
Tinggal menunggu menit, bel pulang sekolah akan berbunyi. Melihat tak ada lagi guru yang akan masuk Nala memutuskan untuk pergi keluar, alasannya karena di kelas panas dan tentu saja berisik.
"Eh! Mau ke mana lo?" tanya Natasya, mengangkat kepalanya sejenak lalu kembali pada posisi awal- tidur dengan tas ransel sebagai bantalan.
"Keluar, dalem panas." Nala berkata tanpa menoleh ke belakang.
"Gue ikut sekalian. Mau ke kamar mandi," kata Seira ikutan. Dengan setengah berlari, Seira menyusul Nala.
"Nitip roti sama air dong," ujar Natasya lagi sambil menyerahkan uangnya pada Nala.
Nala memutar bola mata jengah. Selalu saja begini. "Roti sama air doang kan?" dan Natasya menganggukan kepala.
"Ya udah ayo!" Nala menarik tangan Seira untuk cepat-cepat pergi, dia tak ingin jika nanti ketahuan guru.
"Evan, gue izin ke kamar mandi ya!" ujar Seira meminta izin pada Evan, si ketua kelas.
Keduanya lebih dulu pergi ke toilet. Nala memilih menunggu Seira di luar, sementara Seira masuk ke dalam sendirian. Toilet siang itu cukup sepi, hanya ada mereka berdua.
Sembari menunggu kehadiran Seira, Nala duduk di depan sambil memandang beberapa murid yang berlalu lalang di hadapannya.
Nala menoleh ke belakang ketika mendengar suara derap langkah mendekatinya. Seira baru saja selesai, cewek itu membenarkan seragamnya yang sedikit berantakan sambil berjalan menuju Nala.
"Ayo Nal!" kata Seira.
Nala mengangguk lalu berdiri dari duduknya. Mereka berdua lanjut pergi ke kantin untuk membeli roti dan air titipan Natasya.
"Bu, pesan pop ice coklat nya satu!" ujar Nala pada ibu-ibu penjual.
"Ini martabak apa?" tunjuk Nala.
"Itu martabak mie Neng. Kalau ini baru martabak daging," jelas si penjual sementara Nala mulai mengambil beberapa gorengan di atas etalase, sambil menunggu minumannya siap.
"Lo mau gak Ser?" tanya Nala, masih memilih gorengan.
Seira menggeleng cepat. "Enggak, enggak, makasih. Gue masih kenyang," tolaknya.
"Yakin nih? Ambil aja, nanti gue yang bayar."
__ADS_1
"Makasih, gue beneran kenyang. Jajan yang lo kasih tadi aja masih ada. Btw, itu beneran buat lo sendiri?" tanya Nala, melirik piring plastik yang berisikan beberapa jenis gorengan. Mungkin kalau dihitung ada 5 jenis gorengan berbeda.
"Iya lah, kalau bukan buat gue buat siapa lagi emang?" tanya balik Nala. Kini ia mulai menggeledah rok saku seragam untuk mengambil dompet.
"Ser, tolong ambilin dompet gue di dalam saku dong!" ujar Nala meminta tolong karena merasa kesusahan.
Seira dengan sigap membantunya. Setelah itu menyerahkannya pada Nala. "Thank you!" ucap Nala membayar semuanya.
"Udah kan, yuk balik." Seira melangkah lebih dulu meninggalkan stand. Menyadari bahwa tak ada seseorang di belakangnya, ia pun berbalik.
"Nalaaa..." Seira menghela napas panjang melihat Nala yang duduk santai di salah satu meja kosong.
"Sini, duduk sebelah gue," ajak Nala menepuk kursi kosong di sebelahnya.
Seira mengguyur rambutnya ke belakang dengan jari. Tak tau lagi mau berkata apa. "Mending kita makan di kelas aja deh. Gue takut nanti ada guru atau anak OSIS yang lihat dan malah jadi masalah," sarannya.
Nala berdecak. "Takut banget sih lo. Bentar lagi juga pulang Ser, tuh lihat. Banyak anak disini, kalau kita dipanggil otomatis mereka juga. Santai aja lah," ujar Nala.
"Ya tapi kan..."
"Kalau lo mau ke kelas, ke kelas aja. Gue disini, dalam panas banget." Nala memberi jeda pada ucapannya sembari megibaskan tangannya di depan wajah. "
"Gue ke dalam dulu. Nanti kalau udah selesai langsung balik kelas yaa!" ujar Seira menggigatkan.
"Oke!" balas Nala mengacungkan jempol. Begitu tak melihat Seira, ia melanjutkan makannya. Tapi tak lama ponselnya bergetar menandakan sebuah pesan baru saja masuk.
"Nomer siapa ya? Kok dia tau nomor gue?" gumam Nala bertanya-tanya.
...
Lima belas menit berlalu. Akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Nala yang masih berada di kantin tersenyum senang, ia segera membereskan makanannya. Tak lupa mengembalikannya pada ibu penjual.
"Ini Bu, makasih!" ucap Nala.
Cewek itu bergegas pergi ke lantai atas menuju kelasnya. Terlihat teman-temannya mulai meninggalkan keelas dan menuruni anak tangga.
"Gila lo, bisa-bidanya santai ke kantin. Sementara kita tegang di dalam," cetusan itu berhasil membuat Nala yang tengah berkemas jadi terhenti.
__ADS_1
"Tegang? Tegang kenapa?"
"Bu Sekar tadi datang tanya tugas kemarin. Dan lo tau sendiri anak-anak kelas sini gimana. Jadi, diomeli deh sekelas." Agathis menjelaskan.
Nala hanya ber'oh ria membalasnya. "Ya udah kali, santai aja. Kan kalian udah ngerjain, jadi ngapain takut."
"Bukan itu masalahnya. Yang jadi masalah itu kita yang ngerjain tugas jadi keseret. Emang sialan banget Dirga," umpat Natasya kesal.
"Oh Dirga pelakunya," gumam Nala.
"Lo ngomong apa barusan. Gue gak denger," kata Seira.
"Eh, enggak ada. Udah yuk balik, ngantuk gue!" alibi Nala. Untungnya semuanya percaya. Keempatnya pun meleggang pergi.
...
"Sebenarnya lo mau ajak gue ke mana sih. Kalau gak jelas ke mana. Mending gue balik deh," kata Nala begitu tiba di parkiran.
Untungnya parkiran sepi, mungkin hanya ada beberapa anak saja dan tak begitu ramai. Jadi Nala tak perlu risau.
"Nanti lo juga tau Nal. Ayo masuk," pinta Aksara menyuruh Nala masuk ke dalam mobil.
Sebelumnya, Aksara menyurun Nala datang ke parkiran untuk pergi ke suatu tempat. Tentunya dengan pesan pribadi, tak mungkin Aksara menghampiri Nala begitu saja.
"Gak mau kasih clue dikit gitu ke gue," tanya Nala mencoba mencari tau.
Sejak tadi Nala penasaran, ke mana Aksara mengajaknya pergi. Cowok dengan tipe seperti Aksara ini tentu sangat jarang sekali mengajak perempuan keluar, kecuali Bunda dan Neneknya.
"Buat nikahan nanti," kata Aksara.
...
...Chat Aksara Devara & Anala Debora 🧚🏻♀️...
*lebih suka ada chatnya gini atau ketikan biasa? komen yaa!
__ADS_1