
Nala menatap makanannya dengan malas, untuk malam ini ia merasa bahwa kehadirannya tak lagi di lihat.
Lihatlah, disaat ketiga orang itu asik mengobrol bersama dan tertawa dia hanya diam menikmati makanannya. Sampai akhirnya perempuan di samping Aksara yang beberapa menit lalu memperkenalkan dirinya membuka suara.
"Nala aku sama Nenek pamit pulang dulu ya. Makasih buat makanannya," ujar perempuan berambut coklat— Sabrina.
Melihat itu membuat Nala mengangguk. Tak dapat dipungkiri kini hatinya senang, akhirnya setelah hampir dua jam setelah kedatangannya Sabrina dan Rianna pergi.
Namun ternyata itu hanya sesaat, karena saat ini Aksara meminta Nenek serta Sabrina untuk tinggal semalan dan pulang besok pagi.
"Nenek sama Brina malam ini nginep sini aja. Diluar sebentar lagi hujan. Lo juga lusa pindah sini kan?" ucapnya lalu menatap Sabrina.
"Rencananya," Sabrina berkata pelan.
Rianna mengangguk setuju, "Ide bagus, sekalian nanti kamu lihat-lihat kawasan disini nanti kalau memang beneran cocok kamu bisa langsung tempati," ujarnya membuat Sabrina tak enak.
Sejak kepulangannya tiga hari yang lalu, Rianna maupun Elira— sang Mama selalu membelikan apapun yang tak terlalu ia butuhkan.
Sabrina meringis dalam hati, binggung harus berkata apa. "Nek, kayaknya untuk disini Brina harus pikir lagi deh. Kan Brina tinggal disini cuma bentar jadi buat tinggal Brina masih bisa tinggal sama Mama sama Oma."
"No! Mulai besok kamu harus tinggal disini karena itu sebagai hadiah kemenangan kamu kemarin. Nenek sama Mommy kamu juga sudah sepakat jadi kamu gak boleh nolak!" tegas Rianna membuat Sabrina menekuk muka.
"Nenek pulang sekarang. Untuk barang-barang kamu besok bakal Nenek kirim," ujar Rianna pada Sabrina. Wanita paru baya itu berlalu dari hadapan mereka, meninggalkan Apartemen Aksara dan Nala dengan sedikit buru buru.
Sampai bayangan Rianna tak terlihat dari pandangan Nala, gadis itu pun beranjak dari tempat duduknya.
"Nal, Brina boleh kan tidur disini? Dia bakal tidur di kamar sebelah," ujar Aksara menghentikan langkah Nala.
"Terus lo pikir dia mau tidur di mana? Bareng kita gitu?" tanya Nala setengah sinis.
"Dia bakal semalam doang disini, besok juga pulang."
"Terserah, mau besok, lusa, minggu depan juga gak masalah. Percuma juga kan gue larang?" setelah berkata demikian Nala benar-benar pergi meninggalkan meja makan.
"Sa, itu Nala benaran gak papa?" Sabrina menatap kepergian Nala yang perlahan tak terlihat oleh pandangan.
Jujur saja, setelah melihat respon Nala seperti ini membuat Sabrina semakin tak enak apalagi dari awal dirinya datang terlihatjelas gelagat Nala yang merasa tak suka atas kehadirannya di sana.
Aksara mengangguk, mengusap pundak Sabrina sejenak sebelum menyuruh perempuan itu masuk ke dalam kamar. "Udah nggak papa. Lo istirahat di kamar sebelah. Gue mau nyusul Nala dulu," ujarnya juga pergi.
Sementara itu di dalam kamar, Nala mengeluarkan sumpah serapahnya. Bagaimana tidak kesal, sejak dirinya pulang dari luar tadi Aksara sama sekali tak mengajaknya mengobrol, laki-laki itu malah mengobrol berdua serta tertawa bersama Sabrina. Melupakan kejadian sebelumnya— yang mana Aksara meneleponnya berulang kali hingga mengirimkannya puluhan pesan.
"Mentang-mentang ada Nenek tuh cowok seenak jidat ngajak orang lain kesini? Mana ngajak nginep lagi, gak mikirin perasaan gue banget jadi cowok."
__ADS_1
Nala terus mengomel, tanpa menyadari bahwa sosok yang tengah ia bicarakan saat ini berada di belakangnya.
"Bukannya gue gak pikirin perasaan lo. Gue cuma gak enak aja sama Brina, dia jauh-jauh kesini masa balik-balik sakit? Brina cuma nginep semalam aja. Besok pagi juga bakalan balik," ujar Aksara membuat Nala memutar bola mata malas.
Aksara hanya meliriknya singkat ia berlalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, namun sebelum masuk ia menanyakan sesuatu yang berhasilmembuat Nala berpikir. "Jadi, lo kesel atau cemburu sama kehadiran Brina?"
...
Untuk kesekian kalinya Nala bangun kesiangan. Sambil menatap kesal ponselnya ia bersiap-siap pergi, tak lupa mengomel karena lagi dan lagi Aksara tak membangunkannya.
"Tuh cowok nyebelin banget sih. Udah tau gue jarang bangun pagi, bukannya di bangunin juga malah ditinggal gitu—" belum sempat Nala menyelesaikan ucapannya, pintu kamar tiba-tiba terbuka dan menampilkan sosok yang dari semalam membuatnya kesal.
Aksara mengintip ke dalam, menatap Nala yang juga menatapnya balik. "Udah bangun? Buruan keluar, sarapannya udah siap. 10 menit harus udah siap," katanya lalu menutup pintu.
Mendengar itu membuat Nala sedikit mempercepat dirinya. Cewek itu lantas menyambar tas ransel juga jaket di atas meja, setelah itu menyusul Aksara yang sudah menunggunya di luar.
"Nyari siapa?" tanya Aksara pada Nala sambil menyerahkan sepiring nasi goreng.
Nala yang tertangkap basah hanya menggelengkan kepala. "Nggak ada. Sepupu lo udah balik?" tanya Nala basa-basi, mulai menyantap makanannya.
"Masih ada di dalam," jawab Aksara sembari mengikat tali sepatu.
Nala mengerutkan dahi bingung, tak lama setelahnya pintu samping kamar terbuka. Sabrina keluar dengan rambut basahnya perlahan berjalan mendekat dan duduk di hadapan Nala.
"Kalian masih disini? Aku kira udah berangkat, biasanya kan kamu berangkat lebih awal Sa?" kata Sabrina melirik jam dinding yang saat ini menunjukkan pukul 06.25 artinya masih ada waktu 10 menit untuk keduanya tiba.
"Iya itu Aksa kalau gue beda lagi," timpal Nala mengemasi piringnya dan menyusul Aksara.
"Ayo berangkat," ajak Nala berjalan keluar meninggalkan apartemen. Aksara menggeleng pelan lalu meboleh pada Sabrina dan berpamitan pergi.
"Gue sama Nala pergi dulu. Nanti kalau mau balik kabarin gue aja," ujarnya yang langsung mendapatkan acungan jempol dari Sabrina.
"Sarapannya jangan lupa di makan ada di samping kompor. Lo makan aja," tambahnya lagi.
Dengan sedikit berlari ia menghampiri Nala yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil, pada akhirnya tak ada yang membuka suara sampai mobil terhenti tepat di depan halte.
"Gue turun sini aja," katanya.
"Turun sekolahan aja. Udah hampir bel," ujar Aksara melanjutkan laju mobilnya hingga tiba di depan gerbang sekolah.
Ucapan Aksara benar, kini gerbang sekolah tertutup rapat. Padahal mereka hanya terlambat dua menit. Melihat Aksara yang kini kembali dan menyalakan mobil membuat Nala bertanya-tanya.
"Turun," kata Aksara membubarkan lamunan Nala.
Nala pun meransel tasnya dan turun dari mobil. Lapangan di pagi hari kini terlihat sepi, hanya ada beberapa guru yang berjaga untuk memastikan apakah ada murid yang terlambat atau tidak.
__ADS_1
"Kalian berdua, kesini!" perintah guru bertubuh gemuk, panggil saja Bu Jesi meminta keduanya mendekat.
Nala yang hendak masuk ke dalam kelasnya hanya bisa menghela napas begitu Aksara menatapnya. Aksara menyuruhnya untuk mendekati guru tersebut.
"Kenapa kalian terlambat?" tanya Bu Jesi begitu Nala dan Aksara sudah berdiri di hadapannya. "Lalu kamu Aksara, kenapa bisa terlambat?" tanyanya memandang Aksara.
"Maaf bu saya kesiangan," katanya berhasil membuat Nala menoleh, ia terus memandang Aksara yang berdiri tegak di sebelahnya. Cowok itu tampak tenang, tak ada raut khawatir atau bahkan takut sama sekali di wajahnya.
"Ya sudah, keliling lapangan 10 kali setelah itu kembali ke kelas. Jangan sampai curang, karena nanti akan saya periksa," tegas guru tersebut berlalu dari hadapan mereka.
Tanpa membuang waktu Aksara menaruh tasnya di pinggir lapangan dan mulai melaksanakan hukuman.
"Jangan bengong terus. Ayo lari!" pintah Aksara berhenti sejenak lalu melanjutkan larinya. Lagi-lagi Nala mendesah kasar, padahal pagi itu ia ingin mengerjakan tugasnya yang hari ini harus dikumpulkan.
Dengan malas akhirnya Nala menyusul Aksara yang sudah lebih dulu menjalankan hukuman. Meski berulang kali Nala harus berhenti karena lelah namun ia berhasil menyelesaikan hukumannya, dan kini duduk sejenak di bawah pohon sambil mengatur napas.
"Mau ke mana?" tanya Nala melihat Aksara berdiri dari tempatnya. Cowok itu hanya meliriknya sekilas lalu pergi meninggalkan lapangan begitu saja membuat Nala mengangkat bahu tak acuh.
Tak lama sebuah uluran tangan dengan menggenggam air minum berada tepat di depan wajahnya. Membuat Nala menoleh dan mendapati Aksara yang kini sudah duduk di sebelahnya kembali.
"Ambil," ujarnya. Nala mengerjap bingung lalu mengambil mengambilnya.
"Setelah ini masuk ke kelas. Jangan sampai gue liat lo berkeliaran di luar apalagi sampe bolos kelas," ujar Aksara yang lebih memberikan peringatan.
Setelahnya Aksara pergi ke meninggalkan Nala sendiri. Tak lama perempuan itu juga ikutan pergi menuju kelasnya.
...
Hai haloo kalian semua, apa kabar?
Siapa yang nungguin duo couple ini update? Update kali ini untuk nemenin kalian ya di liburan akhir tau yaa!
Btw disini udah pada liburan atau belum?
Karena habis gini mau tahun baru, aku mau buat rencana bakalan up tiap hari di sini, apalagi bentar lagi ceritanya mau tamat. Siapa yang setuju?
AYO TINGGALKAN JEJAK KALIAN DI BAWAH YAAA! MAKASIH BANYAK UDAH MAMPIR DAN MELUANGKAN WAKTUNYA~ 🙇🏻♀️💢🧚🏻♀️💌
...Aksara Devara...
...Anala Debora...
__ADS_1