
Aksara baru saja tiba di sekolah. Ia buru-buru turun dari mobilnya untuk segera pergi ke ruang OSIS. Ketika ingin berbalik, langkahnya terhenti.
Di sebrangnya tepat baru saja terparkir motor matic dan pemilik dari motor tersebut mulai melepas helmnya. Keduanya sempat melempar tatapan sebelum suara cempreng itu mengaketkan Aksara.
"Kenapa malah diem sih. Nih helmnya!" Nala mendengus kesal lantaran sedari tadi ia sudah mengulurkan tangannya untuk mengembalikkan helm Dirga, tapi yang cowok itu lakukan hanya diam.
"Sabar kali, gak ada terima kasihnya lo!" sindir Dirga menerima, lalu menaruhnya ke kaca spion.
Nala hanya memutar bola matanya malas. Ia memutuskan pergi setelah mendengar peringatan bahwa bell masuk akan dibunyikan.
"Makasih, lain kali kalau mau jemput gue kabarin bukan langsung di depan rumah gue!" ujar Nala mengigatkan.
Karena sebelumnya Dirga datang ke rumahnya tanpa memberitahu Nala, tahu-tahu cowok itu sudah berada di depan rumahnya.
Dirga bergumam pelan sambil turun dari motornya, Dirga pergi lebih dulu. Sementara Nala terus menatap kepergiannya dengan wajah kesal.
"Dasi lo ke mana?" tanya seseorang di balik punggung Nala. Membuatnya berbalik badan dan menemukan Aksara, pemuda itu terus menatapnya.
Nala menunduk sesaat memandang seragam putih abu-abu yang sekarang ia gunakan.
Tak menggunakan dasi, bahkan sabuk yang dia pakai bukan sabuk sekolah, melainkan sabuk fashion.
__ADS_1
"Ketinggalan. Tadi buru-buru," jawab Nala seadanya.
Karena tak ingin membahasnya lebih lanjut, cewek itu memilih pergi meninggalkan lapangan untuk segera masuk ke dalam kelas.
Aksara hanya dapat geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Nala. Melihat itu membuat Nala memicingkan matanya, namun memilih tak peduli. Tak ingin ambil pusing ia pun meninggalkan Aksara.
...
Sudah tiga puluh menit Nala berada di sana. Entah berapa lama lagi ia duduk diam dengan posisi yang sama.
Jujur saja, rasanya Nala ingin berteriak dan mengatakan bahwa ia ingin keluar dari ruangan tersebut.
"Kalau kamu terus melanggar peraturan sekolah terus seperti ini. Kita sebagai Bapak Ibu guru tidak akan segan-segan memberikan skors untuk kamu," ujar wanita paru baya yang duduk di hadapan Nala, panggil saja Bu Sumiyati.
"Kalau dikasih tau itu di jawab, bukannya malah diam!" sindir seseorang di sebelah tubuh Nala. Sindiran itu memang tak keras hanya sebuah gumaman kecil namun dapat Nala dengar jelas.
"Ribet banget sih," decak Nala dalam hati.
Perlahan Nala mengubah posisi duduknya. Ia mulai menatap Bu Sumiyati, dengan kedua tangan saling bertautan di atas rok seragam.
"Sekarang, hukuman apa yang mau Ibu kasih ke saya?" tanya Nala. Sebisa mungkin dia mencoba untuk berkata sopan. Tanpa alasannya ia berkata demikian, hanya satu alasannya. Nala ingin cepat-cepat pergi dari ruangan ini.
Bu Sumiyati tersenyum simpul mendengarnya. Guru itu lantas berdiri dari duduknya lalu melangkah mendekati lemari kayu yang ada di ujung ruang.
__ADS_1
Tak lama, guru itu kembali menghadapi Nala sambil membawa map coklat berurukran sedang serta kertas putih yang Nala tau apa isi di dalamnya terlipat rapi.
"Ini, hukuman pertama dan terakhir kamu." Bu Sumiyati memasukkan kertas putih yang sudah terlipat rapi itu ke dalam map, setelah itu menyerahkannya pada Nala.
Nala memadang uluran tangan gurunya. Sebelum menerimanya dan berdiri.
"Baik Bu, terima kasih!" ujar Nala melangkah pergi meninggalkan ruangan.
Setibanya Nala di luar. Bukannya menyimpan kertas tersebut dan memberikannya pada Zora, Nala malah merobeknya, lalu membuangnya ke dalam tong sampah.
Seperti tak melakukan kesalahan apapun, Nala kembali melajukan langkahnya.
Perempuan itu memilih masuk ke dalam kelas, meski dia tau bahwa dirinya terlambat.
Setelah upacara bendera selesai. Nala langsung ditarik oleh beberapa anggota OSIS menuju ke ruang BK.
"Dari mana kamu?" tanya guru pengajar yang saat itu mengajar di kelas.
Nala telah berada di dalam kelas setelah tadi diberi izin masuk. Ketika ia ingin melangkah pada bangkunya, pertanyaan dari guru pengajar membuatnya mengurungkan niat. Nala berbalik badan, dengan wajah santainya ia membalas pertanyaan itu.
"Dari ruang BK," jawab Nala tanpa ragu-ragu.
Guru pengajar pagi itu hanya dapat menghela napas pasrah. Sebenarnya dia sudah tau ke mana perginya Nala.
__ADS_1
"Ya sudah, duduk di meja kamu. Dan kerjakan soal ulangan ini," ujar guru tersebut seraya memberikan Nala lembaran kertas berisikan soal ulangan.