Aku Janda Kamu Duda

Aku Janda Kamu Duda
MINTA APA?


__ADS_3

"Om Robert baik hati! Om mau nggak, jadi papanya Angga?"


Robert diam sejenak setelah mendengar bisikan Angga yang memintanya jadi papa.


"Angga bisik-bisik apa ke Om Robert?" Tegur Sita karena melihat Robert yang sepertinya melamun setelah Angga membisikkan sesuatu ke telinga pria itu.


"Angga cuma minta Om Robert jadi papanya Angga, Ma! Angga kan juga mau punya papa seperti Fairel atau Timmy," jawab Angga jujur yang langsung membuat hati Sita kembali mencelos.


Robert mengusap lembut kepala Angga dan mengulas senyum.


"Nanti Om tanya ke mama dulu, ya! Apa Om boleh jadi papanya Angga atau tidak," ujar Robert yang lanjut mengajak Angga untuk tos. Angga mengangguk dan segera membalas tos tangan Robert. Lalu bocah enam tahun itu ganti menghampiri Sita.


"Ma! Om Robert boleh jadi papanya Angga, kan?" Tanya Angga polos pada Sita yang hanya terdiam. Sita menatap sekilas pada Robert yang ternyata juga tengah menatapnya.


"Boleh, ya, Ma!" Rengek Angga lagi.


"Mama berangkat kerja dulu. Yang itu kita bicarakan nanti," jawab Sita akhirnya seraya berjongkok dan mengusap kepala Angga seperti yang tadi dilakukan oleh Robert.


Setelah berpamitan sekali lagi, Sita akhirnya berangkat bersama dengan Robert yang hendak kembali ke kantor Halley Development.


"Aku akan naik angkot saja," ucap Sita tiba-tiba saat mereka sudah sampai di depan rumah sakit dan Robert hendak mengambil mobilnya.


"Kenapa? Bukankah tadi kau sudah bilang setuju berangkat bersamaku?" Tanya Robert bingung.


"Aku tak mau merepotkan!" Jawab Sita seraya menggigit bibir bawahnya dan mencengkeram tali tas selempang yang menyilang di depan dadanya.


Robert tertawa kecil.

__ADS_1


"Sama sekali tak merepotkan, Sita!"


"Ayo!" Robert sudah merangkul pinggang Sita dan wanita itu refleks berjenggit karena kaget.


"Maaf!" Robert sedikitpun salah tingkah.


"Ayo aku antar dan itu sama sekali tak merepotkan," ajak Robert sekali lagi dengan nada bicara yang terdengar bersungguh-sungguh. Robert bahkan sudah membukakan pintu mobilnya untuk Sita.


Sita hanya menghela nafas dan akhirnya wanita itu masuk ke dalam mobil Robert.


"Kau bekerja di swalayan mana?" Tanya Robert setelah pria itu menyusul masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi.


"Yellowmart," Sita menunjukkan logo swalayan di seragamnya pada Robert.


"Yang di dekat Halley Development itu?" Tanya Robery lagi seraya tertawa kecil. Entah kenapa bisa sangat kebetulan begini.


"Iya, yang itu," jawab Sita yang hanya menatap lurus ke depan.


"Aku tidak tahu kalau kantormu di Halley Development," jawab Sita mencari alasan.


"Tapi sekarang sudah tahu, kan?" Robert menoleh sekilas ke arah Sita sebelum kemudian pria itu kembali fokus pada jalan di depannya.


"Papanya Angga sudah lama meninggal?" Tanya Robert selanjutnya memecah kebisuan di antara dirinya dan Sita. Robert tidak tahu kalau Sita ternyata wanita yang pendiam dan irit bicara. Kalau tidak ditanya ya tidak bicara.


"Aku tidak tahu." Jawab Sita yang sepertinya enggan membahas tentang papanya Angga. Seperti ada rasa sakit yang sedang Sita tahan sekarang


"Dia masih hidup?" Tebak Robert selanjutnya yang langsung membuat Sita memalingkan wajahnya ke jendela samping.

__ADS_1


"Bagiku dia sudah mati." Jawab Sita dengan nada ketus. Robert langsung bungkam dan memilih untuk tak melanjutkan pembahasan perihal papa kandung Angga. Sepertinya Sita tengah menendam luka yang teramat dalam dan Robert tak mau mengusiknya.


Mobil Robert sudah berbelok ke Yellowmart dimana Sita bekerja sekarang.


"Terima kasih karena sudah repot-repot mengantarku," ucap Sita seraya melepaskan sabuk pengamannya.


"Sama sekali tidak repot!" Robert mengulas senyum seramah mungkin.


"Kau pulang jam berapa? Nanti biar aku jemput," lanjut Robert bertanya pada Sita.


"Tidak usah! Aku akan pulang naik angkot saja! Terima kasih sekali lagi karena sudah mengantarku, Robert! Selamat siang!" Pungkas Sita yang sudah membuka pintu mobil Robert, lalu turun dengan cepat.


Robert hanya menghela nafas dan menatap pada punggung Sita hingga wanita itu menghilang ke dalam swalayan. Saat itulah, ponsel Robert berdering dan seperti biasa, Liam menelepon.


"Halo!"


"Kau kemana? Jam makan siang sudah selesai!"


"Iya aku ke kantor sebentar lagi." Jawab Robert seraya berdecak.


"Jangan bilang kau menemui teman kencanmu lagi--" Robert mematikan begitu saja telepon dari Liam karena bosnya itu mulai membahas hal-hal ngawur. Setelah menyimpan ponselnya, Robert lanjut menyalakan mesin mobil dan segera melincur menuju ke Halley Development yang jaraknya hanya beberapa gedung dari Yellowmart. Liam pasti akan mengomel hebat karena Robert mematikan telepon saat bosnya itu belum selesai bicara tadi.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2