
Nala melirik ke samping kanan ketika mendengar bunyi mesin motor terhenti tepat di sebelahnya.
Nala melihat sosok pemilik motor tersebut membuka kaca membuat gadis itu terus memandangnya.
"Belum pulang lo?" tanyanya. Nala yang tau pemilik suara itu hanya menoleh sekilas lalu menatap ke depan, seolah tak peduli dengan kehadirannya.
"Yang lo liat, gue udah balik atau belum?" tanya balik Nala dengan ngegas, membuat cowok itu tertawa.
"Lo ngapain disini. Mending lo balik deh, halangin jalan aja!" kata Nala.
"Nunggu jemputan?" Bukannya membalas perkataan Nala. Dirga, memilih untuk tetap stay di tempat sambil memainkan kunci motornya. Menunggu balasan Nala yang harusnya cowok itu tau jika Nala tak peduli.
"Iya,"
Setelah membalasnya Nala menggeser tubuhnya sedikit ke samping. Mencoba fokus pada ponselnya. Namun ketika melihat ke arah Dirga kembali, cowok itu masih tetap diam di tempat.
Malahan kini Dirga mengubah duduknya menjadi menghadap padanya.
"Ngapain sih lihat-lihat! Gue tau gue cantik. Tapi gak usah ngelihatin gue sampe segitunya kali," kata Nala.
Dirga tertawa mendengarnya. "Emang gue liatin lo? Orang gue lagi liatin pak satpam yang bantu nyebrang anak-anak ke depan," ujar cowok itu. Nala sontak menoleh, memang benar ucapannya.
Di depannya kini sudah ada Pak satpam yang baru saja mengantar anak-anak sekolah untuk sampai ke seberang.
__ADS_1
"Mau gue anterin gak?" tawar Dirga baik-baik. Melihat Nala yang sibuk dengan ponselnya tak lupa dengan wajahnya yang cukup panik itu membuat Dirga paham.
"Enggak usah, gue bisa pulang sendiri." Nala menolak tawaran Dirga mentah-mentah.
"Yakin lo balik sendiri? Udah sore ini, mau magrib juga. Gak baik lo balik sendiri," ucap Dirga menatap ke atas sejenak. Memandang langit sore yang sebentar lagi akan gelap.
Nala terdiam, masih sibuk dengan ponselnya. Sudah beberapa kali Nala mencoba memesan ojek untuk mengantarkannya pulang ke rumah.
Tapi hingga kini, semua pesanan itu di tolak. Entah karena apa, tapi itu tentu membuatnya kesal.
"Kok gak bisa sih? Mana ditolak semua lagi. Masa aplikasi gue yang error?" batin Nala kesal setengah mati.
"Gimana? Mau gak?" tanya Dirga lagi. Dia masih setia duduk di atas motornya, menatap Nala yang sekarang mulai berpikir.
"Ya udah deh gue bareng lo," kata Nala kemudian setelah terdiam cukup lama.
Mungkin kalau bukan karena pesan mereka yang membuat Nala penasaran, Nala tak mungkin menerima tawaran Dirga.
Mendengar jawaban Nala membuat Dirga kembali memasang helmnya, dan menyalakan motor. Nala perlahan mendekati motor Dirga lalu naik ke atasnya. Tak lupa melepas tas ranselnya dan menaruhnya ke depan, memberi jarak diantara mereka.
"Udah belum?" tanya Dirga melirik Nala dari arah kaca spion.
"Udah," dan Dirga mengangguk. Perlahan menjalankan motornya, meninggalkan kawasan sekolah.
"Kok lewat sini. Bukannya lurus ke depan ya?" tanya Nala kebingungan sesaat motor Dirga melaju ke kanan, padahal seharusnya terus. Meski sebenarnya bisa saja lewat kanan dan kiri tapi itu lebih lama dibandingkan lurus ke depan.
__ADS_1
Dirga berdecak pelan. "Ada perbaikan jalan di depan sana. Kalau kita lewat terus yang ada bukannya balik dengan aman kita berdua malah bonyok," jelas cowok itu fokus menatap jalanan.
"Perbaikan jalan? Apa itu yang buat mereka tolak pesanan gue?" Nala mengangkat bahunya tak acuh, tak ingin memikirkannya.
...
Nala turun dari atas motor Dirga begitu motor milik cowok itu berhenti tepat di depan rumah berlantai dua.
"Thanks tumpangannya," ujar Nala membenarkan posisi tas nya ke belakang.
"Sama-sama. Lain kali kalau butuh bantuan, bilang aja. Gak usah gengsi," kata Dirga membuat Nala memutar bola mata malas.
"Gue duluan deh. Lo balik sana," katanya lalu pergi masuk ke dalam. Menutup gerbang dan melewati halaman rumah, tanpa menoleh ke belakang sama sekali.
Dirga tersenyum simpul melihatnya. Setelah tak melihat keberadaan Nala lagi. Pemuda itupun menyalakan motornya, meninggalkan rumah Nala.
Nala mengintipnya dari dalam jendela. Memastikan bahwa Dirga benar-benar pergi dari rumahnya.
Selanjutnya Nala membawa tasnya ke atas, dan waktu kakinya melangkah melewati ruang tengah dan dapur.
Nala sama sekali tak melihat keberadaan Abel dan Zora. Pasti keduanya sedang berada di luar, pikir Nala tak mau pikir panjang.
Nala menaiki anak tangga untuk tiba di kamar. Sesampainya di dalam kamar, matanya langsung tertuju pada sebuah kotak hitam yang disampingnya ada sebuah dress berwarna hitam.
"Jangan-jangan ini yang Mama sama Abel bilang tadi?" tanya Nala mengambil dress tersebut lalu berdiri di depan cermin.
__ADS_1
"Bagus juga," gumam Nala menyukainya.
Cukup lama Nala memandangi dress tersebut dari pantulan cermin sampai akhirnya ia memutuskan mandi dan bersiap. Sembari menunggu kedatangan Mamanya dan Abel.