Aksana

Aksana
34. AKSANA


__ADS_3


Pemuda yang sebelumnya tak pernah datang terlambat itu tiba-tiba membuat semuanya bertanya-tanya.


Suasana kelas mendadak sunyi begitu kehadirannya terlihat, menyadari hal itu membuat Askara memandang bingung teman-temannya namun, sedikit bisa bernapas lega karena guru pengajar di pagi ini belum terlihat kehadirannya.


Melihat kehadiran Aksara membuat Rasya pergi dari kerumunan dan mendekati cowok itu. "Tumbenan lo terlambat," cetus Rasya menepuk pundak Aksara.


Aksara hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan Rasya, ia memilih duduk sambil mengeluarkan bukunya dari dalam tas. "Bu Fitri belum datang?"


"Bu Fitri gak datang pagi ini, dia izin karena sakit. Dan udah kasih tugas di group chat," balas Rasya. Mendengar itu buru-buru Aksara mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, mengecek group chat mapel yang sudah ramai dengan pesan.


Bu Fitri biologi : Selamat pagi anak-anak, hari ini Bu Fitri berhalangan hadir krn lagi sakit. Tolong utk pagi ini kalian bisa melanjutkan tugas minggu lalu & bagi yang sdh mengerjakan tugas kemarin bisa melanjutkan tugas lks hal 57-59 pilihan ganda & hal 63-64 uraian di buku masing-masing, dimohon untuk tidak keluar kelas ya terimakasih 🙏🏼


Itu merupakan pesan dari Bu Fitri. Aksara yang memang sudah mengerjakan sebagian tugasnya di rumah pun tanpa membuang waktu mulai mengerjakan beberapa soal yang memang belum dia kerjakan.


Melihat temannya yang mulai mengerjakan tugasnya membuat Rasya ikutan, cowok itu mulai mengeluarkan lks miliknya. Keduanya mengerjakan tugas bersama, sampai di soal terakhir bel pergantian mata pelajaran berbunyi.


"Guys! Buat yang udah selesai bisa dikumpulin di depan ya," ujar Rasya pada teman-temannya. Satu persatu dari mereka mulai maju ke depan, menyerahkan tugasnya pada Rasya untuk cowok itu bawa ke ruang guru.


"Sini gue bantu." Aksara membantu Rasya membawa buku lks. Jarak kelas dan ruang guru cukup jauh, Rasya berulang kali melirik Aksara, ingin bertanya tapi dirinya sungkan. Aksara yang merasa dirinya terus di lihat jadi menoleh, ia memandang Rasya bingung.


"Kenapa?"


"Enggak ada." Rasya langsung menggeleng cepat. "Lo— terlambat kenapa?" tanya Rasya setelah beberapa saat terdiam cukup lama.


Aksara berdeham singkat, lalu mengubah arah pandangan ke depan. "Tanpa gue jawab lo juga tau alasannya," ujarnya datar.


"Jadi bener kalau lo terlambat sama—" Belum sempat Rasya menyelesaikan ucapannya, Aksara sudah memotong ucapannya dengan menyuruhnya untuk membukakan pintu.


"Tolong, bukain pintunya."


Rasya mendengus pelan karena ucapannya barusan dipotong, ingin melayangkan protes namun tak jadi begitu melihat ekspresi wajah Aksara yang saat ini tak bisa diajak bercanda.


...


"Eh, jadi beneran lo datang sama Aksara?" itu merupakan kalimat pertanyaan ke 10 yang Natasya layangkan.

__ADS_1


Sejak kehadirannya tadi, Natasya sudah menyerangnya dengan pertanyaan yang sama. Nala yang sudah lelah hanya memandangnya malas, tepatnya dia enggan membalas pertanyaan Natasya yang menurutnya tak begitu penting.


"Nal, gue serius. Lo beneran pulang sama Aksara?!"


Kali ini Natasya lebih menaikkan intonasi bicaranya, menyebabkan beberapa temannya menatapnya sebal. Bahkan Agathis dan Seira sudah menutup telinga.


Nala berdecak malas. "Lo udah tau jawabannya Nat." Setelah mengatakan itu Nala pergi meninggalkan kelas dalam keadaan kesal.


Hari ini ada tiga hal yang berhasil membuat suasana hatinya menjadi buruk: pertama, kehadiran Sabrina yang tiba-tiba; kedua, keterlambatannya tadi dan terakhir, pertanyaan Natasya.


Dan lagi, gosip tentang kehadirannya dengan Aksara tadi semakin mencuat, beberapa anak yang tak sengaja melewatinya langsung membicarakannya.


Dari apa yang Nala dengar sejauh ini, banyak dari mereka yang tak tak percaya, namun tak sedikit yang membandingkannya dengan murid pintar dengan alasan Nala tak pantas mendekati Aksara karena sifatnya yang nakal.


"Terus lo pikir gue mau gitu datang sama Aksara? Ya nggak lah! Kalau iri bilang aja kali, ribet banget jadi cewek!"


Nala terus menggerutu dalam hati, dia ingin menegur mereka tapi Nala sadar jika ia menegur saat ini pasti mereka pasti akan lebih membicarakannya lagi.


Karena tak ada pilihan lagi, Nala memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju kantin. Bel istirahat masih setengah jam lagi berbunyi. Dengan santai ia menduduki salah satu bangku kosong setelah tadi memesan minuman.


...


Sejak meninggalkan kelas tadi Nala tak kunjung kembali. Dihubungi juga tak ada balasan, bahkan Seira harus izin ke kamar mandi untuk mencari keberadaannya.


"Lo ke mana sih Nal," decak Seira yang tak mendapati kehadiran Nala di sekitar kantin.


"Di sana gak ada Nala. Lo nemu gak?" tanya Agathis pada Natasya, kembali mendekati keduanya.


Natasya menggeleng, ia sama sekali tak melihat Nala sama seperti yang lain. "Masa Nala marah sama gue karena pertanyaan tadi? Makanya dia gak ada," tiba-tiba ia merasa bersalah karena pertanyaan tadi.


"Menurut lo? Udah tau Nala gimana paje ditanya segala. Sekarang dia pergi baru bilang gini," ujar Seira terlanjur kesal yang langsung dapat cubitan pelan dari Agathis— perempuan itu menggelengkan kepala meminta Seira untuk tak melanjutkan ucapannya.


...


Brak!


Bunyi barang terjatuh terdengar menggema di euang UKS. Nala yang sedari tadi tertidur lelap jadi terbangun karena bunyi nyaring tersebut. Dengan kesal ia menyibak kasar gorden biru di hadapannya untuk bisa melihat siapa pelaku yang berhasil membuatnya terbangun.

__ADS_1


"Woy! Kalau mau ambil barang tuh pelan-pelan. Gak tau ada yang lagi istirahat apa disini?!" katanya kesal sambil mengumpulkan nyawa.


Suara nyaring Nala yaang sangat tak asing di kedua teliga murid tersebut membuat keduanya menoleh. Untuk beberapa saat ketiganya terdiam, hingga suara Evelyn terdengar.


"Jadi lo disini? Setelah tadi bikin heboh sekolah lo malah enak-enakan istirahat disini?" Evelyn berdecih pelan, jelas terlihat bahwa saat ini cewek itu menyindirnya.


"Lo lagi," entah harus berkata apa lagi namun Nala sudah muak melihat kehadiran Evelyn. Di mana pun dirinya berada pasti tak jauh darinya ada keberadaan Evelyn.


"Kenapa, gak suka gue ada disini? Bukannya ke kelas malah bolos," ujar Evelyn lagi.


"Lo kenapa ada disini?" Kali ini suara Aksara terdengar. Cowok itu memandang Nala dingin dan datar, tak ada raut wajah bersahabat. Tanpa sadar membuat Nala menelan kasar salivanya, melupakan ucapan cowok itu pagi tadi.


"Kenapa harus ada nih cowok sih?!?!" batin Nala berteriak.


"Apalagi sih Sa kalau bukan bolos. Kalau gak bolos ngapain juga dia ke UKS." Bukan, itu bukan suara Nala melainkan suara Evelyn yang membalas pertanyaan Aksara.


Mendengar balasan Evelyn barusan membuat Nala memutar bola mata malas.


"Yang ditanya itu gue bukan lo. Ke pedean banget jadi cewek," balas Nala menahan tawa.


Saat Evelyn hendak menanggapi balik ucapan Nala. Aksara lebih dulu mencegahnya. Ia menggelengkan kepala meminta Evelyn untuk diam dan pergi keluar.


"Lo bisa keluar sekarang, obatnya bisa lo bawa pergi." Itu ucapan dari Aksara. Evelyn mengumpat dalam hati, sementara Nala tersenyum senang.


Dengan perasaan kesal, Evelyn meninggalkan keduanya. Aksara lalu menutup pintu UKS, dan menguncinya. Kegiatan itu tentu tak lepas dari mata tajam Nala.


"Ngapain pintunya lo kunci? Buka sekarang!" pintahnya.


Aksara perlahan menjalan mendekat, hingga tubuhnya berhenti tepat di hadapan Nala. Menyisihkan jarak beberapa senti.


"Jadi, kenapa lo bisa ada disini?" suara dengan nada rendah itu mampu membuat Nala memejamkan mata.


...


HALOOOO SEMUAAA!!!


Gimana kabarnya? Maaf telat up :(

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian yaa-! MAKASIH BANYAK UDAH MAMPIR 🙇🏻‍♀️


__ADS_2