Aksana

Aksana
07. AKSANA


__ADS_3


Sebuah mobil berwarna black terhenti tepat di depan sebuah pagar putih. Bunyi klakson mobil terdengar.


Membuat seorang satpam yang sedang asik bersantai sambil memakan gorengan tiba-tiba meletakkan gorengan panas itu kembali ke atas piring.


Dengan sedikit terburu-buru ia membukakan pagar lebar-lebar untuk mobil itu masuk.


"Makasih Pak!" ucap seseorang dibalik kaca mobil yang terbuka sedikit.


Mobil itu terus melaju di halaman rumah sampai berhenti tepat di depan sebuah garasi. Setelah terparkir tepat pemilik dari mobil itu keluar, mengunci kembali mobilnya dari luar.


"Wah Pak Bos makin ganteng aja. Baru pulang dari sekolah?" tanya pak satpam pada Aksara yang baru saja keluar.


Aksara menoleh pada Pak satpam lalu mengangguk. "Iya Pak, baru pulang."


"Saya duluan masuk ke dalam Pak udah mau magrib," pamit Aksara melirik jam tangannya yang terpasang di pergelangan tangan kanannya.


"Monggo Mas, saya juga mau lanjut jaga di depan." Pak satpam pergi terlebih dahulu meninggalkan Aksara, dia kembali memasuki pos nya sambil melanjutkan makannya.


"Iya Pak."


Aksara melepas almater OSIS yang masih terpasang di tubuhnya lalu masuk ke dalam rumah. Ketika menutup pintu rumah dan ingin mengucapkan salam ia melihat Mila— Bunda Aksara itu sedang bersenandung kecil sembari menyiapkan makanan untuk makan malam.


"Aksara pulang," ucapnya membuat Mila menghentikan sejenak aktivitasnya. Wanita itu tersenyum melihat kehadiran sang putra.


"Baru selesai rapatnya?" tanya Mila sambil membawa segelas teh hangat yang sudah dia siapkan sebelumnya.


Aksara membalasnya dengan anggukan kecil lalu mulai mengambil alih gelas kecil dari tangan Mila. "Iya Bunda, Ayah udah pulang?" tanyanya melihat keadaan sekitar, mencari keberadaan Rio.


"Sudah dari tadi. Tapi sampai sekarang dia belum keluar juga dari ruang kerjanya. Bunda khawatir sama dia, Ayah kamu itu masih sakit."


Terdapat kecemasan di wajahnya, sudah hampir satu minggu suaminya sakit dan bekerja di rumah. Dan baru kemarin dia kembali ke kantor, itu pun setelah cukup lama berdiskusi.


Aksara meneguk setengah dari isi teh di tangannya, menaruhnya kembali ke atas meja. "Nanti Aksara coba bujuk Ayah. Bunda gak usah khawatir," ucapnya menggenggam erat kedua tangan Mila.


Mila tersenyum lebar mendengar penuturan putranya sambil mengusap rambut hitam Aksara yang mulai panjang. "Besok rambutnya di potong, udah panjang."


Aksara tertawa kecil mendengarnya. "Iya Bunda."

__ADS_1


"Ya udah kamu ganti sana. Sekalian bujuk Ayah kamu supaya mau istirahat, kasihan dia kerja terus." Mila berdiri dan duduknya dan berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.


"Oke."


Aksara mengambil tas dan jaket almamater lalu naik menuju kamarnya. Ketika sampai di depan pintu, ia melihat pintu di seberang kamarnya terbuka sedikit. Lampu di dalam ruangan itu juga menyala, membuatnya tak jadi masuk ke dalam kamar.


Laki-laki itu mengurungkan niatnya untuk masuk kamar, memilih berjalan menuju kamar seberang. Tangannya mulai terangkat untuk mengetuk pintu.


"Ini Aksa, aku boleh masuk?" tanyanya dengan sopan, sebelum akhirnya masuk ke dalam ketika Rio memberikannya izin.


"Masuk aja Bang. Pintunya gak Ayah kunci," balas Rio dari dalam.


Rio melihat Aksara yang baru masuk ke dalam ruang kerjanya. Anaknya itu langsung duduk di kursi dan langsung menaruh tasnya ke depan badan, berhadapan dengan komputer Rio.


"Baru pulang kamu?" tanya Rio kembali mengecek berkas.


"Iya Yah," kata Aksara duduk di depannya. "Maaf soal tadi pagi, karena kelalaian Aksa. Pak Bayu hampir saja batalkan kerja sama," sesalnya.


Ulahnya yang lupa akibat terburu-buru berangkat sekolah, Aksara melupakan janjinya untuk mengirim data pada Ayahnya. Padahal dia tahu jika di dalam data tersebut berisi informasi penting di dalamnya.


"Lupakan aja, Pak Bayu juga udah tanda tangan kontrak. Kamu gak usah khawatir," kata Rio sedikit bisa membuat Aksara bernapas lega.


Aksara menghela napas sebelum membalas ucapan Rio. "Enggak Yah, Ayah bisa minta tolong Aksa selagi aku bisa bantu. Buat sementara waktu ini biar Aksa aja yang kerjain tugas kantor. Ayah istirahat, kan masih sakit."


"Ayah udah sehat, kamu tenang aja."


"Tapi belum sepenuhnya kan? Jangan dipaksa. Nanti yang ada jantung Ayah kumat lagi kayak waktu itu," ucap Aksara.


Rio hanya dapat tersenyum.


"Ya udah aku balik dulu ke kamar. Bunda udah tunggu di bawah. Nanti aku nyusul setelah selesai beres-beres," ujar Aksara berdiri dari tempatnya.


Sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruangan kerja, Rio lebih dulu memberikannya sebuah pertanyaan yang berhasil membuat tubuh Aksara terdiam kaku.


"Kamu, masih suka sama dia?" tanya Rio.


...


Nala terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara dering alarm yang terus menerus menyanyikan lagu favoritnya.

__ADS_1


Dengan keadaan yang masih belum sepenuhnya sadar, Nala mulai merogoh nakas sambil mencari ponselnya. Setelah menemukan benda berukuran persegi itu dengan cepat Nala mematikan.


"Berisik banget sih." Nala merubah posisinya menjadi duduk, matanya masih tertutup rapat dengan kepala yang terus memijit kepala. Pusing seketika menjalar di kepala.


Cukup lama Nala terdiam diposisi itu sebelum mengibaskan selimut tebal yang menutupi sebagian tubuhnya. Nala melirik jam dinding yang terpasang di kamar.


18.35


"Udah malem aja, perasaan tadi masih jam empat sore deh." Nala bergumam sambil berjalan menuju kamar mandi.


"KAK, BANGUN! UDAH MALAM INI. MAMA PANGGIL LO TUH DI BAWAH, SURUH MAKAN!!!"


Baru saja kakinya melangkah, panggilan keras itu memanggilnya tepat di depan pintu kamar. Membuat Nala mengumpat kasar sebelum berjalan menuju pintu kamarnya.


"Berisik Abel," decak Nala dengan wajah bantal. Sembari mengusap telinganya yang terasa sakit akibat teriakan maut dari adiknya. Abella Debora.


"Suara gak enak juga pake teriak segala. Makin gak enak suara kamu!" ejek Nala.


Abel memutar bola matanya malas. "Mending kakak turun deh, Mama udah manggil terus di bawah."


"Emang Mama panggil gue?"


"Iya lah, makanya jangan tidur Mulu kerjaannya. Untung gak mati," ucap Abel dengan sedikit mengecilkan nadanya di tiga kata terakhir.


Nala terjengit mendengar ucapan adiknya. Telinganya masih dapat mendengar jelas ucapan Abel. "Ngomong apa kamu, coba ulangi!"


Abel menggeleng cepat. "Enggak ada, salah dengar kali."


"Mau ke mana lo?" tanya Abel pada Nala yang sekarang sedang menutup pintu.


"Ke bawah," wajahnya sama sekali tak terlihat bersalah.


"Jorok banget sih, mandi sana. Tuh masih ada iler yang nempel, ihhh." Abel bergidik geli.


"Mana ada, lo tuh yang ileran." Nala spontan mengelap wajahnya. Detik berikutnya tawa Abel terdengar, puas mengerjai kakaknya.


"Gampang banget di kibulin, awas lo di culik om-om, mampus!" Abel masih tertawa sambil memegangi perutnya yang terasa kram akibat terus tertawa.


"ABELLLLL ANAK SETAN, SINI LO!!!"

__ADS_1


__ADS_2