Aksana

Aksana
18. AKSANA


__ADS_3


"Sesuai dengan keputusan bersama kemarin, aku, mas Rio dan Mama mengizinkan putra dan cucu kami untuk menikahi Anala Debora."


Ucapan itu baru saja tercetus dari mulut Mila, dan berhasil membuat Nala melotot tak percaya.


"HAH? NIKAH?!" teriak Nala tanpa sadar.


Cubitan pelan di tangannya membuat Nala tanpa sadar mengaduh kesakitan. Dia menatap Zora sambil mencerna apa yang baru saja Mila katakan.


Nala terus menatap Zora tak percaya. Apakah benar bahwa sekarang Nala dijodohkan?


Baru saja tahun kemarin KTP nya jadi. Dirinya saja belum genap delapan belas tahun. Hidupnya masih jauh untuk memikirkan hal yang seserius ini. Kisah hidupnya masih panjang.


Ini hidupnya, dan Nala lah yang menjalaninya. Lalu, mengapa sekarang dia harus menikah? Umurnya masih sangat jauh untuk memikirkan hal seserius ini.


Ditambah lagi calonnya adalah Aksara 'manusia yang paling Nala hindari selama ini' akan menjadi jodohnya?


Yang benar saja!


Nala tak mau! Dia tak suka!


Memang benar Nala bercita-cita untuk menikah dengan suami yang tampan dan kaya raya. Tapi apakah harus Aksara? Apakah tak ada pilihan yang lain untuk Nala memilih calon suami?


"Kita sudah pikirkan ini semua dengan baik-baik. Rencana penting ini sudah kita putuskan dari lama," sambung Rio.


Mila mengangguk setuju sembari mengusap punggung tangan Nala. Gadis itu masih tampak terkejut dengan apa yang terjadi barusan.

__ADS_1


"Kami tau kalau pernikahan kalian mendadak. Apalagi kalian berdua tak ada hubungan, tak ada rasa cinta. Tapi kami tau kalau kalian berdua sama-sama dewasa dan saling mengerti satu sama lain nantinya," jelas Mila dengan lembut.


"Mila...."


Di keadaan yang hening sesaat itu. Tiba-tiba Rianna membuka suaranya, semuanya yang diam jadi mengalihkan pandangan mereka ke arahnya.


"Ma," Rio menggeleng pelan. "Kita bisa bicarakan itu nanti di rumah," ujarnya pelan yang hanya dapat di dengar Rianna dan Aksara, sementara sisanya hanya menatap bingung.


"Enggak, Rio. Kamu tau kan mereka masih di bawah umur? Mama mau Aksa, cucu Mama ngelanjutin study nya tanpa harus memikirkan hal ini!"


Tanpa di duga Rianna menolak tegas permintaan menantu dan putranya. Penolakan tegas itu nyatanya membuat suasana dalam ruangan berubah drastis.


"Bukan berarti karena janji kalian menikahkan mereka berdua. Lagian janji itu juga udah lama kan? Janji itu bisa mereka laksanakan setelah mereka sama-sama dewasa. Sekarang yang Mama mau, Aksara cucu Mama harus melanjutkan study nya!" dengan lantang Riannna mengucapkannya.


"Ma..." suara Mila berubah menjadi pelan. Wanita itu menatap mertuanya lekat-lekat, meminta untuk tak membahas hal itu disini.


"Maaf semuanya," Nala memotong pembicaraan. Mungkin terlihat tak sopan, tapi bagaimana pun Nala tak bisa terus-menerus diam seperti ini.


"Boleh saya bicara sebentar dengan Mama?" izinnya.


Rio mengangguk canggung. "Silakan, silakan," ujarnya memersilakan Nala pergi sejenak meninggalkan ruangan.


"Ayo Ma," Nala tersenyum sekilas dan meminta Zora untuk ikut dengannya. Nala keluar meninggalkan ruangan diikuti Zora di belakangnya.


Abel hanya menatap kepergian Mama dan kakaknya. Ada rasa yang tak bisa Abel jelaskan begitu saja. Jujur, saat ini Abel lebih setuju dengan ucapan Rianna.


Aksara menatap kepergian Nala dan Zora. Sekilas Aksara mengatur posisi duduknya, sambil mengatur deru napas yang tiba-tiba menggebu.

__ADS_1


Setibanya mereka di luar, tatapan kekesalan Nala layangkan.


"Maksud Mama apa? Mama mau jodohin Nala sama dia? Mama kenapa jahat banget sih!" ujar Nala sarkas.


"Mama mau nikahin Nala sama Aksara tanpa pebgetahuan Nala lebih dulu, gitu? Tanpa bilang ke Nala lebih dulu?" Nala menatap Zora tak percaya.


Bagaimana bisa Mamanya itu mengambil keputusan penting dan serius seperti ini tanpa membicarakannya lebih dulu. Dan tiba-tiba Nala mendapatkan kabar kalau dia akan menikah dengan cowok bernama Aksara Devara.


"Mama kan tau, aku aja masih bangun siang. Buat sekolah aja selalu telat, selalu melanggar peraturan, apalagi buat masak dan ngurus rumah Mama tau sendiri aku gimana. Terus, secara mendadak Mama nikahin Nala sama Si ketos itu? Yang bener aja dong Ma!" tolak Nala mengeluarkan unek-uneknya yang dari tadi dia simpan.


"Nala..."


"Aku gak paham sama jalan pikiran Mama. Bisa-bisanya ambil keputusan gitu aja tanpa ada Nala di sana!" tanpa sadar intonasi nada yang keluar dari mulutnya meninggi, bahkan kini air matanya sudah menggenang di pelupuk mata.


"Nala..."


Zora menarik tubuh putrinya mendekat, setelah itu memeluknya erat sambil menggusap lembut punggung putrinya.


"Mama tau kan kalau Nala benci sama Aksara? Kenapa harus dia," gumam Nala menahan tangis. Sebisa mungkin ia menahan air matanya agar tak jatuh.


"Karena Mama tau kalau Nala bisa. Makanya kenapa Mama ambil keputusan itu," balas Zora.


"Tapi Ma, Nala gak mau." Nala menggeleng cepat.


"Kita bicarakan itu nanti di rumah ya? Sekarang kita masuk ke dalam, kasihan mereka udah nunggu." Zora mengusap kepala Nala dengan lembut sambil mengangguk yakin.


"Terus maksud perjanjian itu apa?" tanya Nala menuntut. Dari tadi dia sudah penasaran dengan hal itu, hal yang menyangkut Rianna menolak permintaan Rio, Mila dan Zora.

__ADS_1


"Nanti Mama akan jelasin ke kamu, tapi bukan disini. Di rumah," kata Zora.


Nala menghela napas panjang, cukup lama ia menatap Zora sampai akhirnya Nala mengangguk setuju. Dia ikut masuk ke dalam kembali dan bergabung bersama yang lain.


__ADS_2