasya masih sibuk dengan kegiatannya mengipasi wajah. Tangan kirinya sudah siap dengan sebuah ponsel yang merekam kejadian, dia yakin Nala tak akan diam.

__ADS_1


Plak


"Udah gue duga," batin Natasya bersorak.


"Impas bukan?" Nala tersenyum licik. Rasya menarik tubuh Evelyn menjauh, beberapa anak OSIS juga mengamankan Evelyn agar tak lepas kendali.


Tangan Evelyn mengepal, menahan emosi saat tak sengaja melihat senyuman remeh yang Nala layangkan untuknya.


"Ikut gue sekarang." Rasya menarik lengan Nala yang ingin kembali beranjak dari posisinya. Kesabaran mulai menipis, bersama dengan salah satu anggota OSIS keduanya membawa Nala ke ruang kesiswaan.


Sebelum benar-benar meninggalkan kelas, Nala membisikkan sesuatu di telinga Evelyn, yang berhasil membuat Evelyn emosi.


"Dasar munafik lo," bisiknya tadi.


"SIALAN LO!" Evelyn berteriak, napasnya seketika memburu kuat menatap kepergian Nala yang mulai menjauh.


Satu persatu para anggota OSIS mulai meninggalkan kelas Bahasa 6. Kepergian mereka tentu menjadi topik pembicaraan anak-anak kelas, tak terkecuali nama Nala menjadi omongan.


"Bukannya kasih saran yang benar buat temannya malah bikin gosip. Gak punya empati banget," dengan sengaja Agathis mengeraskan suaranya.


Tentunya ucapannya itu berhasil membuat suasana kelas menjadi sepi kembali, semuanya diam saat suara Agathis terdengar.


Natasya memilih untuk tak peduli, dia bangkit dari duduknya lalu mengintip ke luar jendela. Sembari mengusir beberapa anak yang berkerumun di depan kelasnya.


"Pergi! Pergi! Pergi!" usir perempuan itu.


Beberapa diantara mereka terlihat kesal saat Natasya mengusirnya. Namun, Natasya tak peduli.

__ADS_1


Dia menoleh sejenak ke arah lorong kelas yang mulai sepi, menyisakan beberapa anak kelas yang belajar di luar sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam dan menguncinya.


__ADS_2