Aksana

Aksana
14. AKSANA


__ADS_3


Bel istirahat sudah berbunyi 10 menit yang lalu tapi tak membuat Aksara berlalu meninggalkan kelas.


Di kelas yang sepi dan tak ada orang Aksara membaca buku, tepatnya dia sedang belajar. Memanfaatkan waktu dan keadaan, sambil mengerjakan beberapa soal latihan yang sebelumnya Bu Ari kasih.


Aksara mendongak ke atas sesaat mendengar bunyi pintu kelas terbuka. Rasya, sang pelaku tersenyum. Cowok itu masih menggunakan jaket almaternya sambil membawa botol minuman segar di kedua tangan.


"Buat lo," kata Rasya menyerahkan salah satu botol minuman segar ke arah Aksara yang langsung cowok itu terima.


"Makasih banyak!"


Rasya mengangguk simpul sebelum meneguk kembali minumannya. "Ngerjain apaan?" tanya cowok itu melirik lembaran kertas putih berisikan soal yang baru saja Aksara kerjakan.


"Ada PR?" tanyanya dengan wajah kebingungan sekaligus takut. Seingatnya hari ini tak ada tugas selain presentasi nanti, itupun waktu pelajaran terakhir.


"Enggak ada. Gue cuma ngerjain soal dari Bu Ari yang kemarin dia kasih," balas Aksara membuat Rasya bernapas lega.


"Lo belum makan kan? Mending makan bareng gue. Tadi nyokap bawain gue bekal ayam bakar, sekalian nyuruh lo cobain dan minta pendapat. Minggu depan nyokap mau buka menu baru," Rasya bangkit dari tempatnya, cowok itu melangkah menuju kursi depan meja guru lalu merogoh kolong meja untuk mengambil tas kain putih dan membawanya kembali ke Aksara.


Aksara menghentikan belajarnya. Dia menyimpan buku dan alat tulisnya ke dalam kolong meja, mempersilakan Rasya untuk mengeluarkan isi tas ke atas meja.


"Kayaknya enak," ujar Aksara sambil membanyu Rasya membukakan kotak makan.


"Pasti dong, siapa dulu yang masak!" Rasya membusungkan dadanya ke depan, lalu menepuknya- bangga.


Aksara hanya tertawa kecil melihatnya.


"Lo coba deh, gue mau ke depan dulu buat cuci tangan."


Rasya melepas jaket almaternya, menyimpannya ke dalam tas sebelum berlalu keluar. Setiap kelas memiliki satu wastafel yang letaknya memang ada di luar, jadi jika para siswa ingin menyuci tangan tak perlu pergi ke kamar mandi.


Setelah mencuci tangannya dengan sabun, Rasya kembali masuk ke dalam kelas. Melihat Aksara masih diam di tempat, seperti awal. Bahkan bekal makan di hadapannya masih dalam posisi yang sama, tak tersentuh.


"Kok gak lo makan?" tanya Rasya bingung.


"Nunggu lo," singkat Aksara membuat Rasya tertawa. Sifat Aksara dari dulu hingga sekarang tak perubah.


"Kayak sama siapa aja lo. Udah nih makan," Rasya menyerahkan salah satu kotak makan pada Aksara, menyuruhnya untuk mencicipi lebih dulu.


"Lo gak makan?"

__ADS_1


"Udah sering gue. Bahkan satu minggu ini gue makan ayam bakar mulu. Coba deh, nanti kasih tau gue gimana rasanya." Rasya mempersilakan Aksara untuk memakannya.


"Gimana?" Rasya menggamati ekpresi wajah Aksara, nampak serius. Cowok itu juga diam, tak mengatakan apapun sampai makanan di dalam mulutnya habis.


"Seperti biasa, enak!" ucap Aksara setelah terdiam beberapa saat.


"Oke, nih buat Tante Mila sama bokap lo. Suruh mereka cicipin juga," tanpa Aksara duga. Rasya menyerahkan tas kain berisikan dua kotak makanan di dalamnya.


"Udah, tenang aja. Nyokap gue yang nyuruh, jadi gak usah khawair!" kata Rasya, menyadari raut wajah sahabatnya.


"Thanks Ras," ujar Aksara.


Pada akhirnya, mereka sama-sama menikmati makanan masing-masing. Tak ada yang membuka obrolan kecuali Rasya yang bercerita. Aksara hanya diam dan menyimaknya, sesekali juga menjawab jika dia ditanya.


Drtt...


Ponsel Aksara bergetar membuat obrolan sejenak terhenti. Aksara segera mengambil ponselnya dari dalam tas setelah meminta izin. Cowok itu sedikit mengerutkan dahi saat melihat chat dari Mila masuk.


Bunda 💗 : Aksa, nanti malam Bunda mau kamu siap-siap ya. Kita ketemuan langsung di hotel


Me : Hotel? Ada apa Bun?


Aksara terkejut melihat pesan Mila, membuatnya tersedak. Melihat itu refleks Rasya mememberikan minuman.


"Lo gak papa?" tanya Rasya sambil menepuk punggung Aksara.


"G-gue gak papa. Lanjut aja ceritanya," Aksara langsung mematikan ponselnya dan menyimpannya ke dalam tas kembali.


"Beneran? Lo gak kenapa-kenapa?" tanya Rasya ulang, lebih tepatnya memaatikan keadaan cowok di hadapannya.


Apalagi wajah Aksara yang tiba-tiba berubah merah seperti ini.


"Gue gak papa. Lanjut lagi aja ceritanya. Tadi sampe mana?" cowok itu berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan.


...


"Eh, gue balik duluan ya! Ojek gue udah di depan," kata Sera berpamitan lebih dulu. Seraya menutup botol minumnya, cewek itu menyambar tas dan meranselnya.


"Hati-hati Ser. Bentar lagi gue juga mau balik," cetus Natasya melirik ponselnya lalu kembali menatap Sera yang kini sudah siap.


"Gue duluan, bye!" Sera melambaikan tangannya, meninggalkannkantain dan ketiga temannya.

__ADS_1


"Gue juga deh. Bokap gue udah di mau sampe, kasihan kalau dia nunggu lama." Agathis juga mulai mengemasi barangnya. Perempuan itu menyimpan buku dan laptopnya ke dalam tas, mereka baru saja selesai mengerjakan tugas kelompok.


"Lo balik sama siapa Nal?" tanya Agathis sebelum menutup tasnya.


"Paling minta jemput supir. Kalian berdua duluan aja gak papa. Gue nunggu sini sekalian ngecas," ujar Nala pada Agathis dan Natasya yang juga akan pergi.


"Ya udah kita duluan deh. Lo hati-hati!'' kata keduanya sebelum pergi.


Nala mengangguk, menatap kepergian mereka. Setelah tak terlihat lagi Nala mencabus chargernya dan bersiap pulang.


Namun baru saja ia menggulung kabel data, ponselnya berdering membuat Nala menaruh sejenak kabel datanya ke atas meja kantin dan mengecek ponselnya.


Nala mengerutkan dahinya bingung, melihat pesan Zora. Bahkan Abel juga mengirimkannya pesan serta foto.


Sumber duit : Setelah sampe rumah langsung siap-siap ya. Nanti Mama jemput kamu di rumah


Belbel : Jangan lupa pake dress yang udah gue siapin di atas kasur. Awas aja gak lu pake!


Me : Dress? Buat apa?


Belbel : Ntar juga tau sendiri. Dandan yang cantik ya~


Nala semakin mengerutkan dahinya. Tak pahan dengan pesan Abel dan Mamanya. Memilih tak memikirkannya, Nala pun melanjutkan kegiatanya dan pergi meninggalkan kantin.


"Halo Pak, udah sampe mana? Ini aku udah selesai. Mau jalan ke depan," ujar Nala sambil mengangkat panggila ia melangkah ke gerbang.


"Aduh maaf Neng. Mobilnya bocor, jadi mau gak mau harus bawa ke bengkel dulu. Neng Nala lebih baik pulang pake ojek atau taksi aja, kalau nunggu saya nanti kelamaan."


"Bocor? Kok bisa sih pak?"


"Saya juga gak tau Neng, ini ketusuk paku kayaknya. Maaf Neng, Bapak gak bisa jempit."


Nala berdecak pelan.


"Ya udah deh, ya udah. Nala naik ojek aja gak papa. Bapak langsung ke bengkel aja benerin mobilnya."


"Iya Neng, maaf Neng sekali lagi."


"Gak papa Pak. Saya aman kok," ujar Nala.


Kemudian mematikan ponselnya sejenak Nala bersandar pada dinding. Menatap ke tengah lapangan yang sepi, hanya ada beberapa motor dan anak-anak yang bermain basket.

__ADS_1


__ADS_2