
Ketika kakinya menginjak anak tangga terakhir. Aksara menghentikan lajunya ketika melihat Mila dan Rio duduk di ruang tengah, menatapnya dengan senyum hangat.
"Bunda? Ayah?"
Aksara sedikit terkejut melihat kehadiran mereka berdua. Karena sejak tadi Aksara sama sekali tak mendengar bunyi mobil terhenti di depan. Biasanya juga, Mila mengeceknya dari luar memastikan bahwa dia benar-benar pulang.
"Sudah siap?" tanya Mila berdiri dari duduknya. Mendekati Aksara lalu membantu membenarkan kerah pakaian putranya yang nampak tak pas.
"Siap!"
"Bagus, kita berangkat sekarang!" ujar Rio yang sudh berdiri di sebelahnya. Aksara mengangguk, menggandeng tangan Mila keluar.
"Biar Aksa aja yang nyetir, Ayah tinggal tunggu sampai." Aksara mengambil alih kunci mobil dari tangan Rio. Cowok itu membukakan pintu mobil untuk Mila masuk juga untuk Rio.
"Makasih sayang!" Mila tersenyum lalu masuk ke dalam.
Aksara memakai sabuk pengamannya. Ia mulai menyalakan mesin mobil lalu menjalakannya menuju tempat lokasi.
"Yang datang nanti siapa aja?" tanya Aksara melirik kaca.
"Nenek kamu," kata Mila.
"Nenek? Nenek udah sembuh?" tanya Aksara tak percaya.
"Sudah tiga hari yang lalu dia pulang. Nanti katanya mau datang," jelas Rio.
Hampir satu bulan ini, Julia- Nenek Aksara di rawat di rumah sakit. Neneknya itu tak punya penyakit serius, mungkin karena faktor usianya saja yang membuatnya harus beberapa kali bolak-balik ke rumah sakit. Dan yang terakhir kemarin, hanya sekali saja Aksara menegokknya. Sisanya Mila dan Rio.
Beberapa menit berlalu, mobil terhenti tepat di depan sebuah resto bintang lima yang ada di kota. Aksara turun setelah memarkirkan mobilnya. Lalu ia membantu Mila turun dan ketiga manusia itu melangkah memasuki resto.
"Putra Bunda udah besar," gumam Mila yang masih terdengar jelas di telinga Aksara dan Rio.
"Itu semua karena Bunda sama Ayah kan?" tanyanya, menatap sayu sang Ibunda sambil mengusap punggung tangan Mila yang tak lagi mulus.
...
"Kak, buruan turun. Mama udah nunggu di bawah," panggil Abel dari luar sambil mengetuk pintu kamar milik Nala.
__ADS_1
Perempuan berusia 14 tahun itu sudah menggunakan dres hitam, sama seperti Nala namun berbeda model.
Abel menghela napas panjang, sambil memainkan kakinya ia menunggu kehadiran Nala yang belum keluar juga dari dalam kamar.
Padahal sebentar lagi acaranya akan dimulai.
"Bentar, bentar!" balasan itu berasal dari dalam. Tak lama terdengar bunyi langkah kaki mendekat, membuat Abel membenarkan posisinya.
"Ayo ... buruan," suara Abel seketika berubah memelan seiring dengan langkah Nala mendekatinya.
"Ayo berangkat!" ajak Nala semangat, kini sudah berdiri di hadapan Abel. Melihat Abel yang terus menatapnya takjub membuatnya berdeham keras.
"Ehem... gue tau kalau gue cantik. Tapi jangan gitu juga natapnya," kata Nala sedikit keras membuat Abel tersadar. Seketika perempuan itu mengubah ekspresinya menjadi jijik.
"Siapa juga terkesima sama prnampilan lo. Gue cuma kaget aja liat penampilan lo sekarang," kata Abel membela diri.
"Sama aja bodoh! Itu artinya lo bilang kalau gue cantik," Nala mengibaskan rambutnya ke belakang membuat Abel menatapnya jengah.
Kakaknya yang satu ini memang berbeda, biasanya orang yang dipuji akan merasa malu. Tapi untuk Nala malah sebaliknya, kakaknya itu malah semakin tinggi kepala.
"Gue akui kalau hari ini lo cantik," ucap Abel mengalah.
Abel spontan menutup kedua telinganya. "Iya, lo kan buluk," katanya tanpa dosa.
"Udah deh, ributnya lanjut nanti. Ayo berangkat. Mama udah nunggu di bawah," Abel menarik pergelaan tangan Nala untuk ikut dengannya ssbelum kakaknya itu mengeluarkan sumpah serapahnya. Lebih baik Abel pilih jalur aman dulu, urusan kakaknya marah itu belakangan.
"Pelan-pelan, udah tau pake dress acara lari segala!" tegur Nala pada Abel. Karena adiknya itu terlalu cepat lari apalagi sekarang mereka sedang menuruni tangga.
"Kelamaan kalau jalan, Mama udah nungguin lo dari tadi. Kasian kalau nunggu lama lagi," ujar Abel. Kali ini sedikit memelankan lajunya, tapi tak dapat dipungkiri jika keduanya tetap berlari.
"Emang mau ke mana sih?" pertanyaan itu berhasil membuat Abel menghentikan lajunya.
Abel menoleh ke belakang. Dapat perempuan itu luhat, ada raut penasaran dan bingung di wajah kakaknya. Apalagi acara malam itu mendadak, dan hanya Abel serta Zora saja yang tau.
"Ntar lo juga tau," ujar Abel.
"Kenapa gak lo kasih tau sekarang?"
"Kalau lo tau sekarang bukan surprise namanya," asal Abel.
__ADS_1
"Hah? Emang gue ulang tahun? Perasaan ulang tahun gue masih bulan depan deh," ungkap Nala kebingungan.
Abel memejamkan mata, merutuki dirinya karena dia juga kebingungan untuk membalas pertanyaan Nala. "Pokoknya lo diam aja, nanti kalau udah sampe juga lo tau kita mau ngapain di sana."
"Gak bisa kasih clue dikit gitu? Mungkin bisa gue jawab?" desak Nala masih berusaha untuk meminta jawaban sebenarnya.
"Enggak, kalau gue kasih tau sekarang bukan kejutan namanya." Nala semakin memicingkan matanya, mencurigai balasan Abel. Melihat itu membuat Abel cepat-cepat menoleh ke depan kembali.
"Sampai kapan kalian berdua debat di sana?" tanya Zora, bersandar pada daun pintu. Menatap kedua putrinya yang baru saja menyelesaikan debat singkat mereka.
"Ayo kita jalan sekarang," pinta Zora keluar lebih dulu untuk menyiapkan mobil.
Abel dan Nala sekilas saling tatap sebelum keduanya pergi membuntuti Zora dari belakang menuju mobil hitam yang sudah terparkir di depan.
Nala masuk ke dalam mobil hitam milik Mamanya, dengan Zora yang berada di sebelahnya, memegang kendali kemudi. Sementara Abel duduk di belakang, kini tengah membaca buku novel.
"Tumben Mama ajak Nala pergi. Disuruh dandan juga lagi," kata Nala masih mencari tau.
Zora menatapnya sejenak sambil tersenyum penuh arti, wanita itu memakai sabuk pengaman.
"Putri Mama cantik."
Nala menaikkan alisnya, bingung. Pasalnya baik Abel dan Zora jarang sekali memujinya seperti hari ini, keduanya lebih menunjukkannya dari tampang ekspresi dibandingkan kata.
Dengusan pelan Nala perlihatkan. Menatap balik Zora yang masih melayangkan senyum penuh artinya. "Mama baru sadar kalau anaknya yang satu ini cantik? Ke mana aja coba," kata Nala pede.
Zora pun terkekeh lalu menggelengkan kepala. "Gak usah dipuji Ma, semakin kepedean nanti!" cetus Abel dari belakang. Nala langsung menoleh dan melempar sekotak tisu padanya.
"Iri aja hidup lo," balas Nala kesal.
"Emang lo jelek," Abel mengangkat bahunya sekilas lalu melanjutkan aktivitasnya membaca buku, menghiraukan tatapan Nala.
Zora hanya geleng-geleng kepala melihatnya lalu kembali menatap Nala dengan lembut.
"Kamu udah besar sekarang. Udah 17 tahun, Mama harap kamu bisa jaga diri dan bisa lebih dewasa. Karena Mama sayang sama kamu. Abel juga, Mama sayang sama Abel, sebentar lagi kamu akan sama seperti kakak kamu."
Ucapan terakhir yang terlontak dari mulut Zora menjadi perbincagan terakhir di dalam mobil.
Setelahnya, Zora menjalankan mobilnya. Mengemudinya menuju suatu tempat, yang hingga detik ini tak Nala ketahui tempatnya.
__ADS_1