
...Selamat malam semuanya, maaf terlambat update. Episode ini adalah episode terpanjang dari cerita mereka, aku harap kalian suka 🧚🏻♀️...
...SELAMAT MEMBACA ~...
.........
Sejak istirahat pertama tadi, Nala berusaha untuk menghindari Agathis. Perempuan itu terus mendekatinya untuk meminta jawaban.
Hingga bel pulang sekolah berbunyi, Nala cepat-cepat mengemasi barangnya dan berlalu pergi dari hadapan Natasya, Agathis dan Seira.
"Nal, tunggu bentar!" Agathis berusaha mengejar Nala, tetapi Nala berlari lebih cepat darinya.
"Nala!" seseorang menepuk pundaknya, membuat larinya berhenti sejenak. Nala menoleh ke belakang, Sabrina berdiri di hadapannya.
"Kamu ngapain lari-lari?" tanya Sabrina bingung. "Kamu lagi di kejar siapa?" lagi, Sabrina bertanya. Kini ia menatap sekeliling, melihat siapa yang mengejar Nala sampai gadis itu berlari kencang seperti ini.
"Aduh, gue buru-buru! Lo langsung balik aja sama Aksara, gue duluan!" Nala meninggalkan Sabrina yang hanya bisa menatap kepergiannya. Tepat setelahnya Agathis berhenti di sebelahnya sambil mengatur napas.
"Sorry, lo liat Nala gak?" setelah memastikan napasnya kembali normal, Agathis bertanya kepada Sabrina.
"Nala ya? Dia baru aja pergi," Sabrina menunjuk kemana arah kepergian Nala tadi, membuat Agathis berdecak kesal. "Emangnya ada apa?" tanyanya, kini mulai penasaran apa yang terjadi.
"Enggak ada, makasih ya udah jawab pertanyaan gue. Gue duluan!" Agathis tersenyum pada Sabrina sebelum meninggalkan perempuan itu juga.
"Ada apa sih?" tanyanya merasa aneh.
"Brina," Aksara berjalan mendekati Sabrina.
"Lo liat Nala? Gue udah cari di kelasnya tapi dia gak ada," Sabrina hanya dapat menghela napas panjang. "Kenapa?" tanya Aksara.
"Nala udah balik duluan kata dia kita disuruh balik aja. Gak tau tuh kenapa, tapi tadi kayak buru-buru gitu." Sabrina menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya pada Aksara.
"Ayo balik," ajak Aksara setelah beberapa detik terdiam.
"Terus Nala gimana?" tanya Sabrina, menyamakan langkah kaki Aksara. Setibanya mereka di parkiran, lapangan nampak sepi, para murid sudah meninggalkan sekolah.
"Dia bisa pulang sendiri," kata Aksara sebelum masuk ke dalam mobil, Sabrina hanya dapat menganggukkan kepala. Dia ingin duduk di belakang, namun Aksara mencegatnya dan memintanya untuk duduk di depan, di sampingnya.
"Duduk depan aja, jangan duduk belakang." Aksara memakai sabuk pengaman lalu menyalakan mobil, meninggalkan halaman sekolah.
...
Kurang lebih dua puluh menit Nala menghabiskan waktunya di bus hingga tiba di halte dekat apartemen. Nala melangkah meninggalkan halte bus, melewati parkiran sebelum masuk ke dalam lift.
Nala bernapas lega saat tiba di dalam lift, akhirnya dia bisa bebas dari pertanyaan Agathis. Nala menyandarkan punggungnya sesaat sampai pintu lift berhenti tepat di lantai tujuan.
"Kenapa balik duluan?" tanya Aksara ketika Nala tiba di dalam. Nala yang baru saja melepas sepatu dibuat terkejut atas kehadiran Aksara yang tahu-tahu sudah berada di ruang tamu.
Bukannya di parkiran tadi gak ada mobil Aksa ya?
"L—lo kenapa bisa ada disini, perasaan gue gak lihat mobil lo di—" belum sempat Nala bertanya kepada Aksara, cowok itu sudah lebih dulu menarik tasnya, membuat Nala yang siap jadi terjatuh di atas sofa.
"Aduh, pelan-pelan kalau mau narik orang! Untung jatuh di sofa, kalau jatuh di lantai gimana? Mau tanggung jawab lo?!" Nala melirik Aksara sinis.
"Yang penting gak ada yang luka kan?"
"Ya gak ada sih," kata Nala menggantung. "Tapi, kenapa gue gak lihat mobil lo di bawah?"
Aksara berdecak pelan, kemudian menatap datar Nala. "Mobilnya di pake Brina buat ke rumah Nenek. Pertanyaan gue belum lo jawab, kenapa balik duluan tadi?" cowokitu mengembalikan ke topik awal.
"Buru-buru gue," balas Nala sudah mengambil ancang-ancang berdiri.
"Buru-buru?" Aksara mengerutkan dahi curiga, membuat Nala berdiri dari duduknya dan kembali memakai tas ranselnya.
"Gue mau mandi, gerah!" Nala mengipasi wajahnya dengan tangan lalu masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Setelah menyemprotkan parfum ke tubuhnya, Nala keluar kamar dan pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam malam.
"Aksa, bantuin gue ganti kompor gas, dong!" teriak Nala ketika kompor tidak dapat menyalakan api. Menunggu sesaat, tapi tak ada jawaban dari Aksara sampai harus membuat Nala keluar dapur dan melangkah ke ruang tamu.
"Pantesan, dipanggil gak jawab. Orangnya gak ada," ujar Nala pada dirinya begitu tak mendapati kehadiran Aksara di sana.
"Mending gue turun ke bawah deh sekalian beli makan di supermarket," Nala melangkah memasuki kamarnya kembali, mengambil tas belanja serta dompet kemudian keluar dan mengunci pintu.
Sampai di supermarket Nala langsung mengambil mie cup juga sebotol minuman dingin. Ia memilih untuk makan di sana, sambil menunggu Aksara datang yang entah kapan.
Ponselnya tiba-tiba ramai, oleh notifikasi group chat. Pasti ulah Natasya atau Seira, Nala sangat mengatahui jam berapa group chat ramai dengan tingkah kedua temannya itu. Karena itu, tak jarang Nala mensilent group dan akan dia baca keesokan harinya atau saat group sepi.
Hampir sepuluh menit Nala duduk di depan supermarket untuk menghabiskan makanannya. Kemudian gadis itu beranjak dari posisinya, membuang wadah bekas makanannya ke dalam tong sampah. Lalu Nala kembali memasuki apartemen.
Dua pesan dari Agathis membuat Nala yang hendak masuk ke dalam lift jadi mengurungkan niatnya itu.
"Percuma dong gue hindari Agathis tadi," Nala merutuki kelakuannya yang tanpa sengaja membuka chat Agathis.
Nala mengigit jarinya dengan ragu. Dari mana Agathis tau foto ini? Pertanyaan tersebut terus berputar di kepala, apalagi Agathis mengatakan bahwa dia sudah melihat Nala dan Aksara bersama. Tak hanya sekali, melainkan lebih dari itu.
Sudah hampir sepuluh menit dia dan Aksara berdebat di chat. Bukannya membuat Nala tenang, cowok itu semakin membuatnya risau.
Berulang kali Nala mengetik pesan dan berulang kali juga Nala menghapusnya, dia bingung harus berkata apa.
Perlahan, Nala membuka pesan Agathis kembali setelah berperang batin. Dia sedikit mengatur napas sebelum mengirim pesan yang dari tadi dia ketik pada Agathis.
Nala yang sudah tiba di lantai tujuan jadi kembali masuk ke dalam lift dan turun ke bawah. Tangannya tak berhenti mengetik di atas layar ponsel, dia baru saja memesan taksi online.
Kini dia berada di halte bus, sembari menunggu taksi yang dia pesan datang Nala menyiapkan kata-kata yang pas untuk dia sampaikan kepada Agathis nanti.
"Baru kali ini gue deg-degan," gumam Nala merasakan detak jantungnya yang berdebar dua kali lipat seperti biasanya.
Taksi yang Nala pesan akhirnya datang, dengan berlari kecil Nala menghampiri taksinya. Di dalam pikirannya berkecamuk tak karuan, ada rasa takut dan bersalah dalam dirinya.
Nala takut jika nanti dia mengungkapkan apa yang terjadi, Agathis akan mengatakannya pada orang lain dan beritanya dengan Aksara akan tersebar.
Disisi lain dia merasa bersalah karena belum berkata jujur pada Agathis, Seira dan Natasya padahal setiap apapun yang terjadi ketiga sahabatnya itu selalu mengatakan apapun yang terjadi padanya.
Taksi akhirnya berhenti di depan cafe Cempaka. Nala turun dari taksi, hal pertama yang Nala lakukan adalah memandang pekarangan cafe, memastikan apakah Agathis sudah berada di sana atau belum. Tapi, tidak ada tanda-tanda kehadiran Agathis.
Nala tiba lebih awal dari jam yang sudah dia tentukan. Dia memilih untuk duduk di luar. Berulang kali Nala melirik jam di layar ponsel, hingga seseorang menepuk pundaknya.
__ADS_1
"Nal, sorry lama. Lo pasti udah nunggu gue ya?" Agathis langsung duduk di depannya.
"Jadi..." Nala hendak menjelaskan, tetapi Agathis mencegahnya. Perempuan itu mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan.
"Kita pesan dulu aja yuk. Biar enak ngobrolnya," kata Agathis. "Saya pesan Kopi Aren latte satu, lo mau pesan apa?" Agathis mengalihkan perhatiannya sejenak pada Nala.
"Gue Matcha latte aja," katanya membuat Agathis mengangguk dan mengembalikan buku menu.
"Nal... maaf, gue, benar-benar ngerasa bersalah karena udah ikut campur. Jujur aja gue gak mau paksa lo buat cerita karena ini privasi lo," Agathis berkata dengan menundukkan kepala.
Ada rasa bersalah dalam diri Nala setelah mendengar ucapan itu. Apalagi, dia sempat menghindari Agathis tadi siang sampai menghiraukannya.
"Sejak kapan lo tau gue berangkat bareng Aksara?" tanya Nala, kini mulai serius.
"Sekitar dua minggu yang lalu, waktu itu gue gak sengaja liat lo turun dari mobil orang dan berhenti di halte. Gue kira itu mobil Tante Zora, tapi pas gue perhatiin lagi ternyata bukan. Itu mobil Aksa. Sejak saat itu gue jadi sering lewat sana dan ngelihat lo, sorry Nal." Agathis mulai menjelaskan awal ia mengetahui kedekatan Aksara dan Nala.
"Jadi, lo juga udah tau masalah gue telat kemarin itu karena apa?" Nala bertanya, namun kini dengan nada yang lebih rendah.
Agathis mengangguk, "Iya gue tau, tapi gue gak tau hubungan kalian apa. Setelah gue lihat lo di halte gue jadi mikir kalau kalian punya hubungan, atau Nyokap lo nitipin lo ke Aksara."
"Ucapan lo emang benar. Gue sama Aksara ada hubungan. Dan kita udah ..." Nala memberi sedikit jeda pada ucapannya. "Nikah," kata terakhir dari Nala berhasil membuat Agathis tersedak hingga terbatuk-batuk.
"Bercandaan lo gak lucu Nal. Gue lagi minum juga!" Agathis melayangkan protes sambil menerima tisur yang diberikan Nala.
"Kalau gue bercanda ngapain gue ngajak lo kesini?" tanya Nala tak lagi merasa bersalah dan takut, malahan ia menjadi kesal atas respon Agathis barusan.
Sebenarnya, dia sudah menduga jika Agathis akan merespons seperti ini. Kalau dipikir-pikir juga, siapa yang akan percaya Nala dan Aksara menikah? Aksara si anak OSIS dan Nala si anak pembuat masalah, sifat yang sangat bertolak belakang.
Agathis membenarkan posisi duduknya, agar lebih nyaman. "Tapi, lo beneran udah nikah? Sama Aksara?" tanya perempuan itu, sekarang menatap Nala serius.
Nala bergumam, membalas pertanyaan temannya. "Iya kita udah nikah. Panjang kalau gue cerita ke lo, intinya kita nikah karena dulu almarhum Bokap dan Aksara punya janji. Dulu Aksara bilang kalau udah gede dia bakal nikahin gue di depan Bokap. Dengernya sih konyol, tapi itu beneran terjadi di gue," secara singkat Nala menjelaskan apa yang terjadi, gadis itu tertawa ringan setelah menceritakannya pada Agathis.
"Nal..." Agathis tiba-tiba memeluk tubuhnya, membuat Nala tersenyum kemudian membalas pelukan. "Pasti sulit ya buat lo?" tanya Agathis lalu mengusap pundak Nala dengan lembut.
"Hahaha, apaan sih. Biasa aja," Nala kembali tertawa. Rasanya terdengar aneh ketika Agathis mengatakannya.
"Kalian disini juga?" tanya seseorang yang baru saja keluar dari cafe. Keduanya lantas menoleh dan terkejut ketika mendapati Seira yang kini berdiri di hadapan mereka.
"Parah sih gue gak di ajak," Seira merajuk membuat Agathis cepat-cepat menarik Seira untuk duduk.
"Gak sengaja ketemu tadi," itu kata Nala. Agathis langsung menatapanya dengan tanya, yang langsung Nala balas dengan gelengan pelan.
"Lo ngapain disini?" Nala mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Gue habis pesan kue buat acara besok," jawab Seira. "Kalian besok datang kan ke rumah gue. Nyokap udah nanyian kalian soalnya," cewek itu memandang Nala dan Agathis bergantian.
"Datenglah ya kali enggak," kata Nala membuat Seira bernapas lega.
"Tenang Ser, kita datang kok. Acaranya sore kan?" tanya balik Agathis.
"Yes! Jam 4 jangan lupa," ujarnya mengingatkan. "Ya udah, gue duluan ya. Mau lanjut ke tempat lain, byee." Seira berlalu dari hadapan keduanya setelah berbincang singkat bersama pemilik cafe.
"Aga..."
"Iya?"
"Makasih ya, udah dengerin gue. Sorry soal tadi siang. Saat ini cuma lo yang tau hubungan gue sama Aksara, gue mohon sama lo. Jangan pernah bilang ke siapa pun, baik Seira atau Natasya," kali ini Nala terlihat memohon.
"Buat mereka berdua, biar gue yang jelasin walaupun gue gak tau kapan. Tapi untuk sekarang, gue mau lo diam. Bayangin aja, pertemuan kita hari ini seakan gak pernah terjadi," ujarnya lagi. Agathis tersenyum lalu mengangguk setuju.
"Tenang aja, lo bisa percaya sama gue. Gue gak akan bilang ke siapa pun. Thanks yaa, udah percaya ke gue." Agathis langsung memeluk Nala, dengan ragu Nala membalasnya.
...
...FLORA AGATHIS & ANALA DEBORA 🙇🏻♀️...
__ADS_1