Aksana

Aksana
06. AKSANA


__ADS_3


"Kalian pada lihat Dirga kagak?" tanya Nathan pada beberapa murid sekolah yang berada di luar kelas, dan semuanya kompak menggelengkan kepala.


Sudah hampir sepuluh menit cowok itu mengelilingi satu sekolah. Mulai dari lantai satu sampai lantai tiga, kantin, kamar mandi cowok, taman hingga rooftop —tempat yang selalu Dirga kunjungi jika bolos kelas pun tak ada.


Nathan memejamkan mata. Mulutnya tak berhenti memberi sumpah serapah pada sahabatnya itu.


Sudah dia pastikan jika dia balik ke kelas sekarang maka hukuman manis akan datang menjemputnya. Sepuluh menit sudah dia berada di luar tapi belum menemukan Dirga.


"Dirga anak setan, sialan tuh bocah!" umpat Nathan.


Entah berapa banyak umpatan kasar yang keluar dari mulutnya. Nathan tak peduli dengan itu. Yang dia inginkan sekarang adalah Dirga kembali, dengan begitu dia tak mempunyai beban apa pun.


...


"Kita mau ngapain disini?" tanya Nala. Begitu keduanya sampai di taman belakang sekolah.


Tepat sekali, dihadapan mereka sekarang. Terdapat sebuah tembok tinggi. Tiba-tiba Dirga menariknya kesini setelah tadi menimbang tawaran yang cowok itu berikan padanya.


"Menurut lo, kita ngapain disini?"


Dirga melirik Nala sekilas sebelum melipat seragam sekolahnya hingga sebatas pundak. Setelah itu menoleh ke kanan dan ke kiri, menatap sekitar sebelum menganggukkan kepala.


Setelah memastikan bahwa tak ada orang lain di sekitar mereka. Dirga berjongkok di hadapan Nala, membuat gadis itu terdiam lama. Memandang Dirga dengan raut wajah bertanya-tanya.


"Naik!" perintah Dirga masih dengan posisi yang sama, berjongkok membelakangi Nala.


"Gue? Naik ke atas punggung lo?" tanya Nala tak percaya. "Lo mau ajak gue bolos ya?!"


Dirga mendengus pelan lalu bangkit dari posisinya. Ditatapnya Nala dengan tajam. Bukan Nala namanya kalau tidak membalas, lihatlah sekarang dia menatap balik Dirga tak kalah tajam dari cowok itu.


"Bentar lagi bakalan istirahat. Nanti kita balik lima menit sebelum bel masuk. Lo tenang aja," kata Dirga menarik tangan Nala untuk segera naik ke atas punggungnya.


Dirga kembali pada posisi awal, berjongkok membelakangi Nala. Membiarkan punggungnya menjadi pijakan.


"Tiba-tiba?"


"Buruan Nala! Keburu ketauan nanti," ucap Dirga menyadarkan Nala dari lamunan. Gadis itu terdiam cukup lama. Untuk pertama kalinya, dia cabut sekolah. Biasanya, Nala pergi ke kamar mandi atau mampir ke kantin.


"Iya, sabar dong. Awas lo kalau ketahuan ngintip!"


Perlahan tapi pasti dia mulai menaiki punggung Dirga lalu mulai memanjat dinding. Sesampainya dia di atas, Nala kembali terdiam memandang bawah .

__ADS_1


"Kenapa tinggi banget sih," gumam Nala.


"Ayo turun!" perintah Dirga.


Tahu-tahu Dirga sudah ada di bawah. Tak tahu sejak kapan cowok itu turun, yang pasti kini dia berdiri menghadap ke arahnya sembari merentangkan kedua tangan.


"Gue hitung sampe tiga. Lo harus turun," pinta Dirga.


"Satu."


"Dua."


"Tiga."


Tepat hitungan ketiga. Nala melompat kan tubuhnya ke bawah dan detik itu juga Dirga menangkap tubuhnya. Nala mengerjap pelan dirasa tubuhnya melayang di udara.


"That's okay," bisik Dirga menurunkan tubuh Nala dari kedua tangannya. Selanjutnya, cowok itu menarik tangan Nala untuk ikut dengannya menjauhi halaman sekolah.


"Kita naik apa?" Nala menatap sekitar. Ada keraguan dalam hatinya kini, dia takut jika ada ada yang melihat mereka berdua cabut.


"Naik motor. Motor gue ada di depan, ayo!" tunjuk Dirga pada sebuah motor matic putih yang terparkir tak jauh dari tempat keduanya berdiri.


"Mereka cabut kelas, apa perlu kita panggil?" Rasya berbalik badan. Menoleh pada Aksara yang saat ini sedang berdiri menyandar pohon, sambil menatap kepergian Nala dan Dirga.


Siapa sangka di kesepian itu terdapat Aksara dan Rasya. Mereka berdua berdiri tak jauh dari posisi Nala dan Dirga, memilih diam dan melihat apa yang keduanya lakukan.


Rasya tak menyangka bahwa Nala akan senekat itu, mengingat kelakuannya tadi yang lari dari hukuman. Ingin sekali menegur mereka berdua.


Namun, Aksara menarik tangannya untuk tetap diam di tempat. Mengamati apa yang keduanya lakukan dari jarak jauh.


"Gak usah, biarin aja. Kita lanjut lagi," ucap Aksara beranjak dari tempatnya.


...


"Lo laper gak? gue laper nih, cari makan dulu yuk!" ajak Dirga melirik Nala dari kaca spion setelahnya memfokuskan pandangannya ke depan.


"Nggak. Sebenarnya lo mau ajak gue ke mana sih. Perasaan dari tadi muter-muter mulu," mulut kecilnya tak berhenti mengumpat.


Sudah dua puluh menit lebih keduanya berada di luar. Tapi apa yang lelaki itu lakukan? Berkeliling tak jelas, tak tau mau ke mana.


"Kita makan dulu nanti gue bakal anterin lo ke tempat yang jarang diketahui orang," ujar Dirga.


"Kalau lo gak jelas mau ke mana, ngapain ajak gue bodoh?!" ketus Nala.

__ADS_1


Jika tau akhirnya seperti ini lebih baik tadi dia balik saja di kelas, mengikuti pembelajaran yang tertinggal. Meski tak paham tapi lebih baik dia masuk dibandingkan dengan cabut kelas seperti ini.


Dirga tersenyum di balik helm full face-nya. Entahlah, Dirga suka saja mendengar ocehan tak jelas dari mulut kecil Nala.


Cowok itu tak menanggapi ucapan Nala lebih lanjut. Motornya terus melaju, ucapan Nala jadi tak terdengar lagi seiring dengan hembusan angin yang semakin kencang.


Dirga menjalankan motornya menuju ke salah satu warung pinggir jalan. Nala sama sekali tak membuka obrolan, setelah pertanyaannya diabaikan oleh Dirga dia benar-benar diam.


Nala turun dari motor. Dirga menaruh helm full face-nya ke atas spion. Diperhatikannya Nala yang terdiam, gadis itu memandang sekitar dengan kedua tangan yang tersimpan di kedua sisi rok seragam. Dirga menghela napas sebelum menarik tangan Nala masuk ke dalam warung makan.


Nala sudah duduk di hadapannya, sejak tadi hanya diam tak membuka suara. Dirga tahu jika Nala kesal padanya karena sejak tadi hanya keliling tanpa tujuan ditambah dengan pertanyaan sebelumnya yang sengaja tak dia jawab.


"Lo mau makan apa?" tanya Dirga pada Nala sambil membolak-balik halaman menu. Nala tidak menjawab. Dia sibuk menyalakan ponselnya yang sempat dia matikan tadi.


"Nal!" Dirga sedikit mengeraskan nada bicaranya, membuat tubuh Nala sedikit tersentak.


"Lo aja yang makan. Gue enggak," ketus Nala setengah lesu.


Gadis itu merunduk, menopang kepalanya dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya sibuk mengetuk layar ponsel, menunggunya menyala.


Tak mendapatkan jawaban yang tepat. Dirga mengangkat tangannya, memanggil salah satu pelayan.


"Ayam bakarnya dua. Makan sini, pake nasi." Dirga berucap pada pedagang ibu-ibu yang berdiri di sebelahnya.


"Minumannya air putih dingin." Dirga mengembalikan buku menu itu. Ibu-ibu pedagang pun pergi meninggalkan keduanya untuk menyiapkan pesanan.


"Sebenarnya lo mau ajak gue ke mana? Kalau gak ada tujuan lebih baik balik aja. Udah jam masuk juga," ujar Nala masih dengan posisinya. Kini tangannya mulai mengetik sesuatu di atas layar ponsel.


"Nanti juga lo tau sendiri. Kita makan dulu, gue udah laper. Lo pasti juga laper kan? Ntar kalau lo pingsan di jalan gue juga yang harus tanggung jawab. Karena gue yang bawa lo keluar." Dirga berucap panjang lebar, tatapannya masih fokus pada Nala yang kini asik bermain dengan ponselnya.


"Ya iyalah lo harus tanggung jawab. Siapa lagi yang mau tanggung jawab disini, kecuali lo?" pertanyaan dengan nada sinis itu terlontar dari mulut Nala. Meski pandangannya fokus pada gadget di tangannya. Namun, ucapan yang baru saja dia katakan sudah pasti tertuju pada cowok berandalan di depannya.


"Mimpi apa gue semalam bisa cabut kelas kayak gini. Mana sama cowok yang kayak lo lagi," gumam Nala dengan pelan. Tapi masih terdengar jelas di telinga Dirga. Membuatnya tersenyum simpul.


"Berarti, semalam gue berdoa gak sia-sia." Dirga menimpali.


"Maksud lo?" Nala sudah duduk dengan benar. "Lo mau aneh-aneh kan sama gue? Ngaku lo!" paksa nya.


"Kalau iya, kenapa?"


Bruk...


Nala mengebrak meja di hadapannya. Gebrakan yang keras itu berhasil membuat seluruh pasang mata menoleh padanya.

__ADS_1


Tak sedikit dari mereka mengumpat kesal, lantaran suara keras yang diciptakan Nala berhasil membuat seluruh pengunjung terkejut.


"Brengsek! Maksud lo apa, anjing!" Nala sudah berdiri di depan Dirga. Dengan sekali tarikan tangannya menarik kerah seragam sekolah Dirga menuju ke arahnya, menyisihkan jarak sekitar 5 sentimeter.


__ADS_2