Aksana

Aksana
28. AKSANA


__ADS_3


Setelah menikmati dessert yang sebelumnya Nala hias. Kini Nala dan Aksara duduk berdua di sofa ruang tamu sambil menonton acara televisi malam itu.


Ditemani sebotol minuman segar dan makanan ringan, Nala perlahan membuka buku serta paketnya. Dan mulai mengerjakan tugas pemberian Bu Yulisa.


Tanpa alasan Nala mengerjakan tugasnya di malam hari seperti ini. Semua itu atas perintah Aksara, karena baru saja dia melanggar peraturan yang Nala buat sendiri. Nala tak sengaja menginjak kawasan Aksara.


Cowok itu memberikan hukuman berupa tugas sekolah yang harus Nala kerjakan malam itu juga.


"PR lo ada berapa?" tanya Aksara memandang gerak gerik Nala yang kini tengah menggeledah lemarinya, mencari buku sekolah.


"Dikit,"


"Apa aja?"


"Matematika wajib, sejarah minat, bahasa Indonesia sama bahasa Inggris." Nala menyebutkan beberapa tugas sekolahnya minggu ini.


"Dan itu yang lo maksud sedikit?" Aksara menghela napas panjang, bagaimana bisa Nala mengatakan tugas sebanyak itu sedikit.


"Ambil semua tugasnya, bawa ke ruang tamu. Kerjain di sana," perintah Aksara membuat Nala terkejut, ia memandang Aksara dengan tatapan kesal. Jangan bilang kalau hari itu juga ia harus mengerjakan tugas.


"Sekarang," kata Aksara lagi.


"S-se-sekarang?"


Aksara hanya mengangguk singkat. Cowok itu perlahan beranjak dari tempatnya, berlalu meninggalkan Nala yang dilanda kesal.


Kini Aksara menatap lekat Nala. Gadis itu nampak serius mengerjakan tugas, meski tak jarang ia bermain ponsel. Melihat Nala yang kebingungan membuat Aksara mengernyit namun mendekatinya.


"Ada yang gak lo bisa?" tanya Aksara. Tahu-tahu ia sudah duduk di sebelah Nala. Melihat itu membuat Nala menghela napas, ia mulai menunjuk ke beberapa soal yang tak ia pahami.


"Ini, ini, ini, sama ini."


Secara perlahan Aksara menjelaskan, ia juga memberikan beberapa cara cepat agar bisa Nala gunakan.


Dengan seksama Nala mendengarkan penjelasan Aksara meski beberapa kali ia tak fokus. Sampai akhirnya seluruh tugas malam itu terselesaikan.

__ADS_1


...


"Hai guys, good pagi!" teriakan cempreng milik Natasnya terdengar menggema di kelas.


Seira dan Agathis yang pagi itu tengah mengobrol di meja jadi mengalihkan pandangannya sejenak ke aeah pintu. Natasya, baru saja tiba, dan kini mulai mendekati keduanya.


"Aga, tugas sejarah minat lo udah selesai belum?" tanya Natasya, pagi-pagi buta ia sudah menayakan tugas, apalagi kalau bukan menyalin jawaban.


"Udah, ada di tas." Agathis menjawab lalu menunjuk tas ranselnya berwarna hijau tua, tepat di belakang tempat duduk Natasya.


"Tau aja apa yang gue mau. Gue liat ya!" ujarnya dan Agathis mengangguk.


"Ngomong-ngomong. Hari ini Nala beneran masuk kan?" tanya Natasya memastikan sambil terus menyalin jawaban Agathis di buku tulisnya.


Seira melirik sekilas lalu mengangguk, "Bilangnya sih iya. Cuma gak tau lagi," ujarnya.


"Kalau dipikir-pikir udah lama juga Nala gak masuk. Hampir satu minggu," kata Seira lagi.


"Nah kan, apa gue bilang. Waktu mau kita jenguk Nala selalu nolak. Alasannya dia gak papa," ujar Natasya.


Terhitung hampir satu minggu Nala tak masuk sekolah. Karena sakit yang tiba-tiba menyerangnya dan membuat Nala harus berada di rumah dalam waktu yang lama.


Tapi Nala menolaknya dengan berbagai alasan, dan alasan terakhir ia mebgatakan bahwa dirinya sudah baik-baik saja. Jadi mereka bertiga tak perlu datang menjenguk.


"Selamat pagi semuanya!" sapaan dari Bu Yulisa berhasil membuat anak-anak kompak kembali ke tempat duduk masing-masing.


Begitu juga dengan Natasya, ia langsung menutup buku tugasnya dan menyimpannya ke dalam kolong meja.


"Silakan buka buku sejarah kalian masing-masing. Kita lanjut materi sebelumnya," perintah Bu Yulisa menaruh laptop serta buku paketnya ke atas meja guru. Guru muda itu mulai membuka pembelajaran.


"Seperti yang kita tau bahwa sekarang ini...." bunyi ketukan pintu terdengar, membuat Bu Yusila yang paginutu intin menerangkan materi jadi terhenti. Tatapan seluruh penghuni kelas kini tak lagi menatap ke depan, semuanya melirik ke arah pintu.


"Silakan masuk!"


Seseorang di balik pintu perlahan mulai menampakkan dirinya. Nala, gadus utu baru saja tiba di sekolah. Terlihat dari pakaiannya, serta jaket coklat membalut seragamnya. Bu Yulisa pun akhirnya memberikan izin Nala untuk duduk di bangkunya tanpa bertanya apapun.


"Akhirnya lo masuk juga. Gue kira hari ini bakal gak masuk lagi," ujar Natasya.

__ADS_1


Nala hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan Natasya. Ia memilih diam, dan duduk di bangkunya.


"Nanti kalau lo butuh apa-apa. Langsung bilang aja ke gue, atau mereka berdua." Seura menunjuk Natasya dan Agathis bergantian. "Kita bertiga bakal bantuin lo nanti," katanya membuat Natasya dan Agathis setuju.


"Thanks. Tapi gue gak papa," balas Nala.


...


..."Panggilan kepada Kevin Dirgantara kelas Bahasa 6 dimohon ke ruang guru sekarang juga."...


Panggilan keras dari speaker terdengar menggema di kelas. Di jam pelajaran setelah istirahat usai, kelas Bahasa 6 tengah mengadakan ulangan harian.


Suasana kelas yang awalnya sunyi kini berubah bising. Kepergian Dirga menjadi perbincangan anak-anak. Setelah sekian lama, nama Dirga kembali terpanggil, entah masalah tawuran dengan anak sekolah sebelah, sampai melanggar peraturann sekolah.


"Sudah! Sudah! Ayo fokus kerjakan ulangan kalian," kata Bu Anjar menghentikan keramaian.


Seketika, kebisingan dalam kelas kembali menjadi sunyi. Tak ada yang membuka suara lagi, semuanya fokus pada lembar jawaban masing-masing.


"Selesaikan ulangan kalian. Ibu keluar sebentar. Jangan ada yang menyontek," ujar Bu Anjar mengemasi barang-barangnya dan pergi menyusul Dirga.


Setelah kepergian Bu Anjar tak terlihat, suasana dalam kelas masih tetap sama. Tak ada yang membuka suara. Semuanya diam terhanyut pikiran masing-masing.


Sampai suara Evan, ketua kelas terdengar. Pemuda bertubuh tinggi itu perlahan bangkit dari duduknya sambil membawa kertas jawaban.


"Yang udah selesai, bisa kasih ke gue."


Mulai dari Agathis, gadis itu menyerahkan lembar jawabannya lebih dulu dibanding anak-anak kelas lainnya kepada Evan.


"Masa tadi waktu gue balik dari kamar mandi, banyak kelas yang gak ada gurunya. Ada sih, cuma gak banyak cuma beberapa doang yang ada." Luna, cewek berambut ikal dengan kaca mata bundar berwarna pink membuka suara. Ucapannya barusan tentu membuat anak-anak kelas jadi penasaran.


"Maksud lo gimana Lun?" tanya Natasya, tak paham dengan apa yang Luna katakan.


"Hampir semua kelas dibawah gak ada yang jaga. Kayaknya emang lagi ada rapat," jelas Luna.


Natasya yang paham pun hanya mengangguk kecil, ia lalu mengalihkan arah Evan yang kini mulai mengambil satu persatu lembar jawaban. Pelajaran Bu Anjar sudah berakhir, jadi selesai tak selesai harus dikumpulkan.


"Tapi anehnya, waktu gak sengaja lewat ruang rapat. Kenapa semua guru dan anak-anak OSIS ada di sana?"

__ADS_1


Keheranan Luna samar-sanar terdengar Nala yang dari tadi tengah mengistirahatkan diri dengan tas sebagai bantalan.


Gadis itu mulai mengalihkan pandangan pada Luna, mendengar- lebih tepatnya menguping pembicaran cewek berambut ikal bersama teman-temannya.


__ADS_2