
"Aksa."
Panggilan keras itu spontan membuat langkah kaki seorang remaja berseragam putih abu-abu yang baru saja tiba jadi menghentikan langkahnya, mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kelas.
Aksara berbalik badan, tak jauh dari sana terlihat Rasya sedang berlari menuju kepadanya.
Kening Aksara berkerut menatap Rasya yang kini sudah berada di depannya, dia sedang mengatur napasnya yang tak beraturan.
"Ada apa?" tanya Aksara. "Kok lo bisa ada disini. Bukannya lo harus ada di ruang OSIS?" dua pertanyaan Aksara lontarkan, Rasya masih menunduk menopang tubuhnya dengan memegangi kedua lutut.
"Mereka, mereka ribut lagi. Sekarang dia ada di ruang OSIS," kata Rasya.
Aksara menatap temannya bingung, mereka yang cowok itu maksud siapa. Sewaktu diperjalanan menuju sekolah Rasya menghubunginya, memintanya untuk cepat-cepat datang ke sekolah karena ada masalah urgent.
"Maksud lo mereka, siapa?" Aksara menggaruk wajahnya yang tak gatal, tepatnya tak paham dengan omongan Rasya.
"Itu! Cewek rese yang selalu buat ulah," Rasya menunjuk lorong kelas menuju ruangan OSIS. "Maksud gue, cewek yang lo suka!" ujarnya lagi.
Aksara semakin tak paham.
Dia terdiam sesaat sebelum menatap Rasya kembali, meminta penjelasan yang lebih jelas.
"Lo ngomong apa? Gue gak paham," kata Aksara.
Rasya berdecak pelan lalu mengusap kasar wajahnya. "Cewek pindahan yang selalu ribut sama Evelyn—"
"Nala?" potong Aksara mengerti, tanpa menunggu lama cowok itu berlalu meninggalkan lapangan. Pergi begitu saja dari hadapan Rasya yang menatapnya pasrah.
"Gue ditinggal gitu?" tanya Rasya pada dirinya sendiri. Menatap gamang kepergian sahabatnya. Rasya mengelus dadanya sabar, sebelum berlari menyusul Aksara.
__ADS_1
...
Sejak kepindahan Nala di tahun kemarin, hubungannya memang kurang baik dengan teman-temannya. Kasar dan pemberontak, dua kata yang pas untuk mendeskripsikan siapa itu Nala.
Selalu buat masalah dan berulah adalah tingkahnya, tak jarang orang tuanya harus di panggil untuk diberikan teguran.
Tak sampai disitu tepat di bulan ketiga Nala bersekolah dia harus mendapatkan skors akibat ulahnya yang bar-bar sampai berani memasukkan salah satu adik kelas ke dalam rumah sakit.
Sudah banyak sekali teguran yang memintanya untuk berhenti berbuat masalah. Tapi yang namanya Nala, akan susah untuk diberi tahu.
Zora, sang Mama kadang dibuat gemas dengan tingkah laku putrinya itu. Tapi bagaimanapun dia tak bisa melakukan apa-apa kecuali memberikan Nala nasehat.
Dan sekarang Nala terduduk di salah satu kursi kayu. Di hadapannya terdapat beberapa anak OSIS yang berjaga. Nala menatap ke sana kemari, bosan. Menunggu seseorang yang tak tahu kapan akan tiba membuatnya merasa jenuh di dalam sana.
Duduk menghadap ke meja kayu berukuran persegi panjang, di samping kanan dan kirinya terdapat beberapa kursi yang berjejer rapi.
Dan tepat di hadapannya sekarang, terdapat sebuah kursi besar dengan sebuah meja kayu dengan ukuran yang cukup tinggi. Di atas meja tersebut terdapat sebuah name tag dengan tulisan 'Ketua OSIS'
Tak ada yang berani membuka suara, hanya keheningan yang menyapa disambut dengan dentingan jam dinding yang terus berbunyi mengisi keheningan.
"Panas banget sih. Nyalain dong AC-nya!" kata Nala dengan sedikit keras. Buliran keringat mulai membasahi wajah cantiknya.
Evelyn mendengus di tempat, dia berdiri tepat di samping pintu. Dengan tangan yang dilipat di depan dada. "Mata lo buta? Jelas-jelas dingin begini dikata panas, sinting!" ketus gadis itu.
Ucapan Evelyn memang benar adanya. Ruangan OSIS kala itu cukup dingin membuat beberapa anggota terpaksa memakai jaket, untuk menghangatkan tubuh mereka. Berbeda jauh dengan Nala, gadis itu merasa panas yang menyengat di tubuhnya.
Nala meliriknya sekilas setelah itu memutar bola matanya malas. "Nyamber aja kayak gledek," ujarnya.
"Terus gunanya mulut buat apa kalau enggak buat bicara," balas Evelyn tak mau kalah.
"Emang gue ngomong sama lo?" Nala menoleh pada Evelyn. Tak lama memang karena keduanya langsung memutuskan kontak.
__ADS_1
"Tapi beneran deh, kenapa panas banget sih. Padahal dingin gini," ucapnya lalu melirik Evelyn.
"Apa?" senyum Nala menyeringai begitu tubuh Evelyn mulai berjalan mendekatinya.
"Kenapa, kok gak jadi maju? Lo takut ya?" Nala terkekeh pelan sesaat tangan Evelyn di cegah oleh salah satu anggota OSIS, membuatnya yang ingin maju menghampiri Nala jadi tertahan.
"Lo gak lihat, di depan ada guru?" tanya Evelyn menatap Nala dengan penuh kebencian. Niatnya ingin maju ke depan jadi terhalang. Dia kembali pada posisi awalnya, bersandar pada dinding dekat pintu.
Posisi ruangan OSIS memang berhadapan langsung dengan ruang guru. Di luar juga terdapat beberapa guru yang sedang mengobrol. Pintu dalam ruangan yang transparan tentu dapat terlihat dari luar.
"Terus kenapa? Jangan bilang kalau lo takut lagi," tawa Nala terdengar mengisi kesunyian yang ada.
Beberapa anggota mulai kesal lantaran ucapannya itu, tak terkecuali Evelyn. Cewek itu beberapa kali menghentakkan kakinya, menyalurkan rasa kesalnya. Nala yang melihat hanya mengangkat bahu tak acuh, tak peduli tentang itu.
"Bisa duduk ke tempat masing-masing?"
Pertanyaan dengan nada berat itu berhasil mengalihkan perhatian anak-anak yang ada di dalam, termasuk Nala yang kini menoleh ke arah sumber suara.
Semuanya duduk di kursi masing-masing. Nala hanya menatap Aksara yang sudah duduk di bangkunya, datar dan dingin, tak ada ekspresi lain dari wajahnya. Selaku sekretaris Evelyn menyerahkan kertas putih berisikan nama murid yang melakukan pelanggaran.
Aksara menerimanya dan mulai membacanya dalam hati. Pandangannya terus tertuju pada gadis di hadapannya. Tidak dengan Nala dia sudah menoleh ke arah lain, menghiraukan tatapan tajam yang Aksara layangkan padanya.
Aksara menghela napas gusar, menyimpan kertas putih itu ke atas meja. Tangannya mulai menulis sesuatu di kertas putih lainnya.
Evelyn yang berdiri tepat di samping Aksara hanya pasrah, tak bisa melakukan apa-apa. Jika Aksara sudah hadir dan duduk di tempatnya, semuanya akan diam dan menurut.
"Ini hukuman lo selama satu ke depan," ucap Aksara menyelesaikan tulisannya. Kemudian menyerahkan kertas putih itu berisikan beberapa hukuman yang harus Nala lakukan dalam satu minggu ke depan.
"Maksudnya?" tanya Nala begitu kertas yang baru saja Aksara tulis tergeletak tepat di depannya.
Dengan cepat Nala mengambil kertas itu, bukannya dia baca kertas itu malah dia sobek menjadi beberapa bentuk bagian kecil. Lalu membuangnya kasar tepat di depan wajah Aksara.
__ADS_1
"Sampai kapanpun gue gak bakalan jalanin hukuman yang lo kasih itu," tekan Nala. Setelahnya pergi meninggalkan ruangan OSIS tanpa mengucapkan sepatah kata.