
Setelah menyelesaikan obrolan singkat namun berat itu, Aksara memutuskan untuk balik ke kamar.
Dengan alasan ingin belajar materi olimpiade yang nantinya akan berlangsung bulan depan.
Tetapi bukannya belajar materi, ia malah melamun. Sudah 10 menit Aksara terdiam di meja belajar, menatap lurus keluar jendela.
Tubuhnya masih ada, tapi raganya pergi entah ke mana.
Dia terus memikirkan setiap ucapan dan pertanyaan yang sebelumnya kedua orang tuanya ucap.
"Apakah kamu masih suka dengan dia?"
Pertanyaan itu seolah berputar di kepala, kalimat terakhir sebelum Aksara memutuskan pergi. Dia bingung, antara menjawabnya atau menolaknya.
Bahkan hingga detik ini, Aksara masih menginggat dengan jelas kejadian waktu itu. Kejadian dimana orang yang menjadi cinta pertamanya- setelah Mila, merasa kehilangan sosok pahlawan dalam keluarga.
"Bahkan, sampai hari ini. Gue masih ingat tentang perjanjian itu," gumam Aksara lalu menghela napas panjang.
Cowok itu menutup buku materinaya, membiarkannya begitu saja. Aksara tak melanjutkan belajarnya, dia memilih untuk beristirahat lebih awal dari biasanya.
Aksara merebahkan tubuhnya ke atas kasur, menatap lurus langit-langit kamar hingga sudut pandangnya tak sengaja menatap bingkai foto yang tergantung di kamar.
Foto hasil jepretannya dulu saat Aksara baru saja belajar tentang fotografi.
Gadis kecil berkuncir kuda tengah membuat bangunan dari pasir itu terlihat murung sesaat bagunannya roboh, tapi tak berlangsung lama tertawa karena dia sendirilah yang menjatuhkannya.
"Lucu."
Tanpa sadar Aksara tersenyum, mengingat kejadian itu.
__ADS_1
...
Di sekolah Nala baru saja tiba. Dia turun dari mobil setelah berpamitan pada Zora. Sambil mengikat rambutnya dengan karet hitam yang tersimpan di dalam saku, gadis itu melangkah melewati lapangan.
"Katanya kaya, tapi buat beli seragam baru gak bisa!"
Sindiran keras itu mampu membuat langkah Nala terhenti. Gadis itu melirik ke samping. Tepat sekali di sebelahnya sekarang, Evelyn berada.
"Lo lagi, lo lagi." Nala memutar bola mata malas lalu melipat kedua tangannya ke depan dada.
"Sekolah yang bener. Baju udah ketat masih aja dipake. Di sekolah tempatnya belajar, bukan buat ajang pansos kayak gini!" tekan Evelyn.
Nala tertawa mendengar ucapan Evelyn barusan. "Gak kebalik nih? Lo atau gue yang pansos," ujar Nala melangkah maju mendekati Evelyn.
"Gue cuma kasih tau lo aja. Biar gak semakin semena-mena sama peraturan sekolah," bela Evelyn.
"Jelas-jelas selama ini yang pansos itu lo. Mengatasnamakan kasih tau sebagai perlindungan?" ujar Nala dengan sengaja menekan kata kasih tau di ucapannya.
"Bisa jaga temen lo gak?" Nala bertanya balik dengan mengulang pertanyaan yang sama seperti apa yang Anez katakan padanya.
"Udah deh, gue gak mau bikin masalah hari ini. Yang pake baju itu gue, yang beli juga pakai duit gue. Kenapa jadi lo yang ngatur sih!" kata Nala memandang Evelyn tak suka.
Setelah itu ia pun pergi meninggalkan lorong yang sempat ramai, keributan tak berlangsung lama itu tentu membuat anak-anak penasaran.
Apalagi yang membuat keributan pagi itu adalah Nala dan Evelyn, dua manusia yang tak bisa akur ketika sedang berhadapan.
Sesampainya di dalam kelas Nala langsung duduk dibangkunya bersamaan dengan itu bunyi bel masuk terdengar. Mereka yang berada di luar mulai masuk dan duduk di bangku masing-masing.
...
"Gue tau lo kesal sama apa yang Nala lakukan selama ini. Tapi gue mohon Ev, jaga sikap lo. Kita gak bisa marahin Nala sepenuhnya," Rasya menatap sendu Evelyn.
__ADS_1
"Kenapa jadi gue sih yang disalahin. Dia yang salah, dia pembuat onar di sekolah. Kalau dia terus didiemin kayak gitu yang ada makin ngelunjak anaknya," kata Evelyn marah.
Dia kesal lantaran kini ialah yang disalahkan, padahal apa yang dia katakan tadi tak sepenuhnya salah.
Evelyn hanya ingin Nala patuh dengan peraturan yang sudah sekolah tentukan.
"Gue tau, tapi gak pakai cara kayak tadi. Siapapun orangnya baik itu adik kelas, teman seangkatan ataupun guru. Kalau bicara lo kayak tadi mereka pasti marah," tegas Rasya. Evelyn menatapnya tak percaya, kedua tangannya sudah menggepal kuat di balik jas almater yang ia gunakan.
"Jadi lo nyalahin gue?"
Rasya mengangguk, mengiyakan ucapan Evelyn. "Iya, ini salah lo."
"Gue harap ke depannya lo lebih hati-hati. Kita disini sebagai OSIS. Tugas kita bukan hanya kasih mereka hukuman karena melanggar peraturan. Tapi tugas kita juga mengingatkan mereka biar bisa mengikuti ssmua peraturan yang sudah sekolah tentukan," kata Rasya memberi peringatan.
"Jangan sampai kelakuan lo hari ini membuat citra OSIS yang sudah kita bangun jadi jelek," ujar seseorang dari balik pintu.
Pintu ruang OSIS terbuka. Aksara yang baru saja tiba masuk, melewati Rasya dan Evelyn begitu saja. Cowok itu melepas jaket almaternya sebelum duduk menyandarkan tubuhnya ke meja.
"Bela aja terus," gumam Evelyn dengan nada pelan. Terdengar seperti bisikan.
"Kita bukan bela Nala, tapi hari ini lo benar-benar salah Ev." Aksara berkata membuat Evelyn terkejut di tempat.
Bagaimana bisa Aksara tau? Apakah ucapannya tadi keras? Batin Evelyn bertanya-tanya.
Aksara tersenyum simpul.
"Gak perlu tau gue dengar ucapan lo dari mana. Tapi gue mau, kejadian hari ini dibuat pembelajaraan aja. Ke depannya lo hati-hati!" tegas Aksara.
"Iya, maaf."
Setelah berkata demikian Evelyn berlalu petgi meninggalkan ruangan. Sambil terus mengumpat dalam hati, melampiaskan rasa kesalnya.
__ADS_1