
Tak perlu waktu lama untuk keduanya tiba di tujuan. Mobil Aksara mulai memasuki kawasan apartemen, setelah memastikan bahwa mobilnya terparkir pas, cowok itu turun dari mobilnya disusul Nala.
Perempuan itu sempat tertidur sejenak di dalam mobil, kini dengan keadaan setengah sadarnya ia memandang sekitar. Apartemen itu luas, bahkan terlihat cukup mewah untuk sebuah hadiah.
Melihat Aksara yang terus mengangkut kopernya membuat Nala mendekat, ia membantu menurunkan kopernya. Hanya koper ukuran kecil serta tas saja, sisanya Aksara.
Setelah semua barang turun, keduanya masuk ke dalam. Tentunya dengan bantuan pelayan apartemen, ketiganya memasuki lift untuk tiba di apartemen Aksara.
"Makasih Pak," Aksara mengucapkan terima kasih begitu ketiganya tiba di depan pintu apartemen.
"Sama-sama Mas, saya duluan!" pamitnya berlalu pergi.
Suasanya benar-benar terasa sunyi setelah kepergian pelayan tersebut.
Aksara sibuk mencari kunci yang sebelumnya dia simpan dalam tas, sementara Nala hanya memandangnya sampai Aksara menemukan benda bernama kunci itu.
"Masuk, sampai kapan lo berdiri di sana!" suara bernada berat itu mengagetkan Nala yang tengah melamun.
Sadar bahwa pintu apartemen telah terbuka. Cepat-cepat Nala masuk, menyusul Aksara yang lebih dulu sudah berada di dalam.
Seperti dugaan Nala sebelumnya, apartemen itu cukup mewah. Di dalamnya juga luas, tak hanya itu semua peralatan rumah tangga terlihat lengkap. Selama beberapa menit Nala berkeliling, menjelajah setiap sudut ruangan yang ada di sana.
"Lo mau ke mana?" tanya Aksara, memadang gerak gerik Nala. Perempuan itu perlahan membawa salah satu tasnya menuju ke satu kamar yang tepat berada di depan ruang keluarga.
"Tidur, gue capek." Nala membalasnya lalu ketika tangannya ingin meraih gagang pintu. Suara Aksara kembali terdengar, tapi kali ini membuatnya terkejut.
"Kamar lo disini. Bukan di sana," ujar Aksara membuat Nala berbalik badan.
__ADS_1
"Sekamar sama lo?" tanya Nala terkejut.
"Menurut lo? Disini siapa lagi kalau bukan gue?" tanya balik Aksara sambil menaikkan salah satu alisnya, menatap lama Nala.
"Gak, gue gak mau!" tolaknya. Nala langsung membuang muka dan kembali menghadap pintu, ketika tangannya sudah menggapai pintu dan bersiap untuk masuk ke dalam.
Langkahnya itu tiba-tiba berhenti, Aksara yang berada di belakang hanya dapat menahan senyuman ketika perlahan tubuh Nala kembali mengadapnya dan berjalan mendekatinya.
"Kenapa? Kok gak jadi?"
"Gudang!" balas Nala ketus. Ia masuk begitu saja, melewati pemilik dari apartemen.
Aksara hanya dapat berdeham pelan. Cowok itu menyusul Nala dan mulai memindahkan beberapa koper Nala ke dalam. Nala terus menatap kamarnya, tepatnya kamarnya dan Aksara.
Entah mengapa pikiran kotor itu tiba-tiba menghantui Nala, membuat bulu kuduk Nala meremang.
Melihat bahwa sebagian barangnya sudah ada di dalam. Nala pun mulai menghampiri tas ranselnya, lalu mengeluarkan solasi coklat serta guting. Sejak tadi dia berkemas, barang itu sudah lebih dulu dia masukkan dalam tas.
"Mau ngapain?" tanya Aksara kebingungan begitu melihat Nala yang perlahan mulai membuka solasi, lalu menempelkannya pada dinding kamar juga lantai.
"Diam di sana!" Nala menyuruh Aksara untuk diam ditempatnya.
Aksara menurut, ia terus menatap aktivitas Nala. Sampai di titik terakhir Nala mengunting solasi coklat di tangannya.
Nala mengibaskan tangannya ke depan, membersihkan butiran debu sebelum menatap Aksara serius.
Aksara yang di tatap hanya mengerutkan dahi, menunggu ucapan apa yang akan Nala katakan.
"Lo liat solasi coklat itu kan?" tunjuk Nala dan Aksara mengangguk. "Mulai dari meja rias sampai pembatas ini adalah wilayah gue. Sementara sisanya punya lo," jelas Nala.
__ADS_1
Tentu saja ucapannya itu membuat Aksara terkejut, namun tak lama senyum simpul terlihat di bibirnya. "Jadi..." Aksara dengan sengaja mengatung ucapannya.
"Jadi, siapa yang melewati batas wilayah. Dia bakal kena hukuman! Buat yang melanggar satu sampai tiga kali dia bakal dimaafin tapi kalau lebih dari itu dia akan kena hukuman. Gimana, deal?!"
Nala mengulurkan tangannya pada Aksara, meminta persetujuan dari cowok itu. Cukup lama Aksara terdiam sampai akhirnya Aksara membalas uluran tangan Nala.
"Deal!"
Perlahan dia mendekati Nala sampai berhenti tepat di telinga Nala. Hembusan napas itu terasa menggelitik, tapi Nala memilih diam.
"Siapa yang kalah dia yang bakal dapat hukuman?"
"Dan gue yakin itu lo," ujar Nala dengan percaya diri.
Dia sangat yakin jika ia bisa memenangkan permainan itu. Mungkin memang benar jika Aksara pintar sampai selalu membawa piala disetiap kemenangannya. Tapi untuk yang satu ini, Nala yakin kalau ialah pemenangnya.
...
...Chat Aksara Devara & Anala Debora 🧚🏻♀️...
...Beberapa menit kemudian...
...Jangan lupa jejaknya yaa boo! 🙆🏻♀️💗...
__ADS_1