Aksana

Aksana
10. AKSANA


__ADS_3


Bel bunyi sekolah telah berbunyi. Sunyi di siang hari yang panas seketika berubah menjadi ramai dan bising.


Derap langkah larian anak-anak mulai terdengar sayup di sepasang telinga cewek yang sedang tertidur lelap di mejanya.


Membuatnya jadi mulai membuka mata, dan melihat ketiga temannya sudah berkemas. Memasukkan barang bawaan mereka ke dalam tas.


Dalam keadaan setengah sadarnya itu dia mengusap kedua mata, sambil menguap dia mencoba untuk menyadarkan diri dan berusaha untuk mengumpulkan nyawa.


Menyadari bahwa ketiga temannya sudah meransel tas mereka masing-masing ia pun menatap sekitar.


Kosong


Tak ada orang sama sekali, kecuali mereka berempat.


Di luar kelas pun dia tak dapat melihat anak-anak dari kelas lainnya yang berkeliaran.


Bahkan, materi yang sebelumnya tertulis di papan tulis sudah hilang. Entah kapan tulisan itu di hapus.


"Sampe kapan lo ngelamun di sana, Nala? Buruan kemasin barang lo. Kita balik sekarang!"


Suara cempreng nan berisik milik Natasya terdengar menggema di ruang kelas yang siang itu sudah tak ada orang.


Lampu di dalam pun sudah dimatikan oleh Sera. Jendela kelas yang biasanya terbuka juga sudah ditutup oleh Agathis.


Kini, ketiga perempuan cantik itu berada di daun pintu sambil menatap Nala yang sekarang ikutan berkemas.


Nyawanya memang belum sepenuhnya penuh, tapi karena mendengar panggilan cempreng Natasya yang memekikkan telinga membuatnya mau tak mau jadi mengemasi satu persatu barang di atas meja dan menyimpannya ke dalam tas.


"Iya, iya, sabar."


Setelah tak melihat barangnya di atas meja. Nala merapikan anak rambutnya yang berantakan menggunakan karet putih, dengan gantungan cherry kecil di atasnya.


Sesaat tangannya terangkat untuk mengambil karet dari dalam saku seragam. Gerakan tangannya terhenti begitu menyadari bahwa tak ada apa-apa di atas rambutnya.


Nala mulai meraba kepala dan tak menemukan apa-apa di sana. Matanya yang mengantuk itupun jadi terbuka lebar. Dengan rasa takut Nala menggeledah kembali isi tas ransel.


"Jepit gue ke mana?!"


Sera, Agathis dan Natasya yang masih setia berdiri di luar pun dibuat saling pandang satu sama lain. Ketiganya dibuat bingung melihat salah satu sahabatnya itu kini kembali menggeluarkan barang-barangnya dari dalam tas.


"Nal, kenapa?" tanya Agathis dari luar.

__ADS_1


"Barang gue ilang. Kalian liat gak?" tanya balik Nala masih sibuk mencari barangnya dari dalam tas. Tak hanya itu, Nala juga mebcari barangnya yang hilang dari setiap saku seragam yang dia gunakan hari itu.


"Ilang, emang barang apaan yang hilang?" tanya Sera kembali berbalik arah masuk ke dalam kelas dan menghampiri Nala. Bersama dengan Agathis dan Natasya, ketiganya ikutan membantu Nala mencarikan barang Nala yang hilang.


"Jepit gue ilang," kata Nala.


"Udah di cek baik-baik belum? Di tas mungkin, lo lupa taruh." Agathis berkata sambil mengecek setiap kolong meja. Mereka bertiga juga sudah berkeliling dan mencari di setiap sudut kelas tapi benda itu tak ada juga.


"Siapa sih yang buang sampah sembarangan. Jelas-jelas di depan udah di sediain sampah kok masih buang sampah sembarangan," oceh Natasya kesal. Bukan menemukan jepit Nala, dia malah menemukan tumpukan sampah dari salah satu kolong meja.


"Kayak gak tau kelakuan anak kelas lo. Buang aja Nat," ujar Agathis membuat Natasya berjalan ke depan menuju tempat sampah kotak dekat pintu masuk.


"Pantes aja Bu Sekar marah-marah. Muridnya aja kayak gini," gumam Natasya yang masih saja mengomel lalu membuang tumpukan sampah itu ke dalam tong sampah.


"Mending kita pulang aja deh Nal. Ini udah mau jam 3 sore sampe kapan kita terus ada disini. Gue udah ngantuk. Nanti kita beli yang baru aja," ujar Natasya pada Nala. Nala menoleh padanya dengan raut wajah kesal.


"Lo gak tau seberapa berharganya benda itu buat gue Natasya!" seketika suara teriakan Nala menggelegar di kelas, yang mampu membuat ketiganya terkejut.


Setelahnya Nala meransel tasnya kemudian berlalu pergi meninggalkan kelas juga ketiga sahabatnya. Mereka masih terkejut sekaligus tak percaya.


Untuk pertama kalinya mereka melihat Nala yang marah seperti itu. Hampir 1 tahun mereka berteman jarang sekali Nala menunjukkan emosi dan marahnya seperti ini, kecuali jika dengan Evelyn maka lain cerita.


"Tuh kan. Nala marah. Lo sih," tunjuk Sera.


"Udah telat, orangnya udah pergi lo baru teriak." Agathis menggeleng pelan.


"Kita tunggu disini aja. Nanti kalau gak balik-balik terpaksa kita susul dia," usul Agathis dengan bijak.


Nala terus berjalan. Sama sskali tak mengubris teriakan Natasya tadi, dia dengar teriakan temannya itu tapi sekarang yang harus Nala lakukan adalah mencari jepit nya agar bisa secepatnya pulang ke rumah.


"Gue mohon, semoga ketemu." Tak henti-hentinya Nala berdoa dalam hati.


Sesampainya di dalam kamar mandi, tanpa melepas sepatunya Nala masuk begitu saja. Di dalam sangat sepi, tak ada orang, hanya ada Nala dan cahaya lampu temaran dengan sinar cahaya dari luar.


Semua tempat sudah Nala jelajahi. Setiap bilik kamar mandi juga sudah dia buka tapi hasilnya masih tetap sama, jepitnya itu belum ketemu.


"Ceroboh banget sih Nala," ia terus menyalahi dirinya. Karena kecerobohannya itu jepit yang selama ini dia jaga dengan hati-hati jadi hilang.


Nala menatap dirinya dari pantulan kaca wastafel sambil menghela napas panjang. Cukup lama dia terdiam di sana, sampai Nala memutuskan pergi meninggalkan tempatnya dengan berat hati.


"NALAA!!"


Nala terpaksa menghentikan langkahnya begitu namanya terpanggil. Cewek itu berbalik badan dan melihat Dirga berjalan menujunya dengan sedikit berlari.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Nala menatap Dira yang sudah berdiri di hadapannya.


"Lo nangis," sambil memicingkan matanya Dirga memajukan tubuhnya sedikit ke depan. Melihat wajah Nala, tepatnya kedua bola mata Nala yang berlinang air.


"Apaan sih, siapa juga yang nangis." Nala mengelak, membuang wajahnya ke arah lain.


Dirga mengangguk kecil dan memilih tak melanjutkannya. "Oke, sorry."


"Lo ngapain panggil gue," tanya Nala ketus seraya menatap Dirga sekilas.


"Gue cuma mau kasih ini ke lo." Dirga merogoh sakunya dan mengeluarkan jepit berwarna putih dengan hiasan bunga matahari di atasnya.


Nala membelalakan matanya terkejut. Kenapa jepit itu bisa ada di tangan Dirga? Sejak kapan benda itu ada di Dirga? Atau jangan-jangan pelakunya adalah- Nala menggelang kecil menepis kasar pikiran buruknya.


"Kok, ada di lo?" tanya Nala kebingungan.


"Tadi gak sengaja ketemu di jalan. Mau gue buang sebelumnya. Tapi pas liat lo kebingungan di toilet dan gak sengaja dengar omongan lo di sana. Akhirnya gue bawa kesini," jelas Dirga panjang lebar. Tangannya masih setia terulur pada Nala, menyuruhnya untuk segera mengambil benda itu.


"Nih ambil, kalau gak mau gak masalah. Biar buat gue aja," canda Dirga yang langsung Nala ambil.


"T-thanks," hanya satu kata yang keluar dari mulut kecil Nala. Makasih. Meski singkat tapi tak dapat Dirga pungkiri mulutnya ikut tersenyum mengangkat senyuman tipis.


"Sama-sama."


"Ya udah, gue duluan. Bye!" Dirga melambaikan tangannya. Dan baru saja langkahnya terhitung lima langkah dari tempat, cowok itu berbalik badan. Kembali melihat Nala, membuatnya bingung.


"Apaan liat-liat. Katanya mau balik," ujar Nala masih saja ketus.


Dirga tertawa pelan. "Lo pulang sama siapa?"


"Ngapain tanya gue pulang sama siapa? Apa urusannya sama lo," tanya Nala lagi. Kali ini dengan nada yang lebih lembut, meski tetap terdengar ketus.


"Gue balik sama anak-anak. Udah ya, gue duluan. Makasih udah bawa balik jepit gue," dengan senyum yang tulus Nala berlalu meninggalkan Dirga. Kembali menyusul ketiga temannya.


Dirga hanya dapat menatap kepergian Nala sampai tak terlihat dari pandangan ia pun ikutan pergi.


"Sorry lama. Ayo balik," ajak Nala pada ketiga temannya. Melihat kedatangan Nala, mereka pun bangkit dari duduknya.


"Emm.. Nal, gue mau minta maaf ya soal tadi. Gue gak bermaksud kok," ujar Natasya sambil memainkan jarinya.


"Gak apa-apa. Harusnya gue yang minta maaf ke kalian bertiga. Sorry, tadi udah teriak ke kalian. Sekarang barangnya udah ketemu dan makasih banyak udah bantuin gue," ucap Nala tersenyum.


"Karena udah baikan. Ayo kita balik," pintah Agathis pada teman-temannya dan mereka mengangguk setuju.

__ADS_1


__ADS_2